6 Contoh Cerpen Horror yang seram dan Menakutkan

Cerpen horror – Dari beragamnya bacaan, jenis cerita horror memiliki penikmat tersendiri. Membaca cerita horror menjadi kegemaran bagi sebagian orang. Nuansa ghaib yang seram justru bisa menjadi daya tarik untuk pembaca. Banyak cerita horror dilabeli khusus dewasa, tetapi juga banyak cerita horror yang cocok untuk segala umur.

Ada yang berbentuk novel, cerita bersambung, sampai cerita pendek (cerpen) horror. Membaca cerita horror, baik yang panjang, bersambung, maupun cerita pendek, memiliki banyak manfaat. Beberapa di antaranya; dapat melatih keberanian, menambah pengetahuan sebab sebagian cerita mengandung unsur atau berdasarkan kenyataan, menstimulasi otak agar terus berpikir serta menganalisis, serta menghibur.

Pembaca akan merasa penasaran dan mau tidak mau akan membaca sampai selesai. Di bawah ini akan disajikan beberapa cerpen horror yang diadaptasi dari berbagai sumber. Selamat membaca!

Cerpen Horor Petak Umpet di Apartemen Baru

Cerpen Horor Petak Umpet di Apartemen Baru
today.line.me

Darla dan Daphne, saudari sekandung dan kembar tinggal di sebuah apartemen. Malam ini, mereka sendirian di sana, kedua orang tuanya sedang menghadiri pesta teman lamanya. 

“Jaga rumah kita ya, Nak! Jadilah putri-putri ayah yang baik,” kata Hudson, ayah Darla dan Daphne.

Waktu tanpa kegiatan terasa seperti tong yang hampa. Si kembar Darla dan Daphne memutuskan untuk bermain petak umpet di ruang apartemen mereka. Daphne memperoleh waktu jaga, sedangkan Darla mencari tempat bersembunyi tanpa ketahuan oleh saudari kembarnya. Daphne mulai menghitung… 1… 2… 3… hingga hitungan ke 10 ia mulai membuka mata dan mulai mencari Darla.

“Bersiaplah, Darla! Aku akan mencarimu, hihi,” Seru Daphne sembari mencari saudari kembarnya. 

Daphne melihat dan mencari celah demi celah di sekitarnya. Ia mencari Darla di kamar, belakang sofa, belakang TV, sekitar perapian, dan di kamar tidur. Namun, ia masih belum menemukan si Darla, bahkan bayangan maupun batang hidungnya masih belum terlihat.

Senyap, itu adalah sebuah kata yang menggambarkan kondisi apartemen mereka. Suara kendaraan di luar pun nyaris tak terdengar sekalipun itu ramai. Hingga Daphne memasuki kamar mandi di ruang apartemennya. Seusai ia menyalakan lampu kamar mandi, ia mendapati bayangan gadis kecil dibalik tirai kamar mandinya. 

“Ahaahaa… akhirnya kutemukan kau!” seru Daphne yang mendapati saudari kembarnya disana. Namun, bayangan tersebut seakan tak bergeming sama sekali. Jikalau itu benar Darla, seharusnya ada suatu gerakan yang merespon seruan Daphne itu. Tapi tidak pada kenyataannya. 

“Daar, Darlaa. Itukah kau?”

Perasaan Daphne kian tidak enak. Udara nan dingin menusuk kedalam tulang rusuk dan kalbu yang gusar. Perlahan Daphne melangkah dan memberanikan diri untuk membuka tirai kamar mandinya. Jantungnya kian berdegup kencang, merinding dan gemetar juga menghiasi perasaan yang hinggap pada dirinya. 

“Darlaa.. Darlaa,” panggil Daphne lirih ke arah tirai kamar mandi. Ia menarik nafas yang dalam untuk menemui bayangan hitam yang mirip saudarinya itu. Daphne mulai menyentuh tirai dan bersiap membukanya. 

“Daphne, sedang apa kau di depan tirai?” 

Tiba-tiba ada suara yang memanggil Daphne dari belakang. Daphne kaget sejadi-jadinya, ia pun menoleh ke belakang dengan nafas yang terengah-engah. Keringat dingin mulai mengucur dari tubuh Daphne. 

