38 Kumpulan Contoh Puisi Perpisahan yang Menyentuh Hati

Puisi perpisahan – Perpisahan adalah peristiwa yang akan dialami oleh seseorang yang melakukan pertemuan.  Karena sejatinya setiap pertemuan yang terjadi adalah pasangan dari perpisahan. Banyak orang yang tidak menyukai perihal perpisahan.

Pada umumnya, pada suatu perpisahan selalu menyisakan berjuta kenangan sehingga membuat orang membenci perpisahan itu sendiri. Terkadang suatu perpisahan dapat di ungkapkan melalui puisi. Banyak yang menggunakan puisi  untuk mengisi suatu acara perpisahan.

Kumpulan Puisi Perpisahan terbaik

Karena melalui puisi kesan perasaan lebih di dapat. Berikut ini contoh- contoh puisi yang berkaitan dengan perpisahan. 

Akhir Cerita

Akhir Cerita
kenikin.com

*****

(Oleh : Rahayu Prihatin, M.Pd)

Bergelut dengan rasa yang tak pernah bersahabat

Menjalani hari yang sulit untuk di mengerti

Bila harap tak menjanjikan harapan

Jika masa lalu jadi bayangan yang tak henti menemani

Semua  menjadi luka

Semua hanya menambah perih

Semua hanya membuat luka

Tak terima pikiran dihantui prasangka

Hati bergejolak oleh amarah

Lebih baik cinta itu pergi bersama angin

Yang tak meninggalkan jejak

Bersama mimpi yang terkubur benci

Akhir cerita tak harus indah

Namun cerita kan selalu memberi makna

Semua pasti “berakhir” sebab dimulai oleh “awal” akhir cerita

Hanya milik kita…

*****

Salam Perpisahan

Salam Perpisahan
puisi perpisahan

*****

Mata yang berkaca- kaca

Jantung yang berdetak- detak tak menentu

Itulah terpaan gemuruh rasa dalam hatiku

Jarak kita pun kian membentang

Kini hatiku tergores kesedihan

Ketika terucap salam perpisahan

Akankah semuanya jadi terkenang

Bahkan mungkin terkubur oleh waktu dan keadaan

Kini semua tinggal kenangan

Kenangan indah yang telah kita lalui

Canda – tawa

Sedih

Khawatir dan rasa takut terpisahkan

Itulah perasaan yang menggulumi hati kita selama ini

Sobat

Akan tetap membekas suatu kenangan

Dan aku takkan lupa dimana waktu dulu kita bersama

*****

Yang Pergi dan Yang Tinggal

Yang Pergi dan Yang Tinggal
duapah.com

*****

(Oleh : Fridolin Ukur )

Yang pergi tidak lagi akan mengalami

Kepahitan yang masih terus meracuni

Mereka yang berjalan di lorong senja

Terus menatap bintang barat berpacaran

Enggan subuh meraih terlalu cepat

Yang bercinta masih juga membiak dosa

Berpacu menentang maut yang berkejaran

Di dada, mawar- mawar terkulai layu pucat

Masih juga mereka tidak mengerti

Kekekalan terbentang di tapak- tapak kaki

Tersembunyi dari mata yang tak mau mencari

Masih juga mereka rakus mencari diri

Kemaruk harta, nafsu akan kuasa yang menggilai

Berpelukan jantan betina sambil menari

Yang pergi tak akan mengalami

Kepahitan yang masih terus meracuni

*****

Kerisauan Mendung

Kerisauan Mendung
www.pexel.com

*****

Mendung sedang menari di hadapkan Tuhannya

Mencari celah agar dapat lagi tersenyum lagi

Pada bumi yang tengah di landa sekarat

Dia meminta hujan untuk sekedar bertamu

Dan menyapa meski tak lama

Seperti halnya aku yang memaksa Tuhanku

Untuk menghadirkanmu meski hanya sekadar singgah

Bukan menetap!

*****

Antara Dua Kekekalan

Antara Dua Kekekalan
iranayande.de

*****

(Oleh : Firdolin Ukur)

Di renggut dari jantung bumi

Kau berjalan menuju perpisahan akhir

Dari kekekalan sementara yang berhenti lahir

Ke dunia bersih tanpa dendam dan benci

Rambutmu ikal putih satu- satu membuahi cinta

Hari- hari tua hilang bersama kepergianmu 

menuju dunia penuh cahaya

arah yang lumpuh 

mengantarmu dari jauh

adikku ragil manis

sendiri meraungi tangis

kandaku di seberang lautan

berduka di sedan tertahan

kami bertiga hanya

kakakku tertua dan adikku pertama

anak- anak kandungan cinta 

sempat menatap wajah

jejari gemetar sempat menjamah

bunda,

kau pergi ke kehidupan yang tak terbelah

*****

(II)

