Wali Songo: Biografi, Nama Asli, Peran, Letak Makam

Wali songo – Indonesia adalah salah satu negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Sejarah berkembangnya agama Islam di Indonesia juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Islam yang hebat. Salah satu kelompok tokoh Islam yang terkenal adalah Walisongo.

Pada abad ke 14 wali songo mulai terkenal dan menjadi kelompok penyebaran Islam terbesar di Jawa. Seperti namanya, tokoh agama yang ada dalam walisongo ada 9 orang, setiap wali memiliki cara tersendiri untuk menyebarkan agama Islam.

Para walisongo tinggal di tiga wilayah yang cukup berpengaruh di Pulau Jawa, daerah Jawa Timur yaitu di daerah Surabaya, Gresik, Tuban, dan Lamongan. Sedangkan daerah Jawa Tengah adalah Demak, Kudus dan Muria, di Jawa Barat yaitu di daerah Cirebon.

Visi dan misi walisongo adalah sama meskipun dalam jihadnya ke-9 wali tersebut tidak berjalan secara berdampingan. Visi misinya yaitu untuk mendakwahkan agama Islam di seluruh Nusantara dengan mengajak seluruh masyarakat untuk masuk Islam namun dengan catatan ketika masuk Islam tidak ada paksaan sama sekali.

Walisongo memiliki wilayah masing-masing untuk berdakwah dan beberapa peninggalan yang sekarang ada di wilayahnya menjadi sebuah bukti akan peran memperjuangkan agama di zaman nya. Bagi para umat Islam, nama-nama para walisongo pasti sudah tidak asing lagi di telinga.

Diantara nya adalah Sunan Kalijaga, Sunan Derajat, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati. Ke-sembilan sunan tersebut tidak pernah hidup secara bersamaan namun saling berhubungan erat sebagaimana hubungan guru dan murid.

Namun, sebenarnya kesembilan wali yang sering kita kenal tersebut bukanlah nama aslinya melainkan nama panggilan saja. Lalu, siapakah nama aslinya?

Nama-nama Asli Walisongo

Nama-nama Asli Walisongo
rahayuefendikarina.blogspot.com

Meskipun masyarakat mengenal nama walisongo dengan panggilan diatas, namun nama asli dari walisongo bukanlah itu, agar kita mengetahui dengan lebih jelas mengenai biografi walisongo berikut adalah beberapa nama walisongo yang asli dan beberapa biografi yang perlu untuk kita ketahui!

  • Sunan Gresik (Sunan Maulana Malik Ibrahim / Asmaraqandi)

Sunan Gresik (Sunan Maulana Malik Ibrahim / Asmaraqandi)
takwilsantri.blogspot.com

Dikenal dengan Sunan Gresik, nama Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh walisongo yang lahir di daerah Campa (Kamboja). Ayah beliau adalah ulama besar di Maghrib yang bernama Barakat Zainul Alam. Kemudian hijrah ke daerah Jawa dan menyebarkan Islam di daerah Gresik.

Disana Maulana Malik Ibrahim dipanggil dengan sebutan Asmaraqandi. Perlu kita ketahui bahwa beliau adalah orang pertama yang menyebar luaskan agama Islam di Jawa, kemudian disusul oleh beberapa sahabat yang ikut berjuang menyebarkan agama Islam di Pulau jawa. 

Namun Sunan Maulana Malik Ibrahim ketika masuk ke Indonesia tidak langsung masuk ke jawa, beliau mencari ilmu dulu di Champa selama kurang lebih 13 tahun.

Kemudian menikahi putri raja dan diberi 2 keturunan, kedua-duanya menjadi tokoh Islam pula yaitu Raden Rahmat yang dikenal sebagai Sunan Ampel dan Rasyid Ali Murtadha yang dikenal sebagai Raden Santri. Setelah itu barulah Sunan Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Gresik dan tinggal di daerah Laren. 

Setelah menginjak tanah Jawa, yang pertama kali didakwahkan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim adalah Islamisasi Jawa, membuka sebuah warung dengan harga yang murah, menjadi tabib untuk masyarakat secara gratis, bercocok tanam dan lain sebagainya.