Ternyata yang memanggil Daphne barusan adalah Darla, saudari kembar yang Daphne cari dalam permainan menakutkan ini. 

“Darla, tidak mungkin,” gumam Daphne seraya menoleh tak percaya ke arah Darla yang asli. 

“Astaga, Daph! Ada apa denganmu?” tanya Darla.

Darla seakan bingung dengan apa yang telah terjadi. Darla juga tidak melihat apapun di balik tirai tersebut. Hanya ada tirai yang berwarna hijau muda tanpa suatu noda hitam. Sederhananya, di apartemen Tuan Hudson hanya ada Daphne dan Darla, tidak ada orang selain mereka berdua. 

Daphne kembali menoleh ke arah tirai. Daphne kini tidak melihat satupun bayangan hitam yang semula ia lihat sebelum Darla datang. Daphne tak bisa berkata sepatah katapun lagi, keganjilan yang ia dapati malam itu. 

Bruuukk!!

Daphne tumbang tak berdaya dengan sejuta ketakutan yang melanda dirinya. 

Cerpen Horor Pocong Camping

Cerpen Horor Pocong Camping
www.idntimes.com

Hari libur telah tiba, liburan di akhir tahun yang telah lama ditunggu-tunggu. Bejo, Udin, Marwan, Openg, dan Popon memutuskan untuk berkemah sekaligus mengisi waktu libur mereka. 

Ketika tiba di bumi perkemahan, suasana dingin dan berkabut menghiasi senja yang kian menyingsing. Mereka berlima terlambat datang ke sana, seharusnya mereka datang pada sore hari sebelum petang. 

“Ah, gara-gara kamu sih, Din! Kita jadi telat datang ke sini,” ungkap Bejo jengkel kepada Udin. 

“Ya nih, Din! Kalau kamu gak kebelet di jalan tadi pasti kita sampainya pas masih terang,” tandas Openg. 

Udin, si malas yang berada di kelompok tersebut hanya tersenyum kecil dan menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Ia tahu bahwa dirinya sendiri yang menyebabkan kawan-kawannya datang terlambat. 

“Maaf ya, teman-teman,” ujar Udin.

Sesampainya di tempat perkemahan, Bejo, Udin, Openg, Marwan, dan Popon bergegas menyusun tenda untuk mereka bermalam. Selain itu, Bejo dan Popon juga membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh dan menerangi sekitar tempat perkemahan mereka. Rimbun, sunyi, banyak tumbuhan liar, itulah gambaran singkat sekitar bumi perkemahan tempat mereka singgah. 

“Uhh, aku kok tiba-tiba merinding, ya?” keluh Openg seusai mendirikan tenda bersama kawan-kawannya. 

Halah! Cuma perasaanmu saja, Peng, sudahlah ayo kita makan dulu,” ungkap Popon sambil menghela nafasnya. 

Waktu makan malam pun tiba, Bejo, Marwan, Openg, dan Popon mulai memasak mie instan dengan api dari tungku yang mereka buat. 

Lho, mana si Udin?” tanya Popon kepada ketiga kawannya. Bahkan, diantara mereka berempat tidak ada yang menyebutkan keberadaan Udin. Mereka semua menggelengkan kepala sembari menikmati  makanannya masing-masing sembari menunggu Udin kembali. 

“Mungkin nanti dia ke sini, dia sedang buang air di sungai dekat sini,” ujar Bejo sembari mengunyah sisa makanan yang masih ada pada mulutnya. 

Tiba-tiba …

Sreek…. sreek… sreek….

“Hey, siapa itu?!” seru Openg dengan nada yang penasaran.

Bejo, Marwan, Popon, dan Openg menoleh kearah semak sumber suara aneh itu. Tiba-tiba, wangi minyak jelantahpun muncul dari balik semak belukar itu.

“Astaga! Bau macam apa ini.” Spontan mereka berempat langsung menutup hidung dan berdekatan satu sama lain. 

Kemudian dari arah tenda, muncul sesosok berbalut kain putih keluar dari tenda mereka. Sosok tersebut melompat-lompat dan mendekat ke arah Bejo, Marwan, Popon, dan Openg. Sontak saja mereka berempat langsung berpelukan erat satu sama lain di dekat perapian.