Kematian tak bisa lagi menciptakan syair palsu

Untuk nyanyi nyanyi di bumi kekekalan yang tak pernah ada

Kematian hanya bisa memburu percik sajak betina

Aku yang hidup di alam kasih menyinta

Darahku berlagu, bersyair menentang dusta

Maut, seolah kematian menamatkan rindu

Aku seekor burung bernyanyi

Tentang perjalanan yang belum selesai

Hatiku beri sembrani

Menarik jarum maut sampai saat bercerai

*****

(III)

Satu waktu nanti

Aku akan sampai di perbatasan

Kefanaan yang sia- sia

Penciptaku berdiri menanti

Segumpal sedan tertahan di kerongkongan

Pandangan seakan berkata: penyair

Kebenaranmu hampa

Kebencian dan nafsu masih membara

Ku tengok ke dalam: silam hitam

Kekekalan yang di telan malam

Semuanya akan lalu

Hanya tinggal langkah selenggang

Ke arah kekekalan yang baru

Tiada duka nyeri menghadang

*****

Keranda Penjajah

Keranda Penjajah
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fitri Nur Vaindah Rohmah)

Di peras habis membekas di ujung ubun- ubun

Membasahi tubuh terkoyak oleh sang belanda

Tumpah membabat habis jiwa dan raga pribumi

Di cuci tenaganya tak berampas

Luka dan darah menghiasi mereka yang berjuang menentang

Berpacu dengan denyut waktu

Bersenjatakan si bambu kuning keberuntungan

Dengan mantra Allahu akbar tak gentar menghiasi medan perang

Menyisakan tangis dan kematian

*****

Sajak Perpisahan Sepihak

Sajak Perpisahan Sepihak
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fitri Nur Vaindah Rohma )

Sajak perpisahan merunyam 

Batin mencoba menitih luka aksara baru

Bertamu pada pintu- pintu patah hati

Terlilit pada golongan penikmat air mata

Berparas sayu yang remuk diam- diam

Dunia tahu perpisahan itu kejam pada manusia

Mereka menjadi bayangan hitam tanpa ampun

Bersembunyi di cela- cela puing- puing kebodohan hubungan

Menyendiri di pojok cinta sendiri yang tak berkasih

Melihat dia yang masih berbahagia dengan yang sekarang

Merobohkan harapan kembali bersama

Tapi jika ada penyesalan jangan memohon untuk kembali

Kau tabur duri maka tak akan ada apel yang tumbuh

Lelakiku bukan begini

Dia memintaku untuk bertahan bukan melepaskan

*****

Nyonyaku

(Fitri Nurvaindah R )

Perempuan tangguh beralaskan senyum

Memikul pilu tak di rasa

Aku suka gayanya kala bercanda

Memainkan luka dengan cerianya

Salutku atas perban yang di tutupinya tanpa meringis

Ku kagum sekuat itu alam menciptakan malaikatku ini

Dengan tenaga tubuh seadanya

Tak pernah berlian itu terjatuh dari kelopaknya

Ketegaran yang tak mungkin bisa ku miliki

Kenyataannya dialah ibu ku

Nyonyaku di segala kebenaran hidup 

Kasihnya mengutarakan ketulusan yang tak terganti

Perjuangannya tak terbayar dengan materi

Seluruh organ ku pun tak sanggup membahagiakannya

Dia bentengku di kehidupan ini

Selamanya akan seperti itu

*****

Terlambat

Terlambat
puisi perpisahan

*****

Aku akan mengatakannya (lagi)

Bila mana bunga petuniaku

Menyekatkan taman seliamu

Ku masih ingat jalan dimana aku datang

Cukup berikanku sedikit isyarat

Tuk bisa menjauh lekas

Apa aku terlalu cepat atau

Amat terlambat

Dewiku

*****

Duka itu pun Menjadi Putih

Duka itu pun Menjadi Putih
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fridolin Ukur)

(i)

Seakan suara gaib di udara

Membisikkan lagu duka

Tanda perpisahan akhir tiba

Karena kematian sangat rahasia

Datang menjelang

Menjemputmu, ayah

Ketika mentari muda

Beranjak dewasa

Dalam pelukanku

Bibir tua meninggalkan pesan

Dengan suara serak tertelan

Aku sendiri tidak mengerti

Ucap pamit suara parau

Aku mengangguk juga dengan perlahan

Lalu kepada kandaku tertua

Yang memeluk tubuhmu di sisi kiri

Lalu berbisik damai: aku pergi !