Kebaikan Sunan Maulana Malik Ibrahim pada saat itu mampu menarik perhatian masyarakat sehingga lambat laun masyarakat daerah Laren banyak yang masuk agama Islam.

Masyarakat yang di rangkul oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim adalah mereka yang disisihkan oleh komunitas Hindu, Sunan Maulana mengajak masyarakat tersebut  untuk berdagang dan memperlihatkan keindahan yang ada pada agama Islam. 

Sunan Maulana Malik Ibrahim juga menjalin silaturahim kepada kerajaan Majapahit di Trowulan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Meskipun raja bukan orang Islam, tapi berkat keramah tamahannya Raja Majapahit menerima kedatangan Sunan Maulana Malik Ibrahim dengan baik.

Berbagai kebaikan yang dilakukan oleh Sunan Maulana Malik Ibrahim ternyata sangat berpengaruh terhadap perkembangan Islam di Jawa, sampai sekarang jasa beliau tetap dikenang dan di lestarikan oleh umat Islam di Jawa.

  • Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel (Raden Rahmat)
www.romadecade.org

Sunan yang berjuang di daerah Surabaya adalah Sunan Ampel. Nama aslinya adalah Raden Rahmat. Benar, Raden Rahmat adalah putra dari Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Asmaraqandi yang dianggap sebagai wali sesepuh para wali lainnya. Sunan Ampel berjuang di daerah Surabaya tepatnya di desa Ampel, Denta, Surabaya.

Setelah Ayahnya, Raden Rahmat menjadi tokoh yang menyebarkan agama Islam tertua di daerah jawa. Istri dari Raden Rahmat adalah wanita terhormat yang bernama Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila. Raden Rahmat memiliki istri kedua yang bernama Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning.

Pernikahan dengan kedua putri tersebut memberikan keturunan yang cukup banyak. Dari Dewi Condrowati terlahir putra-putri yang bernama Raden Makhdum Ibrahim atau biasa dikenal sebagai Sunan Bonang, Siti Syari’ah, Siti Muthma’innah Raden Qasim atau Sunan Derajat, Sunan Sedayu, dan Siti Hafsah.

Sedangkan putra-putri dari istri kedua yaitu Dewi Karimah adalah Dewi Murtasimah (istri Raden Fatah), Dewi Murtasiyah (istri Sunan Giri), Raden Hasanuddin (seorang Sunan Lamongan), Pangeran Tumapel, Raden Zaenal  Abidin, dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2).

Raden Rahmat berdakwah di Jawa sekitar tahun 1443. Dakwah yang diberikan oleh Raden Rahmat kepada masyarakat dikenal dengan sebutan Moh Limo. Apa itu Moh Limo? Artinya adalah 5 hal yang terlarang, yaitu Moh Main (tidak bermain judi dan sejenisnya), Moh Mabok (tidak minum minuman keras), Moh Madat (tidak mau mencuri barang orang lain), Moh Maling (tidak mau mencuri, korupsi, dan sejenisnya), Moh Madon (tidak mau berzina, tidak homo, dan tidak lasbi).

Moh Limo ternyata menjadi ajaran yang sampai sekarang dianut oleh umat Islam, di makam Raden Rahmat juga tertulis kata Moh Limo agar peziaroh dan umat Islam selalu ingat pesan Raden Rahmat.

Di akhir hayatnya, Raden Rahmat  mendirikan sebuah masjid yang Agung di daerah Demak, dan sekarang masjid tersebut menjadi masjid terbesar di Demak. Setelah wafat masjid Demak di lanjutkan oleh Raden Zaenal Abidin yang dikenal sebagai Sunan Demak.

  • Sunan Derajat (Raden Qasim)

Sunan Derajat (Raden Qasim)
ceritadanbiografi.blogspot.com

Sunan Derajat merupakan seorang yang lahir dari keluarga tersohor pada zamannya yaitu putra dari Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila. Raden Qasim adalah seorang tokoh agama yang memiliki kecerdasan tinggi, mampu menyebarkan ajaran agama Islam dengan menyeluruh khususnya di daerah Paciran, Lamongan.