“A… Ampun, mbah! Jangan ganggu kami,” cicit Marwan ketakutan hingga suaranya terbata-bata. Sementara yang lainnya masih bermunajat dan berdoa agar sosok itu pergi.

Huaaa!!!!

“Hmmm… hmmm… tolong.” Ada suara gumaman dari balik balutan kain putih itu.

Astaga, ternyata itu adalah Udin! Ia terbungkus sleeping bag miliknya sendiri yang berwarna putih, hingga ia tak bisa berjalan dan akhirnya melompat-lompat tak karuan.

“Astaga, jadi kamu adalah Udin! Ah, kamu kerjaannya nakut-nakuti orang saja!”  sahut Bejo yang geregetan dan keheranan dengan kondisi Udin tersebut. Udin pun dibantu melepaskan diri dari sleeping bag yang membalut dirinya sendiri. 

Udin kini menjadi bulan-bulanan kawan-kawannya sendiri karena ulahnya yang usil, namun juga menakutkan dalam situasi malam yang sunyi. “Heyy, ngapain kamu tadi nggak ikut makan sama kita semua?” tanya Openg kepada Udin dengan gemas.

“Heyy.. maaf. Aku setelah dari sungai ngantuk dan ingin langsung tidur saja, eh ternyata aku terikat oleh sleeping bag punyaku sendiri,” ungkap Udin sambil memegangi kepalanya. 

“Hayoo… jangan-jangan kamu ya yang membuat suara di semak-semak itu dan menyebarkan wangi minyak jelantah kan?” sahut Marwan dengan pertanyaan yang mengarah kepada Udin. 

“Sumpah teman-teman, bukan aku,” Udin kian kelimpungan menanggapi pertanyaan kawan-kawannya tersebut. 

“Tapi, bukannya kamu juga membawa parfum juga, Din?” tanya Popon curiga. 

“Parfumku masih tertutup rapat dan tidak berbahan minyak jelantah!” jawab Udin. 

Lhooo….

Spontan saja lima sekawan itu saling berpandangan satu sama lain sekarang. Anehnya,  aroma minyak jelantah itu telah hilang dan suara gemerisik semak-semak tersebut juga telah usai. 

“Aaaahhhh ….. tidaaaaaakkk!!!” Bejo, Marwan, Udin, Openg, dan Popon langsung mengemasi makanan mereka dan langsung masuk ke tenda. Mereka ketakutan hingga tenda pun dibuat semerawut karena kejadian itu. 

Cerpen Horor Sambutan Seorang Sahabat

Cerpen Horor Sambutan Seorang Sahabat
masbocah.com

Di suatu malam yang diterpa hujan badai, Alfred berkunjung ke rumah sahabat karibnya, Johnson. Rumah Johnson cukup besar, secara keluarganya adalah keluarga konglomerat yang terkenal di Negara Bagian Virgina. Tak sungkan Johnson untuk menemani Alfred yang mempunyai kehidupan sederhana. 

Sudah lama Alfred tak bertemu Johnson sejak ia keluar dari akademi militer di North Carolina. Selama setahun lebih, Alfred tidak berjumpa dengan sahabat kecilnya itu. Alfred pun telah berjanji kepada Johnson melalui surat untuk bertamu ke rumahnya selepas Alfred keluar dan lulus dari akademi militer. 

“Selamat datang Alfred saudaraku! Senang bisa bertemu denganmu, mari aku antar kau berkeliling rumahku yang sederhana ini,” sambut Johnson hangat namun tetap rendah hati. 

Lalu Alfred dan Johnson bersama-sama berkeliling sebuah rumah yang mirip dengan istana. Rumah itu terkesan suram ketika tidak ada tanda-tanda kehidupan padahal setahu Alfred Johnson memiliki ayah, ibu, dua adik perempuan, dan banyak pelayan yang tidak dapat dihitung dengan kedua jari tangan. Anehnya, tak satu pun ada orang yang Alfred temui di sana selain Johnson. 

“Kau ingin makan atau meminum sesuatu, kawan?” Johnson menawarkan untuk menyuguhkan sesuatu kepada kawan lamanya. 

“Aku ingin sesuatu yang terbaik dari dirimu, saudaraku,” ungkap Alfred seraya duduk di sofa depan rumah Johnson. 