Ketika tubuhmu ku baringkan kembali

Sebuah senyum bangga

Menghias wajah renta

Bersama helaan napas panjang

Usailah kembara fana

Ayah !

Kau pergi

Bersama benang sutera

Terulur dari sorga

Menjemput sukma

*****

(ii)

Detik – detik hening begitu memagut

Dalam duka kami menatap

Wajahmu, bening bercahaya

Padat getar – getar bahagia

Menatap kami dalam cinta !

Isak yang memadati dada

Pecah – pecah tiba –tiba

Di awali lengking tangis adikku ragil manis

Seperti rintih buih

Di kelabu gerimis

Raung pun menulari seluruh ruang

Sedu dan air mata

Adalah senandung duka !

Satu demi satu, kami berlima

Mencuri ciuman penghabisan

Seakan menahan pelangi mimpi

Untuk tidak terpecah

Di lengkung garis hidup ini

Tapi wajahmu begitu begitu anggun

Berhiaskan bunga- bunga cinta

Seakan berpesan

Waktu yang lama ku tunggu

Kini sudah tiba

Untuk kembali berjumpa

Dengan ibu mu

Yang lama menanti di benua putih !

Duka itu pun menjadi putih

*****

(iii)

Petang ini sekali lagi

Tangis sedih mengisi lagu

Di kamar duka pembaringanmu

Ketika Roos, Sri, dan Pina

Ketika menantumu tercinta

Tiba dari pulau seberang

Membawa bunga

Anggrek putih dan anggrek ungu

Sepanjang malam

Anggrek- anggrek suci

Mereka sirami dengan tangisan

Agar tetap segar

Ketika di persembahkan kepada ayah

Anggrek ungu penghias keranda

Anggrek putih terangkai indah sekali

Adalah bunga pengantin

Untuk di bawa kepada bunda

Menunggumu dalam senyum di gapura

Kehidupan kekal !

Setiap kali jejari merangkai bunga

Ucap cinta berguguran

Bawalah bunga cinta ini, ayah

Hadiah cinta untuk bunda di sana

Dalam rindu putih tak pernah tua

Dalam cahaya abadi tak pernah pudar

Lama menantimu

Memapak dalam dekapan kasih

Bersama Tuhan !

Duka itu pun menjadi putih !

*****

Jumpa dan Pisah

Jumpa dan Pisah
puisi perpisahan

*****

Sebelum tiba di detik ini

Berapa purnama telah kita lewati

Menghitung awal fajar

Menjumlah  tepi senja

Ketika kelakar bernada tawa

Ketika tengkar tersuhut amarah

Menjalin riwayat

Menganyam kisah

Kembara kita bersama

Semua negeri enam tak usah risau

Antara jumpa dan pisah tiada jarak

Hanya sebuah gerak

Hanya sebuah detik

Di perjalanan panjang 

Kembara kita bersama

Sebelum usai semua ini

Sebelum pamit sedih terucap

Ada pinta tersendat di dada

Bila esok jalan ini akan terpisah

Jejari jemari

Tak lagi tergenggam mesra

Simpanlah putihnya melati 

Rangkaulah merahnya mawar

Dalam kenang persahabatan

Keakraban kita tak pernah kusut 

*****

Bahagiaku

Bahagiaku
puisi perpisahan

*****

(Oleh: Rahayu Prihatin)

Siapa orang yang tak ingin bahagia dalam hidupnya

Demikian juga aku

Saat aku tahu arti bahagia

Semakin aku mengerti  bahagia adalah pemberianku

Bukan pemberian siapapun

Apakah kita mampu membuka hati untuk bahagia

Atau menutup hati untuk semua kepedihan

Dan penderitaan hidup yang berlaku atas diri kita

Lalu sampai kapan kita tertutup larut

Dalam kesengsaraan batin yang panjang

Masih ada kehidupan di atas kepiluan

Masih banyak yang bisa dilakukan untuk menghasilkan sesuatu

Yang berharga bagi kita dan orang lain

Saatnya bangkit dan membuka diri

Kehidupan harus tetap berjalan

Tidak berhenti di tempat

Tetapi terus melangkah menggapai apa yang belum kita raih

Masih banyak mimpi

Yang harus di kejar dengan bahagia

Saat nya bahagia

*****

Kesungguhan Cinta

Kesungguhan Cinta
puisi perpisahan

*****

Oleh: Vina Apriani

Mataku seakan terus memandang

Pandangan yang begitu sulit ku lepas

Semakin ku memandang

Semakin tersimpan di hati

Semakin tak terlupa wajahmu

Semakin ku menaruh hati padamu

Semakin besar rasa ingin tahuku

Seiring detik aku menemukanmu

Dimana kita saling memandangi

Dan dunia membuat kita semakin bersatu

Menyatukan angan untuk kita selalu bersama

*****

Dini Hari

Dini Hari
www.hipwee.com

*****

(Oleh : M Taslim Ali )

Memang, hari telah siang : Ya biarlah !