Sebenarnya Raden Qasim diperintah oleh Ayahnya untuk berdakwah di daerah Gresik, namun karena menetapnya di Lamongan beliau juga berdakwah di Lamongan. Namun karena daerah Lamongan bukan wilayah Raden Qasim, beliau meminta izin kepada Sunan Bonang untuk menempati daerah Lamongan.

Tidak hanya diizinkan, Sunan Bonang juga memberikan tanah untuk tempat tinggal Raden Qasim. Jiwa sosial yang tinggi, penyayang, dan perhatian membuat Raden Qasim menjadi seorang tokoh yang disukai oleh masyarakat, terlebih lagi beliau selalu mengutamakan kesejahteraan sosial seluruh masyarakat.

Ternyata perhatian penuh yang diberikan oleh Raden Qasim adalah sebuah strategi untuk mengambil hati seluruh rakyat. Jika rakyat sudah nyaman dengan Raden Qasim barulah beliau memberikan dakwah seputar ajaran Islam yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Cara yang dipilih oleh beliau pun adalah ajaran luhur dan tradisional lokal. Dengan demikian masyarakat bisa mengikuti ajaran beliau dengan lebih mudah meskipun tidak semua orang mau mengikuti dakwahnya.

  • Sunan Bonang ( Raden Maulana Makhdum Ibrahim) 

Sunan Bonang ( Raden Maulana Makhdum Ibrahim) 
kumparan.com

Nama asli dari Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Beliau adalah saudara dari Sunan Derajat karena sama-sama putra dari Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Nama “Bonang” diambil menjadi nama panggilan Raden Maulana karena beliau berdakwah di daerah Bonang yaitu Kabupaten Rembang.

Karena wilayahnya itu beliau menjadi dipanggil Sunan Bonang. Pada masa akhirnya Sunan Bonang berjuang di daerah Tuban. Cara dakwahnya pun menyesuaikan kebiasaan dari masyarakat yaitu sesuatu yang berbau kesenian.

Sesuatu yang disukai oleh masyarakat Tuban adalah sebuah hiburan yang menggunakan alat musik, sehingga Raden Maulana juga berdakwah menggunakan alat musik tradisional seperti gamelan, wayang, suluk, dan tembang tamsil. 

Semua yang dilakukan Raden Maulana tidak lain hanyalah ingin dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat Tuban. Dengan keberaniannya berdakwah menggunakan tembang-tembang Jawa atau kesenian, Sunan Bonang mampu diterima masyarakat dan banyak orang yang masuk Islam tanpa paksaan yang membuat beliau lebih beriman kepada Allah. Beberapa tembang yang sampai saat ini dipakai oleh umat Islam adalah tembang “Tombo Ati.”

  • Sunan Giri (Raden Paku)

Sunan Giri (Raden Paku)
www.brilio.net

Berbeda dengan Sunan yang lain, Sunan Giri memiliki cerita sedikit menyesakkan dada. Beliau memiliki nama asli Raden Paku. Sejarah dari nama tersebut adalah ketika lahir beliau bukanlah anak yang diharapkan oleh keluarganya, beliau dianggap sebagai sebuah kutukan oleh Ayahnya yang bernama Maulana Ishaq.

Beliau merupakan putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu, Dewi Sekardadu sendiri adalah anak turun dari Menak Sembuyu yaitu seorang penguasa di daerah Balambangan di akhir kerajaan Majapahit. Karena tidak diharapkan Raden Paku dibuang dan dihanyutkan di laut, namun di temu oleh seorang ibu yang baik dan mengangkatnya menjadi seorang anak.

Ibu angkat Raden Paku membawa beliau untuk belajar agama pada Raden Rahmat (Sunan Ampel) sejak beliau remaja. Karena sebenarnya Sunan  Giri adalah keturunan dari bangsawan maka setelah dewasa Sunan Ampel mengirimkan Sunan Giri bersama dengan Sunan Bonang pergi ke wilayah Pasai untuk menimba ilmu.