“Dengan senang hati,” tanggap Johnson.

Alfred kemudian menyempatkan diri untuk melihat foto-foto yang terpajang di sekitar ruang tamu Johnson. Ia melihat berbagai tulisan dan gambar yang tak lazim alias di luar nalar. Foto-foto keluarga Johnson terlihat usang, dan di sekitarnya banyak ditulisi bahasa latin yang seperti bahasa dalam Alkitab.

Dan ketika melihat foto keluarga Johnson, seluruh wajah keluarga Johnson terlihat murung dan sedih. Alfred bertanya-tanya dalam hati tentang sebenarnya apa yang terjadi. Ditambah lagi, terakhir kali ketika ia mengunjungi rumah sahabat kecilnya itu, pose mereka terlihat bahagia dengan guratan senyum yang merona dari wajah Johnson beserta keluarganya. 

Alfred pun berbalik dan tiba-tiba ….

“Sedang melihat foto-foto ini?”

Tiba-tiba Johnson sudah berdiri tepat dibelakang Alfred. Seketika Alfred kaget dan jantungnya hampir meletus dari tubuhnya. 

“Uhm… iyaa. Aku hanya sedikit berkeliling saja,” tandas Alfred sedikit gugup. 

Anehnya, Johnson menatap Alfred dengan pandangan dan ekspresi muka yang datar. Pun dengan bibirnya yang cenderung pucat menambah kecurigaan Alfred terhadap sahabat kecilnya itu. 

“Johnson, kau terlihat pucat, kawan. Apakah kau merasa sakit sekarang?” tanya Alfred cemas. 

Johnson dengan tatapan dan ekspresi yang sama sebelumnya hanya menggelengkan kepala. Lantas, ia mengajak Alfred untuk meneguk secangkir teh hangat di ruang tamunya. 

Ada hal ganjil ketika Alfred meneguk teh yang disajikan oleh Johnson. Pahit sekali, jenis rasa yang di kecap oleh Alfred ketika meneguk teh yang disajikan sahabatnya tersebut. “Hey kawan, apakah kau lupa memasukkan gula?”

“Tidak ada gula disini,” Johnson hanya menjawab dengan nada yang datar. Alfred yang merasa sungkan meneguk pelan-pelan teh yang Johnson buat, sepertinya teh itu racikan dari Asia. Anehnya pula, Johnson juga tak banyak bicara ketika bersama Alfred –bahkan nyaris tidak pernah. 

Hujan mulai reda, Alfred berpamitan kepada Johnson untuk kembali pulang. Namun, sebelum pulang ia mengajak Johnson untuk pergi ke kedai milik Nilles, tetapi Johnson urung untuk memenuhi ajakan Alfred tersebut.

“Selamat malam, Johnson! Semoga malammu menyenangkan kawan!”

Alfred masih terbayang-bayang keanehan yang melanda dirinya ketika berkunjung ke rumah Johnson. Tidak lumrah ketika sahabat kecilnya itu bertingkah laku seperti tadi. Alfred juga menceritakan kejadian itu kepada Nilles, kawannya di SMA bersama Johnson. 

“Apa? Kau malam-malam berbadai ke rumah Johnson?!” Tanya Nilles dengan nada yang keras di meja bar miliknya. 

“Iya, Nilles, aku juga dijamu dan disambut olehnya,” tandas Alfred sembari meneguk secangkir minuman. 

“Astaga!” Kemudian Nilles menyodorkan suatu surat kabar yang ia simpan. Dan dalam headline beritanya berisi tentang kecelakaan yang dialami oleh keluarga Johnson sebulan yang lalu. Dan ironisnya, seluruh anggota keluarga tewas, termasuk Johnson. 

“Oh… sial.” 

Alfred dan Nilles sama-sama merinding. Lalu siapa yang bersama Alfred tadi? 

Cerpen Horor Malam di Apartemen

Cerpen Horor Malam di Apartemen
pixabay.com

Alkisah hiduplah bocah laki-laki bernama Zulkar. Ia tinggal bersama ayah dan ibunya di apartemen kumuh di pinggir kota. Kondisi apartemen tampak perlu di renovasi. Sebagian penghuni apartemen cemas sebab kota tersebut rawan kejahatan, tetapi sebagian lagi tidak peduli.