Apa kerena itu kau mau pergi saja?

Buat apa bangun, karena hari terang?

Apa kita tidur, karena malam datang?

Kasih yang peduli gelap bahwa kita ke mari

Janganlah kita pisah tatkala siang hari

Cahaya tidak berlidah, tapi mata semata

Jika ia bicara sepandai pakai mata

Akan lebih jelek tuturnya dari ini

Karena senang aku pun ingin di sini

Dan karena cinta hatiku dan kehormatan

Tak mau lah aku pisah dari empunya

Jika urusan yang menyuruh kau pergi

Itulah penyakit yang bikin cinta mati

Si miskin, pak Tolol dan penipu tak apa

Bagi kasih, tapi janganlah si pengusaha

Usaha dan cinta tak mungkin seiring

Sama salah dengan suami mata keranjang

*****

Pemasrahan

Pemasrahan
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fridolin Ukur)

(i)

Wajahnya dingin

Matanya hangat

Jemarinya dingin

Hatinya hangat

Sejuta keyakinan di tatapan mata

Sejuta kata di genggaman jejari

Sepenuh iman terpasrahlah diri

Berpisahlah kini, untuk nanti berjumpa

*****

(ii)

Hanya aku berwarna

Yang lain  putih semua

Kereta yang di giring juga putih

Wajah yang terbaring juga putih

Hanya aku berwarna

Dan senyum Sri ikut berwarna

Sentuhan akhir ujung jejari

Senyum pengharapan mewarnai wajah

Mengiringnya pergi

Sendiri kini

Ke balik pintu operasi

*****

(iii)

Antara jantung dan hati

Terasa cekikan dingin

Dingin

Dinginnya ketakutan !

Antara seribu doa

Dan hari menyinta

Terasa kepekatan hitam

Hitam

Hitamnya ketakutan !

*****

(iv)

Segala keberanian yang tertancap

Dalam dada goyah patah

Retak pecah

Segala kepastian yang angkuh dalam raga

Lunglai lemah

Rontok rebah

Sebanyak detik yang menjalar

Delapan belas ribu edaran

Berpacu di seluruh urat nadi

Menari gila di ruang  diri

Ketakutan berpesta

Ketakutan menyiksa

Sebanyak detik yang menjalar

Delapan belas ribu edaran

Aku masih terus bertahan

Dalam doa dan pemasrahan

*****

Fajar

Fajar
puisi perpisahan

*****

Membayang gilang langit  di timur

Kilat- kemilat cahaya berhambur

Sinaran terang simbur- menyimbur

Lenyap melayang udara kabur

Itu gerangan fajar menjelma

Surya raya turun ke dunia

Girang- gemirang segala sukma

Di hibur alam puspa warna

Tapi.. wahai pondokku kelam

Hari lah pagi, serupa malam

Tiada cahaya masuk ke dalam

Entah karena dindingnya rapat

Entahkan  pintu terkunci erat

Beta tak tahu, beta tak ingat

*****

Bumi

Bumi
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Taufik Hidayat)

Bumi…

Betapa besarnya ukuranmu

Betapa banyaknya keindahan yang kau punya

Keindahan flora dan fauna yang  kau punya

Begitu indah

Membuatku terkesima

Walau aku tahu umur yang kau punya sudah tua

Dan beberapa isi yang di bumi telah rusak

Ku harap engkau masih punya banyak keindahan yang tersimpan

Bumi…

Keindahanmu sudah hampir punah

Akibat dari para manusia yang tidak bertanggung jawab

Ku harap tuhan dapat memberikan banyak keindahan

Walau sudah banyak bagian darimu yang hancur

*****

Serpihan Berlian

Serpihan Berlian
puisi perpisahan

*****

(Oleh: Mayang ramadhani)

Puing demi puing hancur perlahan

Rasa demi rasa yang semakin sakit

Semakin dahsyat kekuatan hatiku

Semakin kokoh jiwaku

Membuat hatiku 

Tak lagi seperti sebuah serpihan berlian

*****

Tidak Ada Yang Salah

Tidak Ada Yang Salah
www.idntimes.com

*****

Aku sadar perpisahan itu adalah takdir Nya

Maka aku tak ingin menyalahkanmu yang pergi

Walau hanya di jadikanmu tempat melepas penat

Bukan kuasaku menghakimi mu

Tidak ada yang salah,

Baik itu kau, aku, maupun rasa itu sendiri

Semua telah tertulis dalam ketetapan

Bahwa terlukalah jalanku selama ini

Aku akan mencoba berdamai

Merelakan kisah lalu, bukan untuk melupakan

Bantu aku bangkit kembali dengan tak peru datang lagi

Setelah semua hal menyakitkan kemarin

*****

Terminal Akhir

Terminal Akhir
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fridolin Ukir)