Sedikit berbeda dengan Sunan Bonang, Sunan Giri menyampaikan dakwah dengan cara menciptakan sebuah permainan dimasukkan unsur agamis yang terkesan lebih menyenangkan dan menarik. Karena lebih menekankan pada permainan, Sunan Giri memberikan pengajaran tersebut pada anak-anak. Beberapa ciptaan Sunan Giri yang dikenal sampai sekarang adalah tembang dolanan yang isinya mengenai ketauhidan.

  • Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
aktual.com

Sunan Kudus adalah salah satu Sunan yang menyebarkan agama Islam di daerah Kudus, beliau bukan seseorang yang ahli Kudus melainkan berasal dan juga lahir dari Quds negeri Palestina, beliau ikut kakek dan Ayahnya untuk hijrah ke tanah Jawa.

Meskipun demikian, namun Sunan Kudus adalah seorang senopati yang sangat hebat di kerajaan Demak. Tidak hanya Demak, beliau juga menjabat menjadi senopati di kerajaan Majapahit dan mampu menaklukkan nya dengan baik. Kehebatannya mampu menjadikan namanya semakin kuat di Jawa sehingga mudah untuk menyebarkan agama Islam. 

Sunan Kalijaga adalah guru Sunan Kudus dan beliau mendapatkan banyak ilmu darinya. Dari situlah metode dakwah dari Sunan Kudus tidak jauh beda dengan cara dakwah Sunan Kalijaga. Metode nya adalah menekankan pada budaya dan juga kearifan lokal.

Sifatnya yang toleran membuat Sunan Kudus diterima dengan baik oleh masyarakat, salah satu contoh sikap toleransi beragamannya adalah tidak boleh menyembelih sapi kepada para pengikutnya karena pada zaman Sunan Kudus, sapi dianggap sebagai hewan yang suci dan sakral. 

  • Sunan Muria (Raden Umar Sahid)

Sunan Muria (Raden Umar Sahid)
thegorbalsla.com

Dijuluki sebagai Sunan Muria karena beliau berdakwah di dekat lereng Gunung Muria dan menetap di situ sampai akhir hayatnya. Dalam perjuangannya, Sunan Muria atau Raden Umar Sahid memiliki peran yang sangat penting di masyarakat.

Cara berdakwahnya hampir sama dengan Ayahnya yaitu Sunan Kalijaga, yaitu menyebarkan agama dengan halus dan menyelipkan nilai budaya yang bertujuan untuk mengambil hati masyarakat. Namun yang membedakan adalah Sunan Muria lebih senang berdakwah di beberapa tempat terpencil dan jauh dari keramaian sehingga beliau memilih bermukim di lereng Gunung Muria.

Karena memilih di daerah lereng Gunung maka Sunan Muria berdakwah pada masyarakat desa dan rakyat jelata dengan mengajarkan cara untuk berdagang dan bercocok tanam. Nah, salah satu ciri khas dari Sunan Muria adalah beliau mengajarkan umat Islam cara berdakwah dengan kesenian gamelan serta wayang sebagai alat untuk berdakwah.

Dibalik kreatifitasnya, beliau juga type orang yang mampu memecahkan berbagai permasalahan, dan sangat diandalkan. Adat Kenduri yang tetap berjalan sampai sekarang adalah adat yang diciptakan oleh Sunan Muria untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

Selain itu tujuannya adalah untuk memberikan doa dan sholawat kepada orang yang sudah meninggal. Karena itulah Sunan Muria terkenal dengan dakwah yang disebut Topo Ngeli.

  • Sunan Kalijaga (Raden Said)

Sunan Kalijaga (Raden Said)
informazone.com

Seperti putranya, Sunan Kalijaga juga mengandalkan dakwah dengan metode peduli dan dekat dengan rakyat jelata. Dulu saat masa sulit beliau membela para rakyat jelata agar bisa hidup dengan lebih layak.