Keluarga Zulkar tinggal di lantai pertama apartemen. Pada deretan ini, kondisi apartemen paling parah jika dibandingkan dengan lantai-lantai atas. Pintu sulit dikunci secara benar dan beberapa jendela pecah sejak lama. Mirisnya, keluarga Zulkar belum memperbaiki kerusakan itu sedikit pun.

Berbeda dengan kedua orang tuanya, Zulkar kerap sulit tidur. Penyebabnya adalah suara-suara dari luar apartemen. Dia pernah memohon untuk memperbaiki kunci pintu dan kaca jendela. Akan tetapi, orang tua Zulkar mengatakan bahwa untuk saat ini mereka belum memiliki cukup uang untuk melakukannya.

Pada satu malam, Zulkar terbangun karena mendengar bunyi goresan yang aneh. Dengan mata setengah terpejam, spontan ia duduk di kasur sambil berusaha menajamkan pendengaran. Meski begitu Zulkar belum tahu asal suara aneh ini. 

Ia lantas memutuskan untuk mendatangi kamar kedua orang tuanya. Rasa kantuk dan penasaran membuatnya mengabaikan keadaan lorong yang gelap. Tanpa mengetuk pintu, Zulkar langsung menerobos masuk.

“Ma,” panggilnya. “Ma, ada suara-suara aneh di kamar. Aku tidak bisa tidur.”

Ibunya membuka mata sebentar. “Sepertinya cuma ranting pohon yang tertiup angin menggesek kaca jendela,” sahutnya seraya menutup mata lagi.

“Tapi, Ma, di dekat jendela kamarku tidak ada pohon,” rengek Zulkar. 

Ibunya mengibaskan sebelah tangan dengan mata yang masih terpejam. “Berarti ada tikus. Sudah, kembalilah ke kamar. Mama juga mau tidur lagi,” erangnya.

Zulkar agak enggan kembali ke kamar, namun pada akhirnya ia menurut. Ia mencoba melawan rasa kantuknya dengan tidur. Baru saja ia tertidur, terdengar kembali suara garukan. Kali ini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Akan tetapi, bocah itu berusaha melanjutkan tidur dan mengabaikan garukan-garukan aneh.

Tiba-tiba Zulkar merasa sakit di bagian punggung. Rasanya tajam dan sedikit dingin. Refleks Zulkar terbangun dan melompat dari kasur. Ia kembali berlari ke kamar orang tuanya dengan rasa takut dan tanpa sadar menangis. Punggungnya lebih sakit dari digigit serangga. Barangkali ada serangga yang lebih dewasa tertindih saat ia tidur.

Kali ini Zulkar membangunkan ayahnya. “Pa,” panggil Zulkar. “Papa, punggungku digigit sesuatu.”

Ayah Zulkar menggosok mata sebentar lalu beranjak dari tempat tidur. Ia memeriksa punggung putranya. Ia heran piyama Zulkar sedikit tergores. Begitu di singkap ternyata ada luka tusukan kecil yang masih merembeskan beberapa tetes darah.

Ia langsung memasang wajah serius. Rasa kantuknya tiba-tiba saja hilang. “Ini bukan gigitan binatang, Nak,” katanya.

“Jika bukan serangga, apa itu?” tanya Zulkar yang masih penasaran.

Si Ayah hanya diam. Beberapa detik kemudian ia segera pergi ke kamar Zulkar. Untuk berjaga-jaga ia mengambil tongkat baseball Zulkar yang kebetulan masih berasa di sofa. Ayah pun menyalakan lampu. Zulkar mengekor di balik punggungnya.

Ketika tempat tidur diperiksa, terlihat lubang kecil memanjang di seprei. Sedikit isian kasur berhamburan di sana. Zulkar ingin menanyakan sesuatu tetapi raut wajah sang Ayah yang tegang mengganggu niatnya.

“Umm …. Ada apa, Pa?” Zulkar akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, tetapi ia tidak direspon sama sekali.