Inilah terminal akhir

Ujung jumpa

Awal pisah

Di sini kusampaikan ucap pamit 

Dalam puisi terpatah

Terukir di wajah langit

Terhempas di dada tanah

Sepuluh tahun dua bulan sekian hari

Aku ikut menanam cinta

Sepanjang perjalanan ini

Dengan tangis dan keringat

Di antara tawa dan canda

Di seling geram gerutu

Di kawal gelak dan pijar setia

Kadang terpanggang di api ungu

Pembakaran bakti

Seperti habis daya

Keberanian pun bisu !

Kadang gemetar di embun subuh

Benahan mimpi

Seperti kelahiran syair baru

Bunga wangi

*****

(ii) 

Inilah terminal akhir

Tanpa dalih ku tempuh jalan itu

Tanpa pamrih ku jelajahi kembara ini

Lewat jerih dan juang

Ku petik bunga mimpi di jalan lengang

Seperti semarak hiasan pesta

Melepas nestapa

Dalam hangat unggun api

Dalam genggam setia kawan

Dan ketika kini

Aku terpaku pada musim akan berganti

Di bayangi detik waktu dingin berentak

Ingin ku lagukan segala terpendam

Sebelum buntu malam

Sebelum siang tenggelam

Segala telah ku coba

Apa yang bisa

Hanya sampai di sini saja

Semua telah tercatat pada wajah

Gurat – gurat luka sejarah

*****

(iii)

Inilah terminal akhir

Ku lambai sepasang tangan 

Yang melahirkan puisi

Di denyut jantung urat nadi

Mendebur melepas angan

Terbang, enggan di sapa dalam dusta

Puisi ini mengangkat sayap, terbang

Lewat gurun gersang, sepi senggang

Menembus kefanaan terentang panjang

Meraih ufuk harap samar terpampang

*****

(iv)

Inilah terminal akhir

Wajah- wajah merampung dalam bayang kenang

Napas tertahan menunggu waktu, menjamah

Usap darah, bulan menatap ramah

Ku ulur tangan mesra padamu

Ingin jarak tiada lagi

Walau pisah membuka batas senja

Ku toreh butir- butir kenang

Kesan hangat menggenggam tangan

Biar tidak sunyi langkah ini

Menutup sisa waktu

Sebelum tungku api

Meratapi debu dan abu

Inilah terminal akhir

Aku harus pamit disini

Di sini inilah aku

Hatiku tak pernah hambar

Aku harus mohon diri

Di sini

Inilah aku

Seperti dulu

Di dada cinta terbakar

*****

Kesungguhan Cinta

Kesungguhan Cinta
puisi perpisahan

*****

(Oleh: Vina Apriani)

Mataku seakan terus memandang

Pandangan yang begitu sulit ku lepas

Semakin ku memandang 

Semakin tersimpan di hati

Semakin tak terlupa wajahmu

Semakin ku menaruh hati padamu

Semakin besar rasa ingin tahuku

Seiring detik aku menemukanmu

Dimana kita saling memandangi

Dan dunia membuat kita semakin bersatu

Menyatukan angan untuk kita selalu bersama

*****

Sajak Pertemuan Hujan Senja

Sajak Pertemuan Hujan Senja
www,kompasiana.com

*****

(Oleh : Windarsih)

Guguran air menyelubungi rona pipi senja

Mengembang senyum sepasang insan bertudung payung jingga

Bumi sudah di jamah resapan manis hujan senja

Usapan tangan di kala pintu – pintu langit terbuka

Magis hujan meniduri relung – relung  kerinduan

Pertemuan perpisahan silih berganti tanpa salam

Bagai sebujur kilat membelah angkasa tak pedulikan masa

Setara air hujan kala rasa menjatuhkan lara

Menatap mata hitam pemegang gagang payung jingga

Ku larang melangkah sebelum tangis hujan reda

Mencari kening di antara helai rampai legammu

Mendaratkan rindu semasa kemarau bertahta padaku

Sajak pertemuan di bawah kembang payung hujan

Teduhkan jiwa dua insan pemuja ritme tetesan

Memori penghujung Desember pelukan batas senja

Engkau dan aku meniduri rasa manis air dirgantara 

*****

Pagi 

Pagi 
www.tokopedia.com

*****

(Oleh : Eka Purwanto )