Roda pemerintahan yang semakin mengkhawatirkan membuat rakyat jelata harus membayar pajak yang cukup tinggi padahal mereka tidak mampu. Dari kejadian inilah Sunan Kalijaga berniat untuk membantu rakyat jelata namun dengan cara yang tidak terpuji yaitu dengan mencuri hasil bumi yang disimpan di gadang Ayahnya.

Beliau mencuri untuk diberikan kepada rakyat yang membutuhkan. Meskipun niatnya bagus yaitu untuk membantu orang yang membutuhkan, namun seharusnya hal tersebut tidak kita contoh pada zaman sekarang ini. 

  • Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulloh)

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatulloh)
katamedai.co

Nama asli dari Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatulloh, beliau ditinggal ayahnya saat umurnya masih remaja yaitu sekitar 20 tahunan. Setelah ditinggal oleh Ayahnya beliau diminta untuk menjadi raja di daerah Mesir untuk menggantikan peran Ayahnya.

Tidak berniat untuk menerima tawaran tersebut, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatulloh malah memilih untuk menyebarkan agama Islam di tanah jawa tepatnya di daerah Jawa Barat, beliau berjuang menyebarkan agama Islam bersama dengan ibunya tepatnya pada tahun 1475 Masehi.

Sunan Gunung Jati sebelum pergi ke Jawa terlebih dulu singgai di daerah Gujarat untuk memperdalam ilmu agama dan mencari bekal yang cukup. Pangeran Cakrabuana selaku penguasa di daerah tersebut menyambut kedatangan Syarif Hidayatulloh bersama ibunya dengan sangat baik.

Setelah dirasa memiliki ilmu yang cukup, beliau menyebarkan Islam bukan seorang diri, melainkan bersama dengan para wali lain yang terlebih dulu menyebarkan Islam di tanah Jawa. Untuk memperdalam ilmu agama beliau bermusyawarah dengan wali yang lain di Masjid Demak.

Dari keaktifan beliau tersebut Sunan Gunung Jati mulai mendirikan Kesultanan Pakungwati sehingga beliau menjadi raja dan mendapatkan gelar sultan. Setelah berdirinya Kesultanan Pakungwati, daerah Cirebon tidak mengirimkan upeti ke pajajaran lagi, seiring berjalannya waktu Pakungwati semakin besar dan mampu memperluas pelabuhan Muara Jati, dengan demikian Jawa mampu memperluas perdagangan sampai ke Negara China.

Melalui perdagangan Cirebon ke China Sunan Gunung Jati perlahan juga menyebarkan ilmu sholat ke rakyat China, beliau menarik perhatian orang China agar mau melaksanakan sholat dengan alasan sholat adalah terapi pijat ringan yang biasa disebut dengan akupuntur, ilmu pengobatan ini sangat manjur untuk kesehatan semua orang. 

Meskipun walisongo berjuang sebelum Indonesia merdeka, namun jasa beliau untuk umat Islam masih terkenang sampai saat ini di kalangan masyarakat secara luas. Dengan demikian, hendaknya kita harus bisa menjaga dan mencontoh walisongo untuk mendakwahkan ajaran Islam.

Walisongo adalah para Waliyullah atau wali Allah yang memiliki kelebihan berbeda-beda. Jadi kesimpulannya kesembilan wali tersebut merupakan Waliyulloh yang berjasa untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia yang cukup bersejarah, kesembilan wali tersebut dikenal dengan julukan Sunan.

Peran Wali Songo Terhadap Budaya Nusantara

Peran Wali Songo Terhadap Budaya Nusantara
pemudapersis-smd.blogspot.com

Masa hidup yang tidak bersamaan membuat wali songo bisa melengkapi satu sama lain, bisa hidup seperti saudara, layaknya guru dan murid, teman, dan juga semangat untuk tetap berdakwah. Diantara ke-sembilan wali yang paling tua adalah Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim. Disusul oleh Sunan Ampel sebagai putra dari Sunan Gresik.