Ayah Zulkar lalu membalik kasur. Ia ngeri menyaksikan pemandangan di kolong kasur. Zulkar juga kebingungan melihatnya. Ada lumpur yang mengotori karpet dan pisau panjang yang di ujungnya terdapat setitik darah. Bergegas Ayah melihat ke luar jendela yang memang sulit dikunci. Ada jejak kaki berlumpur yang tampak baru di atas rumput.

Kini Ayah Zulkar menyadari situasinya. Tadi ada seseorang yang masuk ke kamar Zulkar melalui jendela lalu bersembunyi di bawah kasur. Begitu juga dengan asal suara goresan-goresan yang dikeluhkan Zulkar tadi. Ternyata baru saja ada orang yang berbaring di kolong, menusuk kasur, dan mencoba untuk membunuh Zulkar!

Cerpen Horor Siapa yang aku Bonceng?

Cerpen Horor Siapa yang aku Bonceng?
www.hipwee.com

“Sampai jumpa, Boy! Semangat mengerjakan tugas Pak Yuli,” 

“Baik, Alfan! Sampai ketemu besok di kelas sesi dua!”

Kehangatan terasa ketika Boy berpamitan dengan Alfan seusai kelas malam. Pada hari Kamis Boy memang memiliki satu-satunya kelas malam, bahkan itu menjadi pertama kali untuk Boy memperoleh kelas malam. 

Boy adalah satu dari ribuan mahasiswa yang menimba ilmu di salah satu kampus negeri ternama di Ibukota Jakarta. Memang kampus tersebut memiliki kawasan yang luas, pun ketika pagi hingga petang kampus masih ramai. Tetapi ketika seusai kelas malam, keramaian seketika berubah dengan sepi yang mencekam. 

“Ah, astaga! Dimana kontak sepeda motorku?!” Boy kebingungan mencari kunci sepeda motornya. Padahal, ia selalu meletakkannya di saku sebelah kanan celananya. “Hmm.. mungkin aku meninggalkannya di lokerku,”

Boy merasa linglung ketika ia meninggalkan kunci sepeda motornya di loker miliknya. Terpaksa ia kembali ke lokernya di salah satu gedung kuliah di kampusnya. Lumayan jauh jaraknya dari tempat parkir sepeda motor, melewati lorong-lorong yang mencekam. 

Jalan yang dilewati Boy seakan jauh ketika malam hari. Langkahnya kian melambat, entah mengapa mungkin karena ia kelelahan setelah mengarungi hari yang padat. 

“Ah, ini dia aku temukan.” Boy akhirnya menemukan kunci miliknya di lokernya sendiri. Boy langsung memutuskan untuk pulang sebelum gerbang ditutup. 

Huu… huuu.. 

Ada tangisan suara wanita yang didengar oleh Boy saat hendak menuju tempat parkir sebelumnya. Ia menoleh ke samping koridor. Tidak ada siapa-siapa yang menjadi sumber suara itu, tetapi suara itu terus berlanjut. Perasaan Boy semakin tidak mengenakan disana.

“Kak… kak…”

Dag… dig… dug…

Ada suara yang seakan memanggil Boy dari arah belakangnya. Seketika bulu kuduk Boy langsung merinding, ia kemudian memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. 

“Kak.. boleh antar aku pulang?” tanya seorang mahasiswi yang menggunakan jas almamater yang lusuh. 

Ada sedikit nafas lega tercurah dari mulut Boy, setidaknya yang memanggilnya tadi bukanlah hantu wanita yang berdiam di kampusnya. Maya, itu adalah nama yang melekat di jas almamater yang lusuh itu. 

“Halo.” Boy masih menanggapi gugup permintaan gadis berambut hitam yang panjangnya sebahu. Boy masih berpikir siapa dia, banyak pertanyaan yang terpendam dalam benak Boy tentang gadis itu. 

“Tolong Maya, Kak.” Gadis itu mengharap pertolongan. Boy yang merasa ibapun menyanggupi permintaannya dan mengajaknya ikut ke parkiran. 

Anehnya, muka gadis itu terlihat pucat dan rambutnya nampak lusuh. Boy mengira Maya tidak enak badan, Boy berinisiatif untuk mengajak Maya ke rumah sakit terdekat.

