Ragam Kerajaan Hindu Budha di Indonesia dan Peninggalannya

Kerajaan Hindu Budha – Hidup di negara kesatuan yang menganut sistem pemerintahan republik menjadi pengalaman berharga jika di tilik dari rangkaian sejarah yang pernah di lalui pendahulu kita. Keberagaman sudah menjadi hal biasa yang ada di negara tercinta.

Mulai dari adat dan budaya, bahasa, suku bahkan dari postur tubuh dan wajah sebagian dari kita sering mengira-ngira rumah tinggal seseorang yang di temui.

Aneka kultur di Indonesia sangat menarik dan itu tak lepas dari peranan kehidupan masa lampau jauh sebelum kita merasakan kehidupan di Nusantara. Berbagai macam ciri khas bahkan cukup beragam di tiap daerahnya. Kekhususan yang menjadi daya tarik bangsa ini muasalnya dari kehidupan berbudaya yang secara turun temurun di teruskan antar generasi.

Sekolah memberikan kita pelajaran mengenai sejarah dan awal mula terbentuknya bangsa Indonesia yang utuh mencakup lima pulau besar yang multikultural.

Di sana kita akan menemui sejarah masuknya beberapa agama. Meskipun kini mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, ternyata sebelum peradaban agama Islam di mulai, Hindu Budha masuk lebih dulu.

Dari peninggalan berbagai macam candi atau pura yang ada kita dapat menemukan aneka cerita zaman sejarah pada masa Hindu Budha. Kini banyak candi atau pura yang di jadikan sebagai objek wisata dengan segala keterangan sejarahnya yang di harapkan dapat memberikan pengetahuan bagi masyarakat yang berkunjung.

Jejak-jejak itu sekaligus menjadi bukti kehidupan masa lampau yang patut kita hargai. Peninggalan peradaban masa lampau tak hanya berupa candi-candi atau bangunan dengan arsitektur khas Hindu Budha melainkan juga banyak prasasti yang menghiasi museum kita. Benda-benda tersebut tak lain adalah merupakan warisan yang harus di jaga dan di rawat.

Menghargai sejarah adalah tanda bangsa yang bermartabat. Untuk mempelajari sejarah kita bisa melakukan banyak hal, bisa dengan mengunjungi situs-situs budaya, tempat wisata sejarah, museum atau dengan membaca berbagai macam informasi sejarah seperti ulasan peradaban kerajaan Hindu Budha berikut ini.

Permulaan Kerajaan Hindu Budha di Nusantara

www.romadecade.org

Banyak cerita bermula dari datangnya para pedagang yang memperkenalkan kepercayaan kepada masyarakat pribumi. Masyarakatnya masih berpatokan pada kepercayaan animisme sebelum Hindu Budha menjejaki bumi Nusantara. Hingga akhirnya seorang penjelajah bernama Maha Rezi Agastya yang berasal dari India.

Perjalanannya ke Nusantara di lakukan pada awal masehi. Di bawanya ajaran agama Hindu sembari berdagang. Sementara itu sejarah agama Hindu pada masa itu di datangkan oleh I-Tsing di abad ke tujuh dan semakin berkembang di wilayah Sumatera hingga berdirilah kerajaan Budha bernama Sriwijaya. Kerajaan ini sangat terkenal. Penguasaan wilayahnya bahkan menyebar hingga ke wilayah Jawa.

Begitupun dengan Majapahit yang meniti puncak kejayaan di abad 14 yang mampu menguasai hampir keseluruhan wilayah Indonesia hingga ke Semenanjung Melayu atas prakarsa Patih Gajah Mada. Meski perkembangannya sangat pesat, Islam yang masuk pada abad ke 12 rupanya juga menjadi ajaran yang di terima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Beberapa kerajaan Islam muncul dan mewarnai kekuasaan wilayah di Nusantara seperti Kerajaan Samudera Pasai dan kerajaan Demak. Perluasan terus terjadi hingga akhirnya kerajaan-kerajaan Islam membesar dan mengekspansi kerajaan lain secara perlahan. Eksistensi Sriwijaya dan Majapahit pun pelan-pelan memudar dan di isi oleh banyak kerajaan Islam.