Kemudian disusul pula oleh Sunan Giri sebagai keponakan Maulana malik Ibrahim dan juga menjadi sepupu dari Sunan Ampel. Karena itu Sunan Ampel menjadi sesepuh dari para Sunan. Putra Sunan Ampel adalah Sunan Bonang dan Sunan Derajat, sedangkan Sunan Kalijaga adalah murid dari Sunan Bonang.

Sunan Muria adalah putra dari Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus adalah murid Sunan kalijaga. Terakhir, Sunan Gunung Jati adalah sahabat dari seluruh Sunan kecuali Sunan Maulana Malik Ibrahim karena beliau sudah wafat terlebih dahulu.

Wali songo adalah para pembaharu masyarakat di masanya dan seluruh perjuangannya perlu untuk kita kenang agar barokah dari ilmunya bisa tetap mengalir sampai ke anak cucu. Masa Wali songo adalah masa terakhir kerajaan Hindu dan Budha, yaitu masa budaya Nusantara berubah menjadi budaya Islam.

Karena hal itulah peran wali songo di masyarakat menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Meskipun berganti menjadi budaya Islam tetapi nilai-nilai budaya Nusantara tetap terjaga namun yang diutamakan adalah peran pada budaya Islam.

Peran Wali Songo terhadap Ajaran Agama Islam

Peran Wali Songo terhadap Ajaran Agama Islam
thegorbalsla.com

Setelah berubah menjadi budaya Islam, peran wali songo pada saat itu sangatlah penting dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Dengan demikian, perjuangan yang dilakukan oleh wali songo sangat hebat, tidak takut apapun, gigih berani, dan mampu membela agama Islam selama hidupnya dengan berdakwah sesuai cara nya masing-masing.

Peran wali songo pada masa ajaran Islam adalah sebagai seorang guru ketika sedang menjelaskan ilmu agama, sebagai teman ketika berkumpul dengan masyarakat, sebagai murid ketika sedang bermusyawarah dengan wali yang lain, serta sebagai sahabat untuk terus berjuang melawan berbagai tantangan.

Peran yang tidak mudah mampu dilakukan oleh ke-sembilan wali songo dengan baik dan sesuai cara masing-masing. Bisa dibayangkan jika tidak ada ke-sembilan wali tersebut pada masanya, mungkin Islam tidak bisa seperti sekarang, dan besar kemungkinan di Indonesia tidak kebanyakan pemeluk agama Islam.

Salah Satu Karomah dan Kesaktian Walisongo

Salah Satu Karomah dan Kesaktian Wali Songo
www.romadecade.org

Seperti yang dijelaskan diatas, dalam berdakwah kesembilan wali tersebut memiliki cara yang berbeda-beda untuk menyebarkan agama Islam. Gaya dan cara yang unik tersebut muncul karena kepribadian yang berbeda-beda. Namun secara keseluruhan mereka berhasil untuk menarik hati masyarakat.

Namun tidak semua wali songo mendapatkan karomah dan kesaktian dari Allah. Terdapat beberapa wali yang mendapat karomah dan kesaktian, salah satunya adalah Sunan Bonang. Sunan Bonang mendapat sebuah karomah dan kesaktian yaitu mampu melawan Brahmana.

Ceritanya Brahmana yang terkenal angkuh ingin mengadu keilmuannya dengan Sunan Bonang, ketika perjalanan ke Sunan Bonang Brahmana pergi menggunakan kapal, dan tanpa disangka kapal tersebut tenggelam yang menyebabkan Brahmana dan muridnya terdampar di laut.

Kemudian ada seorang yang memakai jubah putih berjalan dan mendekati Brahmana beserta para pengikutnya, dari jauh orang berjubah putih tersebut sambil menancapkan tongkatnya kemudian orang tersebut mencabut tongkatnya. 

Tanpa disangka dari tongkat yang dicabut tersebut memancarkan mata air yang sangat jernih. Karena murid Brahmana merasa kehausan mereka meminum air tersebut. Berbeda dengan Brahmana, dia tidak minum karena khawatir air itu memabukkan. Namun setelah melihat muridnya aman Brahmana ikut meminumnya.