“Maukah kau ke rumah sakit di dekat kampus? Kau nampak tidak sehat,”

Maya hanya diam menanggapi tawaran Boy tersebut, aneh untuk dirasakan. Mereka sampai di parkiran motor, Boy langsung menyalakan mesin sepeda motornya dan mulai berjalan mengantar Maya. 

“Di daerah Tanah Kusir ya, kak…” 

Boy pun memacu motornya sesuai permintaan Maya. Ketika ditanya tentang alamat detailnya, Maya kembali tidak menggubris. 

Jalanan yang sepi, hawa udara yang dingin menusuk tulang, membuat suasana hati Boy semakin mencekam. Entah apa yang ia rasakan, seakan tidak ada siapa-siapa di belakangnya. 

“Maya?”

Boy masih memanggil nama Maya, tetapi tak ada jawaban yang menyambut sapaannya itu. Satu tarikan nafas pun tidak terdengar oleh Boy ketika menyetir. Hingga Boy menyadari sesuatu …

“Whoaa!!” Boy terkejut ketika ia berada di tengah-tengah pemakaman umum. Maya pun tidak ada di belakangnya, lantas siapa yang di bonceng Boy dari kampus barusan?

Cerpen Horor Surat Berdarah

Cerpen Horor Surat Berdarah
www.ngelmu.id

Sepeninggal kakaknya, Martha seakan tidak bisa melepaskan kepergian kakaknya yang begitu cepat. Kecelakaan yang harus merenggut nyawa kakaknya yang tercinta menyisakan secarik surat yang ditulis terakhir, dari Jeane untuk Martha. 

Martha, ingatlah bahwa aku selalu menyayangimu, kapanpun dan dimanapun,”

Itu adalah kilasan kata yang tersurat dari Jeane untuk Martha. Surat itu ditulis sehari sebelum Jeane mengalami kecelakaan bus bersama rombongan kawan sekolahnya. 

“Sudahlah Martha, Jeane kakakmu sudah tenang di alam sana,” ucap ibu Martha di depan pusara Jeane. Martha hanya menangis di depan pusara kakaknya sembari memegangi surat terakhir dari kakaknya itu. 

Martha dan ibunya pun kembali ke rumah. Martha yang masih terpukul langsung masuk ke kamar dan merebahkan badannya di kasur. Ia masih tak kuasa membendung air mata dan tak percaya kakak yang benar-benar ia sayangi telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.

“Kakak, kakak,” Martha hanya bisa merengek sembari melihat fotonya bersama Jeane saat libur musim panas. Tanpa disadari Martha pun tertidur dalam larutan kesedihan dan kehilangan yang mendalam. 

 

Dak.. dak… dakkk…

Martha terbangun karena suara benturan di loteng atas kamarnya. Martha baru sadar kalau ia terbangun dalam malam yang sunyi, dingin, nan gelap. Ia juga masih menggenggam surat dari kakaknya tersebut. 

Martha mulai menaiki anak tangga menuju loteng, dengan sejuta kerinduan terhadap sang kakak. Ia melangkah seakan tertarik oleh kerinduan dalam hatinya.

“Martha… Martha… Martha…” 

“Kakak, itukah dirimu? Tidak, tidak, Kakak sudah tiada,” gumam Martha yang masih dalam kesadaran yang setengah.  Sebuah suara yang tak asing lagi untuk Martha, tetapi ia masih tak percaya akan suara itu.

Ketika Martha sudah sampai di loteng rumahnya, terasa suatu cairan hangat mengalir dari surat yang ia pegang. Martha melihat keanehan tersebut, dan ternyata surat itu mengeluarkan darah, darah segar berwarna merah nan hangat!

“Iya Martha, aku ada di depanmu!”

Pandangan Martha tiba-tiba teralihkan ke ujung loteng. Terlihat seorang wanita bergaun putih dengan bercak darah di sekujur gaunnya. Bermuka pucat dengan rambut pirang yang mengering, segenggam buket bunga layu juga ia bawa. Seorang yang tak asing dan sangat dirindukan oleh Martha.

“Martha, masihkah kau ingat denganku?”

Baca Juga Contoh Cerita Fantasi

Cerita pendek horror di atas hanyalah sebuah fiksi yang bisa dijadikan sebagai bahan saat Anda hendak membuat cerpen. 

Selamat membaca!

Tinggalkan komentar