Selamat datang pagi

Ceriamu kini meredup

Suasana pagimu layu terkulai

Terhempas semilir angin terban jauh

Membawamu ke angkasa nan biru

Butiran pasir basah mengembun

Di manakah kau kini berada

Pagi hari merubah suasana kelabu

Menjadikan bunga mawar malas mekar

Kemana harus ku cari pagi ceriamu

Detik, menit berdentang

Membangunkan mimpu khayalku

Suasana pagimu mengnatarkanku

Tuk bergerak cepat langkahku

Merubah suasana menjadi riang

Hilangkan rasa malas bergayut di dada

Menyongsong pagi yang lebih indah

Tuk masa depan kebahagiaan 

*****

Izinkan Aku Pamit

Izinkan Aku Pamit
puisi perpisahan

*****

( Oleh “ Muhammad Aqiel Baehaqi )

Aku ingin pergi

Dan jangan paksakan

Kau menggenggam tanganku

Aku tahu ini kisah yang sulit

Banyak perdebatan yang panjang

Dan berujung kata pisah 

Perubahannya tidak ada

Aku tetap teman terbaik mu

Pamit ini adalah sebuah jalan 

Izinkan aku peri dulu

Untuk melihat perubahannya

Tak usah tangisi usaian kita 

*****

Pertemuan

Pertemuan
puisi perpisahan

*****

(Oleh : D I H )

Aku ingat saat kamu menemukanku

Bukan dari kalimat sapaan

Tetapi dari sebuah senyuman

Yang membuatku tersadar

Jika itu adalah inti

Dari sebuah pertemuan

Yang sulit ter lupakan

Saat itu tanpa tersadar

Kamu membuat suasana menjadi berkesan

Atau hanya sebagai kenangan

Tetapi yang aku tahu

Pertemuan adalah bagian dari perpisahan

Sebagaimana aku menjadikanmu

Bagian dari diriku 

*****

Kisahku dan Hujan

Kisahku dan Hujan
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Ghivan Christine )

Dalam ayunan langkah, yang semakin lambat

Dalam helaan napas, yang semakin dalam

Dalam desir angan, yang kian menjauh

Dalam desah hati, yang kian membiru

Entah harap, entah khayal yang di genggam

Entah duka, entah suka yang di kecap

Hanya tetes hujan yang paham

Hanya tetes hujan yang menjawab

Dalam biru yang kian menyatu

Di derasnya tetes hujan

Tak ada kata yang terucap

Tapi selaksa makna terjawab

Kisahku, sama dengan hujan

Datang dan pergi tanpa pamit

Menghembuskan asa dan juga nestapa

Hingga hanya dingin  yang tersisa

*****

Inginku Menjadi

Inginku Menjadi
puisi perpisahan

*****

Kau tahu, ku ingin menjadi kucing persia

Di senjamu

Menidurimu dengan kelembutan

Bulu langsatnya

Kau tahu,

Ku ingin meracik ramuan kopi

Di malam minggumu

Menemani kedinginan punggungmu

Yang tampak kaku

Kau tahu,

Ku ingin menjadi sungai yang mengalir

Di lekuk lesung pipimu

Agar aku bisa menanam

Bunga dahlia dan mawar di situ

Kau tahu,

Aku pun ingin menjadi

Dua gunung kembar di atas lapang dadamu

Di gambar dan di tertawakan

Oleh anak- anak di kertas warna mereka

Dan aku

Hanyalah puisi perpisahan kita

Esok aku menuju koma

Yang landai dan kau kan menulis

Di pandu penyair lain

(a. m)

*****

Bencana

Bencana
puisi perpisahan

*****

(oleh : Taufik Hidayat)

Lewat suara gemuruh di iringi debu bangunan yang runtuh

Tempatku nan asri terlindas habis

Rumah dan harta benda serta nyawa manusia lenyap

Kau lalap habis

Aku kehilangan segalanya

Memang kejadian begitu mengerikan

Bantuan mengalir

Hati manusia punya nurani

Tuhan mengapa semua ini terjadi

Mungkin kami telah banyak mengingkari mu

Ya Tuhan..