Setelah selang waktu yang cukup lama tanpa paksaan Brahmana dan muridnya masuk Islam karena petunjuk yang diberikan oleh Sunan Bonang. Ini adalah salah satu bentuk karomah yang diberikan Allah kepada wali untuk menyadarkan para kaum. 

Karomah yang diberikan Allah kepada para wali tidak lain bertujuan agar umat Islam bisa percaya dengan adanya Allah dan takut kepadanya sehingga mau beriman. Karomah dan kesaktian yang belum tentu didapatkan oleh semua orang tersebut menjadi saksi akan kekuasaan Allah dan Maha Sayang nya Allah kepada hambanya.

Makam Walisongo yang ada di Jawa

Makam Walisongo yang ada di Jawa
www.wajibbaca.com

Karena hampir semua tempat berjuangnya adalah daerah Jawa maka makam nya berada di Jawa pula. Hal ini mempermudah umat Islam untuk melakukan ziarah wali. Bagi Anda yang sering melakukan ziarah kubur ke makam para wali mungkin sudah tidak asing lagi dengan lokasi dan tempatnya.

Namun ada pula yang tidak tahu keseluruhan dari makam wali songo tersebut. Tradisi ziarah wali sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh umat Islam sejak dulu. Masyarakat yang melakukan ziarah wali kebanyakan adalah masyarakat yang tinggal di daerah jawa. 

Makam dari kesembilan wali dirawat dengan sangat baik oleh para pengurus makam. Setiap makam juga di bangun dengan bangunan yang berbeda satu sama lain sesuai dengan tempat tinggal masing-masing. Sebagai contoh makam dari Sunan Ampel berada di kawasan wisata Budaya Surabaya yang dekat dengan area pecinan atau Kampung Arab.

Sedikit jauh dari makam sunan yang sudah disebutkan, Sunan Bonang letaknya berada di seberang masjid Agung Tuban atau alun-alun kota Tuban. Sedangkan Sunan Gresik letaknya berada di daerah Gresik kota yang dekat dengan Sunan Bonang, Sunan Giri berada di puncak bukit kebomas Gresik.

Makam Sunan Derajat di daerah Lamongan bukit tinggi yang dikelilingi oleh pohon besar yang tersebar cukup luas. Sunan Kudus berada di sebah bangunan yang berbentuk menyerupai Joglo yang besar. Makam Sunan Muria ada di daerah Gunung Muria Jepara, dan makam Sunan kalijaga berada di kota Demak atau dekat dengan komplek kerajaan Demak.

Yang paling jauh dari makam Sunan yang lain adalah makam Sunan Gunung Jati Cirebon, makam Sunan Gunung Jati dihiasi oleh ornamen Tiongkok sehingga terkesan berbeda dengan makam yang lain. Orang Jawa melakukan ziarah makam wali dengan tujuan untuk mendapatkan barokah dari kebaikannya selama hidupnya dan mengharapkan ridho dari Allah SWT untuk keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Perubahan zaman yang semakin lama semakin modern membuat beberapa wilayah sedikit berubah dari yang dulu. Namun diharapkan tradisi ziarah makam wali tidak sampai hilang karena ziarah wali adalah salah satu cara bagi kita umat Islam yang ada di Indonesia untuk menghargai jasa-jasa mereka dalam menyebarkan agama Islam.

Baca Juga Kerajaan Mataram

Selain itu, diharapkan seluruh umat Islam mampu melanjutkan perjuangan para wali agar Islam tetap menjadi agama yang benar dan mendapat ridho dari Allah SWT. Mungkin cukup itu ilmu yang dapat kami bagikan seputar sejarah, biografi, dan beberapa hal lain mengenai wali songo.

Semoga mampu memberikan inspirasi kepada pembaca dan menggugah semangat untuk terus berjuang demi agama Islam, semoga amal sholeh yang sudah dilakukan para wali dan yang akan kita lakukan kedepan menjadi amal sholeh yang baik dan diterima disisinya. Cukup sekian, semoga bermanfaat!

Tinggalkan komentar