Teori Hindu Budha Indonesia

www.kumpulan.net

Sejarah singkat mengenai masuknya Hindu Budha ke Indonesia sudah menjadi hal yang sering kita jumpai melalui cerita orang tua di sekolah. Dalam versi lain, di kemukakan berbagai teori yang mendasari munculnya kerajaan-kerajaan tersebut sebagai berikut :

1. Teori Brahmana

Nama Brahmana cukup familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Berbagai macam film sejarah menyertakan namanya sebagai seorang dewa. Kasta Brahmana menjadi salah satu sebab musabab perkembangan Hindu Budha. Ketika itu di ceritakan bahwa para Brahmana di undang oleh para raja yang menganut agama tradisional. Sejak saat itu, mereka mulai mengenalkan ajaran Hindu kepada masyarakat setempat dan meluas kebanyak daerah. Teori Brahmana di nyatakan oleh seorang ilmuan sejarah bernama Van Leur.

2. Teori Waisya

Kasta Waisya mengawali munculnya interaksi antara pedagang asal India yang sudah memiliki kepercayaan Hindu Budha dengan para raja. Di sini para pedagang kerap kali berinteraksi dengan para raja dalam ikatan kerjasama dan relasi yang baik. Dalam proses interaksi tersebutlah para Waisya mengenalkan ajarannya pada para raja yakni ajaran
Hindu.

3. Teori Ksatria

Begitupun dengan teori Ksatria yang menyatakan bahwa asal penyebaran agama Hindu di Indonesia berasal dari kasta Ksatria dalam cakupan para prajurit perang serta para bangsawan. Pemicu yang di anggap tepat dalam teori Ksatria adalah keadaan politik India yang bermasalah hingga memunculkan tragedi pertumpahan darah hingga para prajurit dan para bangsawannya melarikan diri. Dan Indonesia menjadi tempat yang di anggap aman. Teori ini di nyatakan oleh C.C. Berg dan juga Moorkerji.

5. Teori Arus Balik

Sedikit berbeda, teori arus balik yang berisi bahwa agama Hindu di Nusantara justru berasal dari orang-orang pribumi alias orang Indonesia sendiri. Di mana di nyatakan bahwa orang Indonesia datang ke India, mempelajari agama Hindu di sana dengan mendirikan sebuah organisasi bernama Sanggha dan membawa ajaran tersebut pulang lalu mengajarkannya.

Perkembangan Kerajaan Hindu Budha

romadecade.org

Kerajaan Hindu dan Budha memberikan sumbangsih budaya masih melekat hingga sekarang. Masyarakat telah terbiasa dengan budaya yang melebur dalam kehidupan. Agama Hindu Budha dan sejarah peradabannya di mulai jauh sebelum kita terlahir bahkan beberapa generasi di atas kita pun belum tentu merasakan zaman itu, namun melalui fakta-fakta sejarah keberadaannya masih di akui hingga saat ini.

Seperti halnya yang kita alami, sejarah mengenai peradaban kehidupan beragama masih terus ada di bangku sekolah agar generasi kita tetap mengenal dan memahami pengalaman masa lalu bangsa ini. Lalu apa saja yang telah menjadi bukti nyata masuknya peradaban Hindu Budha?

1. Seni Bangunan

Seni adalah bagian yang tak pernah lepas dari berbagai bidang kehidupan. Dari sisi bangunan atau arsitektur, kerajaan Hindu Budha meninggalkan jejak yang sangat jelas. Kini kita memiliki candi Prambanan, Roro Mendut, candi Borobudur dan beberapa bentuk nyata dari bangunan khas Hindu Budha lainnya. Unsur-unsur di dalamnya sangat terisi dengan karakteristik bangunan Hindu Budha.

Mulai dari relief, ukiran dan bahan bangunan ketika awal di temukan. Kini berbagai macam situs peninggalan yang ada di beberapa daerah tertentu bekas kerajaan Hindu Budha telah menjelma menjadi objek wisata yang bisa di kunjungi kapan saja untuk melihat bagaimana bentuk peninggalan masa lampau. Memang beberapa mengalami renovasi agar tetap terjaga dan bisa terus di saksikan oleh generasi seterusnya.

2. Seni Ukir

Ukiran khas Hindu Budha pun banyak di temukan pada bangunan pura tua atau candi dan tempat ibadah orang-orang Hindu Budha pada masanya. Aneka ukiran banyak di kenal oleh masyarakat terutama yang memiliki kepercayaan Hindu Budha. Mereka juga masih sering mengadakan acara ritual atau keagamaan di situs peninggalan budaya Hindu Budha.

Selain terdapat pada candi atau bangunan-bangunan, ukiran khas juga ada pada benda-benda furnitur seperti kursi, meja, lemari dan benda lain. Beberapa pengrajin juga tetap melestarikan ukiran khas tersebut hingga sekarang pada barang-barang kesenian dengan kemasan lebih modern.

3. Aksara Dan Sastra

Bahasa yang berkembang pada masa perkembangan Hindu Budha masih di bawa oleh para budayawan agar terus di kenal dan di lestarikan oleh tiap generasi. Adapun Sansekerta adalah bentuk peninggalan zaman Hindu Budha.
Seni sastra berupa cerita-cerita seperti Mahabrata kini bahkan sudah di adaptasi dalam konsep yang lebih modern. Kitab-kitab karya tokoh masa perkembangan Hindu Budha juga masih ada, atau setidaknya masih di kenal.

4. Sistem Kepercayaan

Adanya kepercayaan Hindu Budha tentu untuk memberikan sugesti agar menganut agama yang di sebarkan. Sebelum agama ini masuk, masyarakat menganut kepercayaan animisme yang kemudian mulai beralih kepada Hindu atau Budha melalui pendekatan relasi perdagangan dan lain sebagainya.

Wilayah perkembangan semakin meluas dan pengikut ajaran ini pun semakin banyak. Hingga saat ini orang-orang yang mempercayai ajaran Hindu Budha masih ada terutama di pulau Bali yang mayoritasnya beragama Hindu atau Budha. Pun bila mereka menganut kepercayaan lainnya, budaya dan tradisi khas Hindu Budha masih menjadi ciri khas.

Keberagaman tak menjadi masalah di negara kita. Hidup dalam satu tempat dengan perbedaan agama dan unsur SARA lainnya tidak menimbulkan perselisihan meskipun beberapa pengalaman menunjukkan adanya gesekan antar suku atau agama namun bangsa ini cukup tangguh dalam meredam percikan masalah akibat perbedaan.

Terlebih umat Hindu berpegang pada Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian di percayai oleh seluruh rakyat Indonesia dari berbagai macam agama, suku maupun daerah asal yang berbeda. Pada dasarnya semua agama memberikan pengajaran yang baik agar saling menghargai siapapun sebagai sesama manusia.

Hingga kini kalender yang banyak di gunakan juga merupakan penanggalan Hindu yakni kalender Saka dengan 365 harinya. Seluruh elemen bangsa kita membaur menjadi wujud persatuan yang telah di bangun sejak awal negeri ini di dirikan di atas pijakan kaki sendiri. Menjaganya adalah kewajiban kita, melindungi seluruh lapisan dan menghargai perbedaan. semoga penjelasan mengenai ragam kerajaan hindu budha di indonesia bermanfaat dan menambah rasa toleransi anda.

Ragam Kerajaan Hindu Budha di Indonesia dan Peninggalannya

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai: Masa Kejayaan dan Peninggalan

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai – Menilik pintu sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, Lhokseumawe adalah salah satu tanah tempat berdirinya kerajaan yang peradabannya cukup dikenal dunia.

Samudra Pasai memegang peranan sebagai tonggak peradaban Islam pertama di Nusantara dan seringkali didatangi oleh penjelajah seperti Ibnu Batutah. Begitu juga dengan Laksamana Cheng Ho.

Wilayah ini banyak ditinggali oleh orang Arab, Mesir, Persia dan orang-orang Timur Tengah.
Selain menyebaran agama Islam, mereka juga melakukan aktivitas perdangangan sehingga interaksi dengan warga setempat menjadi akrab. Hingga budaya Islam pun turut melekat pada masyarakat setempat.

Sejarah Singkat Kerajaan Samudra pasai

1001sejarah

Awal Berdiri Kerajaan Samudra Pasai memiliki nama lain yakni Kerajaan Samudra Darussalam atau disebut juga dengan Kesultanan Pasai yang digagas oleh Nazimuddin Al Kamil pada Abad ke-13 atau pada tahun 1267.

Mandat untuk menjadi Raja di Kerajaan Samudra Pasai dan diberi gelar Sultan Malik As-Saleh ditumpukan pada Marah Silu. Kepemimpinannya berlangsung selama tiga puluh tahun hingga akhirnya wafat pada tahun 1927 Masehi. Malik Az-Zahir pun menggantikan kepemimpinan ayahnya.

Beliau adalah tokoh yang mengenalkan penggunaan emas sebagai mata uang bagi berlangsungnya proses jual beli di wilayah tersebut. Hingga kemudian masa pemerintahan sang sultan digantikan oleh putranya yakni Sultan Ahmad I.

Namun, periodenya tidak berlangsung terlalu lama sehingga diturunkanlah kekuasaan pada cucu dari Sultan Malik Az-Zahir I yakni Sultan Malik Az-Zahir II. Di masa inilah seorang musafir asal Maroko berkunjung, beliau adalah Ibnu Batuthah seorang penulis kitab Rihlah ila I-Masyriq, sebuah buku mengenai perjalanannya ke Timur.

Keramahan para Raja dan rakyat Aceh tertulis dalam buku tersebut.Hingga Kerajaan Majapahit melakukan penyerangan sebanyak dua kali pada tahun 1345 dan tahun 1350. Akhirnya keluarga kerajaan pun mengungsi agar dapat terlindungi.

Masa Kejayaan Samudra Pasai

Masa Kejayaan Kerajaan Samudra Pasai Masa pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai tidak luput dari masa kejayaan. Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir adalah Raja yang menaungi Kerajaan Samudra Pasai mulai tahun 1383 hingga tahun 1405 Masehi hingga mengalami perkembangan pesat di beberapa bidang
yaitu :

1. Bidang Perekonomian Dan Perdagangan

Pertumbuhan ekonomi Kerajaan Samudra Pasai semakin melejit semenjak mata uang dirham diberlakukan. Kerajaan ini dengan tegaknya berdiri sebagai pusat ekonomi internasional bersama Sultan Malikul Dhahir. Salah satu jenis hasil alam yang menjadi ladang ekspor utama Kerajaan ini adalah lada. Alhasil selain memeroleh relasi dagang
yang harmonis dengan para pedagang asing, masyarakat juga memeroleh banyak keuntungan dan hidup sejahtera.

 2. Bidang Sosial Dan Budaya

Adanya syariat dan hukum Islam sebagai acuan dalam proses kehidupan masyarakat Samudra Pasai maka keseharian mereka berjalan dengan harmonis. Bahkan karena dianggap memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan di Arab, daerah ini diberi julukan Kota Serambi Mekah dan nama itu dikenal hingga sekarang.

Berbagai macam adaptasi berkembang hingga ke bidang budaya dimana masyarakat di Kerajaan Samudra Pasai mengadaptasi huruf Arab menjadi bahasa Melayu. Dan paduan itu disebut dengan huruf Arab Jawi.

 3. Bidang Agama

www.romadecade.org

Bidang ini jelas menjadi salah satu kekuatan pada masa kejayaan Kerajaan Samudra Pasai. Dengan syariat Islam yang berlaku masyarakat hidup dengan keteraturan. Mereka bermazhab Syafi’i dan dekat dengan para tokoh-tokoh Islam.

Ketika Sang Raja mencontohkan segala bentuk ajaran Islam di kesehariannya, hingga banyak rakyat yang tidak beragama Islam akhirnya memilih untuk menganut agama ini. Dari sana dapat dilihat betapa berkembangnya agama Islam di Kerajaan Samudra Pasai.

Bidang Politik

id.wikiipedia.org

Dengan adanya intensitas perdagangan antar negara seperti Arab, China, Iran, Mesir dan berbagai negara lainnya menimbulkan relasi yang baik di antara kedua belah pihak. