10 Buaya Terbesar Di dunia beserta Gambar dan Penjelasan

Pernahkah Anda melihat buaya terbesar di dunia? Ya, buaya-buaya ini memerlukan usaha lebih untuk dapat mengetahui ukurannya. Dan ketika berhasil di ukur entah itu dengan di bius atau mengukur saat mereka telah mati di dapatkan ukuran yang panjang dan besar.

Hingga nama-nama mereka berhasil masuk dalam catatan 10 buaya terbesar di dunia versi Guinness Books of Record. Rekor tersebut di peroleh dari berbagai buaya yang di temukan dari perairan-perairan yang ada. Entah itu di temukan dalam keadaan hidup atau mati, Buaya memang termasuk ke dalam golongan reptil berbahaya. Selain ukurannya yang besar, berdekatan dengannya bisa menggulung nyawa manusia.

Oleh karena itu hewan ini seringkali menjadi buruan karena meresahkan warga. Tidak hanya sering menelan korban manusia, hewan-hewan ternak pun bisa menjadi sasaran mereka. Jika buaya sungai biasa pun mampu melakukan hal tersebut. Lalu apa yang mungkin dilakukan oleh 10 buaya terbesar di dunia? Masyarakat memang sudah sering merasa resah dengan kehadiran mereka.

Dan penangkapan atau membunuh buaya-buaya ini di anggap menjadi solusi untuk merasa lebih aman. Sepuluh buaya terbesar ini akan menggambarkan apa yang mungkin terjadi jika anda tinggal di sekelilingnya.

Buaya Terbesar di Dunia

BUAYA TERBESAR DI DUNIA

Puento Noire (5,40 meter / 17,71 kaki)

PUENTO NOIRE
dunia-ikan-news.blogspot.com

Puento Noire adalah sebutan bagi buaya yang di temukan di wilayah Kongo, tepatnya daerah Puento Noire. Buaya ini terbunuh dalam sebuah operasi yang di lakukan di daerah perairan Puento Noire. Ukurannya di perkirakan mencapai 17, 71 kaki atau setara dengan ± 5,4 meter.

Gomek (5,42 meter / 17,8 kaki)

GOMEK
moondoggiesmusic.com

Buaya Gomek adalah jenis buaya air asin dan di temukan di Papua Nugini oleh George Craig. Ia adalah seorang pawang buaya. Ketika itu buaya ini dalam keadaan hidup dengan berat 860 kg dan memiliki panjang 17,8 kaki atau 5,42 meter. Pada tahun 1985 Terri dan Arthur Jones membeli Buaya Gomek dari George Craig dan di tempatkan di Ocala, Florida.

Buaya ini tinggal di sana selama 5 tahun hingga kemudian di jual dan di tempatkan di Taman Zoologi St. Augustine di Florida. Di sana ia mampu bertahan selama 8 tahun dan menjadi hiburan bagi para pengunjung. Jarak terdekat yang di izinkan adalah 1 meter. Namun, keamanan dan keselamatan tetap terjamin karena ada banyak penjaga dan pawang di taman tersebut.

Sedangkan untuk memberi makan, pengunjung akan di berikan sebuah alat penjepit. Pada dasarnya Buaya Gomek adalah salah satu jenis buaya yang jinak meskipun memiliki ukuran tubuh yang sangat besar. Kehidupannya cukup menarik bagi para pengunjung hingga akhirnya terserang penyakit jantung dan mati pada 6 Maret 1997. Kondisi usianya pun memang sudah terbilang tua di taman tersebut, berkisar antara 60 hingga 80 tahun.

Selama masa hidupnya di taman itu Buaya Gomek sangat ramah dengan para petugas yang merawatnya. Bahkan mereka bisa memberikan daging tanpa menggunakan penjepit, menunjukkan bahwa rasa aman dan kedekatan mereka terhadap Buaya Gomek terus terjaga.

Cassius (5,48 meter / 17 kaki 11 in)

CASSIUS
www.kompasiana.com

Buaya Cassius tinggal di perairan Australia. Guinness World of Records mencatat Cassius sebagai buaya terbesar pada tahun 2011. Nasib malang menimpa buaya ini, ia telah kehilangan satu kakinya yakni kaki bagian kiri serta bagian ujung ekor karena berkelahi dengan buaya lain. Penangkapan di lakukan pada tahun 1987 karena Cassius menyerang sebuah kapal yang berlayar di Sungai Finis wilayah Utara.