Ampunilah kami dalam segalanya

*****

Luka Kota Tua

Luka Kota Tua
puisi perpisahan

*****

Dulu aku berjalan mengitari kota tua ini

Selalu tuangkan semua isi kepala

Pada selembar puisi yang kini pergi

Aku ingat, kita bermimpi berlarian

Ke suatu ruang : sebuah istana

Penuh orang- orang asing

Tidak tahu diri masing- masing

Kita tinggalkan kelap kelip cahaya lampu

Di luar salju turun melukai kita

Atau barangkali itu hanya luapan dendam

Luar kota tua 

(a. m)

*****

Pergilah Tidak Ada yang Salah

Pergilah Tidak Ada yang Salah
puisi perpisahan

*****

Mungkin kau tak pernah sadar

Ada hati yang terluka ketika kau tinggalkan

Tanpa kata selamat tinggal, atau

Bisa jadi kau malah tak peduli

Maka jangan  coba kau muncul lagi

Sekalipun dengan rasa yang menyesal

Sungguh itu tak lagi penting

Sebab luka akan selalu membekas

Pergilah dari hadapannya, selamanya

Biarkan ia bersama ketenangan yang baru di ciptakannya

Agar tak lagi ada linangan kesedihan

Pun tak ada lagi topeng kebahagiaan

*****

Kesungguhan Cinta

Kesungguhan Cinta
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Vina Apriani)

Mataku seakan terus memandang

Pandangan yang begitu sulit ku lepas

Semakin ku memandang

Semakin tersimpan di hati

Semakin tak terlupa wajahmu

Semakin ku menaruh hati padamu

Semakin besar rasa ingin tauku

Seiring detik aku menemukanmu

Dimana kita saling memandangi

Dan dunia membuat kita semakin bersatu

Menyatukan angan untuk kita selalu bersama

*****

Jatuh Hujan

Jatuh Hujan
puisi perpisahan

*****

Hujan serasa anomali,

Menyetubuhi bulan Juli

Yang tak tau arti:

Sendiri

Hujan memang jalang

Bercumbu penuh roman

Di atas tubuh- tubuh

Tak bertuan

Hujan temaram malam

Menodai rinai bulan

Yang mendekap erat

Melesap senyap

Hujan, sudikah kau berjudi?

Semeja dengan musim semi

Yang lelah ku nanti

Saat daun- daunnya

Jatuh dan menari

Membawa seseorang 

(a. m)

*****

Aku Lupa

Aku Lupa
puisi perpisahan

*****

Jemariku putus satu persatu

Dan mereka terbang seperti layang layang

Menyulam  langit – langit rindang

Dan terbenam di mulut anak- anak

Yang menangis karena lapar

Aku tidak kuasa lagi untuk berdoa

“aku lupa dengan Tuhan

Atau Tuhan lupa pada aku?

Atau aku dan Tuhan sama- sama melupa

Agar tidak satu pun merasa luka?”

Toh, pada akhirnya tidak ada kata

Doa di ruas- ruas jariku

Aku lupa bahwa Tuhan bukan Maha Lupa

Atau aku lupa 

*****

Salam Pisah Untuk Bapak Batakku

Salam Pisah Untuk Bapak Batakku
puisi perpisahan

*****

(Oleh: Bungaran Antonius Simanjuntak)

Sebuah puisi yang dibuat untuk mengenang anak Acehnya

I.

Kau bilang aku bapak

Kau bilang kasihku

Tanpa batas samudera, bangsa

Apalagi agama

Kau bilang aku

Bapak Batak mu

Karena kau minta dalam derai

Air matamu

Aku dan ibu Netty merawatmu

Ketika kau takut meregang nyawa

Di Pulau Penang 

Tanpa Eva dan siapa- siapa

Hanya ibu dan bapak Batakmu 

Tapi kini kau benar

Meregang nyawa bernama Eva dan ketiga putramu

Tanpa bapak batakmu

Di Banda Acehmu

Ketika tsunami menerkam kamu melebihi singa dan harimau Afrika

Merenggut kamu dari pelukan

Cinta kasihku tanpa batas

Tanpa rasa

Tanpa sesal

Tsunami jahanam !

*****

II

(dari Ipul untuk bapak  Batakku)

Tak usah tunggu lagi 

Aku di gerbang rumah

Bapak Batakku

Karena pelukan terakhir sudah ku berikan

Ketika kau mengantarku menuju Penang

Aku takut

Tapi kau memberi semangat baru lagi

Aku jadi tertempa baru

Seperti menanti pisau bedah

September nol empat lalu, kau dan ibu

Di samping ranjang bedahku

Aku tak mati kala itu

Kini bapakku

Aku benar ati

Putrimu Eva, istriku ikut mati

Cucumu semua ikut mati

Bersamaku 

Kami diterkam air bah Laut Aceh

Tsunami !

Tanpa ampum!

Tanpa pamit padamu

Bapak batakku 

Ku nanti kau dan ibu

Di pintu surga

Kami kini di sana

Kami meninggalkan Meulaboh selamanya

Salam kami, anak dan putrimu Eva dan cucu mungilmu

Ipul – Eva

*****

Antara Diri dan Waktu

Antara Diri dan Waktu
puisi perpisahan

*****

 Antara diri dan waktu

Selesai membenahi ruangan

Kawan – kawan segera akan datang

Naskah musyawarah baru saja selesai di rumuskan

Mata terpandang nanar

Pada kalender tergantung di ruang belajar

Diri pun terkejut sadar

Besok akan ku lewati usia empat enam !

Apakah waktu menghianati aku

Ketika aku di sibuki dengan ceramah 

Ketika aku berkhotbah tentang 

Cakar hitam dan pagi biru,

Ketika gairah ku habiskan di konferensi

Dan rapat- rapat

Ketika istri ku cium sebentar lalu pergi

Ketika anakku lelaku hanya menatap

Ayahnya pamit berangkat

Hari ini aku berangkat menua

Melampaui usia empat lima

Mengakhiri usia empat enam

Masih ada waktu melempar bayang

Menanya isi dan keislaman

Tentang khianat dan bakti

Tentang dosa dan pengampunan suci

Tentang kawan berdoa pengisi sunyi

Ini tidak berarti

Permainan akan selesai

Dan aku boleh pergi meninggalkan gelanggang

Barangkali peranan akan bertukar

(Fridolin Ukur)

*****

Hanya Puisi

Hanya Puisi
puisi perpisahan

*****

 Hanya ada puisi 

Di sela- sela jemariku

Menuntun pulang kata- kata

Tanpa sepasang mata mu

Hanya ada puisi,

Di belantara kepalaku

Riuhkan bait- bait rumit

Mengalir di antara bibirmu

Hanya ada puisi,

Di pantai dan surut

Di gunung dan kabut

Di langit dan laut

Barangkali,

Di kamu dan aku

*****

Salam Perpisahan

Salam Perpisahan
pixabay.com

*****

(Oleh : Amelia Prishanty)

Mata yang berkaca- kaca

Jantung yang berdetak- detak tak menentu

Itulah terpaan gemuruh rasa dalam hatiku

Jarak kita pun kian membentang

Kini hatiku tergores kesedihan

Ketika terucap salam perpisahan

Akankah semuanya jadi terkenang

Bahkan mungkin terkubur oleh waktu dan keadaan

Kini semua tinggal kenangan

Kenangan indah yang telah kita lalui

Canda – tawa

Sedih

Khawatir dan rasa takut terpisahkan

Itulah perasaan yang menggulumi hati kita selama ini

Sobat

Akan tetap membekas suatu kenangan

Dan aku takkan lupa dimana waktu dulu kita bersama

*****

Bianglala Rapuh

Bianglala Rapuh
puisi perpisahan

*****

Bianglala menggelinding di bawah langit

Menyusuri udara bergambar biru

Mengisahkan dua sejoli yang mengadu temu

Berbincang dengan besi tua berkarat rapuh

Melihat angin berekspresi melucu

Mendengarkan asiknya daun berjabat tangan dengan ranting bisu

Burung kenari mengintip tipis

Ke arah mata yang duduk di bagian biang lala

Yang di bawah menunggu dengan menggerutu

Mengantri sampai berlumut kaki itu

Sungguh penampakan penumpang rusuh

Tak ada yang kecewa dengan waktu

Mereka setia bertemu sang surya langsung

Hanya demi kau bianglala kusut

*****

Sajak Perpisahan Sepihak

Sajak Perpisahan Sepihak
puisi perpisahan

*****

(Oleh : Fitri Nur Vaindah Rohma )

Sajak perpisahan merunyam 

Batin mencoba menitih luka aksara baru

Bertamu pada pintu- pintu patah hati

Terlilit pada golongan penikmat air mata

Berparas sayu yang remuk diam- diam

Dunia tahu perpisahan itu kejam pada manusia

Mereka menjadi bayangan hitam tanpa ampun

Bersembunyi di cela- cela puing- puing kebodohan hubungan

Menyendiri di pojok cinta sendiri yang tak berkasih

Melihat dia yang masih berbahagia dengan yang sekarang

Merobohkan harapan kembali bersama

Tapi jika ada penyesalan jangan memohon untuk kembali

Kau tabur duri maka tak akan ada apel yang tumbuh

Lelakiku bukan begini

Dia memintaku untuk bertahan bukan melepaskan

*****

Baca Juga Pantun Nasehat

Itulah tadi beberapa puisi yang berkaitan dengan perpisahan. Perpisahan mungkin hal sangat menyedihkan, tapi terlepas dari itu semua kita harus menerima adanya perpisahan. Semoga artikel ini dapat menghibur pembaca. 

Tinggalkan komentar