Ukurannya mencapai angka 17 kaki 11 in atau setara dengan 5,48 meter. Buaya ini juga di tangkap oleh George Craig yang memang familiar dengan berbagai jenis buaya besar setelah sebelumnya menangkap buaya Gomek. Ia pun mengamankan buaya- buaya tersebut di tempat yang layak. Memberinya makan dan tetap berhati-hati terhadap mereka.

Karena, bagaimanapun ia bisa terluka bahkan termakan hidup-hidup oleh keduanya jika memberikan kesempatan sedikit saja.

Yai (5,5 meter / 18 kaki)

YAI
moondoggiesmusic.com

Yai merupakan buaya siam hibrida. Ia pernah tinggal di Kebun Buaya Thailand. Panjangnya mencapai 5,5 hingga 6 meter. Buaya ini hampir mirip dengan buaya Gomek yakni cukup aman untuk di dekati dalam jarak umum. Namun, siapapun tentu tetap harus berhati-hati karena ia pun bisa menunjukkan agrasivitasnya di hadapan banyak orang.

Buaya Utan (18 Kaki)

BUAYA UTAN
it.wikipedia.org

Menjadi bagian dari buaya terbesar di dunia, ukuran Buaya Utan mencapai 18 kaki panjangnya. Utan merupakan buaya air asin, lahir pada 1964 dan memiliki berat tubuh £ 2000 dengan panjang 18 kaki. Buaya ini di temukan di Kebun Buaya Samut Prakan, Thailand. Kebun ini berada sekitar 12 mil dari pusat kota Bangkok.

Brutus (5,60 meter / 18 kaki 4 in)

BRUTUS
www.pexels.com

Di posisi kelima, sebutlah buaya ini dengan nama Brutus. Panjangnya sekitar 5,60 meter atau setara dengan angka 18 kaki 4 in. Brutus menjadi salah satu objek wisata yang berada di Sungai Adelaide, Australia.

Buaya yang tinggal di wilayah air asin ini hidup dengan tiga kaki setelah kehilangan salah satu kaki bagian depannya akibat perkelahian yang terjadi dengan hiu banteng di muara Sungai Adelaide.

Brutus di perkirakan memiliki berat satu ton. Buaya besar ini cukup agresif, karena bagaimana pun buaya tetaplah buaya. Berbahaya.

Bujang Senang (5,88 meter / 19 kaki 3 inci)

BUJANG SENANG
steemit.com

Dari namanya, sebagian dari kita mungkin sudah tahu dari mana asal buaya ini. Ya, Malaysia. Negara ini memiliki satu di antara 10 buaya terbesar di dunia. Bujang senang merupakan buaya air asin yang tinggal di perairan pulau Kalimantan. Beberapa sumber lokal menyatakan bahwa Bujang Senang adalah pemakan manusia.

Bahkan mungkin saja dia telah menelan korban di area sekitarnya. Buaya ini memiliki tubuh yang terbilang sangat panjang. Awalnya ia di perkirakan memiliki panjang yang berkisar pada angka 2 kaki atau mencapai 7,62 meter. Sangat panjang bukan.

Namun, ketika didapati terbunuh pada 20 Mei 1992, rupanya ia hanya memiliki panjang 19 kaki 3 inci atau 5,88 meter dan memiliki berat tubuh lebih dari satu ton. Kini buaya Bujang Senang tak lagi ada. Tapi, namanya telah tercatat sebagai salah satu buaya terbesar di dunia.

Gustave (~ 6 meter / 19,68 kaki)

GUSTAVE
style.tribunnews.com

Gustave, buaya sungai Nil jantan yang kokoh dan besar dari Burundi telah membunuh 300 manusia dari tepian Sungan Ruzizi serta pantai Utara yakni di Danau Tanganyika. Ia pun menjadi satu dari sekian banyak buaya yang tercatat dalam daftar ukuran terbesar. Karena sangat mungkin baginya untuk menyantap manusia dengan tubuh yang besar itu.

Nama Gustave adalah nama pemberian dari seorang herpetologis yakni Patrice Faye. Ia telah banyak melakukan penyelidikan sejak akhir tahun 1990-an. Banyak hal di perolehnya melalui apa yang tampil di film Capturing the Killer Croc 2004 lalu yang merupakan hasil karya dokumentasi upaya penangkapan terhadap Gustave. Patrice Faye pun semakin tertarik dengan buaya besar ini.

Selama belum di tangkap, berat dan panjang buaya ini tentu belum dapat di ketahui secara pasti. Namun, perkiraan-perkiraan terus muncul. Di antaranya ada yang menyatakan bahwa buaya Gustave memiliki panjang lebih dari 20 kaki atau setara dengan lebih dari enam meter dan bertubuh seberat lebih dari 1 ton.

Perkiraan lain menyatakan buaya Gustave memiliki panjang mencapai 7,5 meter atau 25 kaki. Berdasarkan pengamatan, buaya Gustave di perkirakan sudah hidup 100 tahun lamanya dengan ukuran yang tampak sangat besar. Namun, ketika menyaksikan Gustave membuka mulutnya, giginya masih tampak utuh dan lengkap.

Jika perkiraan usianya 100 tahun, seharusnya Gustave memiliki gigi-gigi yang sudah ompong. Sehingga muncul perkiraan bahwa buaya ini mungkin masih berusia di bawah 60 tahun dan berada dalam masa pertumbuhan. Berbagai macam upaya penangkapan telah banyak di lakukan.

Tiga bekas tembakan peluru menjadi bukti ganasnya buaya ini yang sangat sulit untuk di taklukkan. Bahu kanannya pun pernah di temukan dalam keadaan luka parah. Para ahli herpetologi sudah lama mempelajari tentang buaya Gustave. Mereka menganggap bahwa ukuran berat dan panjang tubuhnya itu cukup memengaruhi kemampuan Gustave untuk memangsa spesies-spesies hewan yang lincah seperti ikan, zebra atau kijang.

Sehingga lebih mudah baginya untuk menaklukkan binatang-binatang yang lebih lambat bergerak seperti kudanil atau rusa hutan besar dan bahkan manusia. Pernah di temukan Gustave tidak memakan seluruh bagian tubuh manusia. Hal itu sesuai dengan film dokumenter yang pernah di buat. Gustave juga mampu memilih mangsa dengan sangat hati-hati. Hal itu memengaruhi kemampuannya bertahan hidup.

Terakhir kali Gustave terlihat pada Februari 2018 lalu. Entah bagaimana kabarnya sekarang, mungkin mati namun mungkin juga masih bertahan menjadi predator. Pada tahun 2015 penduduk sekitar ada yang memberikan klaim bahwa Gustavo tampak menyeret seekor kerbau dari tepi sungai. Namun, entah bagaimana kevalidan informasi tersebut. Gustavo tetaplah buaya besar yang sulit di tangkap.

Dominator (6,1 meter / 20 kaki)

DOMINATOR
www.centroone.com

Perangi buaya yang satu ini mungkin sesuai dengan namanya, yakni Dominator. Mungkin saja ia mendominasi wilayah hidupnya yakni di perairan asin. Ukuran tubuhnya mencapai panjang 6,1 meter atau 20 kaki dan memiliki berat lebih dari satu ton. Buaya ini tinggal di wilayah yang sama dengan buaya air asin lain seperti Brutus yang berada di wilayah sungai Adelaide Australia.

Lolong (6,17 meter / 20 kaki 3 in

LOLONG
m.metrotvnews.com

Buaya Lolong pernah tinggal di sebuah penangkaran. Berdasarkan pengukurannya, tubuh Lolong memiliki panjang 20 kaki 3 in atau 6,17 meter serta berat sekitar 1,075 kg, lebih dari satu ton. Lolong merajai ukuran seluruh buaya di dunia di ukur dari bagian mulut atau moncongnya hingga ke ujung ekor.

Buaya ini merupakan buaya air asin atau Indopasifik paling besar dan memiliki nama latin Crocodylus Porosus. Dr. Adam Britton pernah membius buaya Lolong, kemudian mengukurnya pada November 2011 lalu. Sejak saat itu, buaya ini di konfirmasi sebagai buaya terpanjang dan terbesar.

Penangkapan terhadapnya di lakukan di sungai Bunawan yang berada di provinsi Agusan del Sur, Filiphina pada 13 September tahun 2011. Dengan gabungan unit pemerintah setempat dan melibatkan penduduk sekitar penangkapan berhasil di lakukan setelah terus menerus di buru selama tiga minggu.

Setelah berhasil membidik posisi Lolong, di butuhkan sekitar 100 orang untuk menarik buaya itu ke darat. Buaya ini begitu agresif dan cukup berbahaya. Bahkan ia telah memutuskan tali penahan hingga pada akhirnya berhasil di tangani dengan lebih aman.Usianya di perkirakan baru menginjak angka 50 tahun.

Masyarakat setempat beberapa kali mendapati mayat manusia yakni seorang gadis dengan usia 12 tahun pernah di temukan dua tahun sebelum Lolong di buru dan ditangkap. Tak cukup satu, seorang nelayan pun ditelannya. Hal itu tentu meresahkan masyarakat. Beberapa kerbau pun sempat hilang.

Setelah di tangkap, kondisi lambung buaya ini dicek dan didapati sisa-sisa kerbau di dalamnya. Namun tidak satupun bagian tubuh manusia ada di sana. Nama buaya ini ternyata di ambil dari pemburunya yang meninggal beberapa hari sebelum buaya berhasil di tangkap. Ialah Ernesto Lolong Goloran Canete.

Ia berasal dari Pusat Buaya dan Suaka Margasatwa dan berlaku sebagai pimpinan perburuan. Namun, setelah beberapa minggu terus menelusur dan mendeteksi keberadaan buaya, kesehatannya terganggu hingga akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal. Meskipun awalnya terlihat sangat agresif terutama saat di tangkap, buaya Lolong tampak diam dan tidak terlalu agresif ketika sedang berada di kandang penangkaran.

Dalam hal ini, sangat memungkinkan baginya mengalami stres setelah sekian lama tinggal di tempat yang sangat bebas. Bisa di bilang di alah penguasa perairan tempatnya di tangkap. Namun, ketika mendapati dirinya berada di lingkungan dengan suasana yang berbeda di sertai dengan keterbatasan lingkup, maka ia cenderung menjadi lebih diam. Hal ini akan biasa bagi mereka yang mengerti dan mempelajari mengenai kehidupan vertebrata.

Aktivis organisasi nonpemerintah Animal Kingdom Foundation Inc., telah mendesak pemerintah setempat Bunawan untuk mengembalikan buaya Lolong ke sungai Era Barangay Nueva, yakni tempat reptil raksasa itu di tangkap. Namun, hal itu memicu perdebatan, walikota Bunawan Edwin "Cox" Elorde dan penduduk Barangay menolak pembebasan buaya Lolong kembali ke wilayah tersebut, karena hal itu di anggap berbahaya dan dapat
mengancam keselamatan warga dan makhluk sekitarnya.

Pada akhirnya buaya Lolong meninggal hanya dalam 18 bulan setelah di tangkap, di waktu sekitar jam 8 malam pada tanggal 10 Februari 2013. Penyebabnya ialah karena terjadi gagal jantung kongestif yang di perparah oleh pneumonia jamur, lipidosis hati dan gagal ginjal. Seorang ahli yakni Dr. Adam Britton sempat menyatakan bahwa buaya ini mungkin terlihat menjadi lebih baik ketika berada di penangkaran.

Namun, kenyataannya itu bukanlah rumah mereka. Kebebasan berada di alam alami adalah tempat terbaik yang seharusnya. Namun tidak pula dapat di pungkiri bahwa keberadaannya dapat menjadi marabahaya bagi manusia
yang tinggal di sekitar tempat hidup buaya Lolong. Perbedaan terjadi pada buaya ini ketika berada di penangkaran.

Biasanya buaya yang mengalami stres tidak akan makan, namun buaya Lolong tetap makan dan bersikap normal. Namun ternyata di balik itu, ia sesungguhnya merasa tidak nyaman berada dalam penangkaran. Berbagai macam penolakan terhadap pelepasan buaya ini menjadi alasan agar Lolong tetap berada dalam kandang penangkaran.

Di waktu yang sama, ia pun berhak mendapatkan kehidupannya. Lagi pula tidak akan mungkin untuk memusnahkan semua hewan liar agar kita merasa aman. Lagi-lagi keberadaan Lolong telah di anggap sebagai ancaman bagi
manusia. Hal itu tak pernah bisa di pungkiri. Kini namanya tercatat sebagai buaya terbesar dan terpanjang dengan ukuran 20,25 kaki atau setara dengan 6,17 meter.

Tinggalkan komentar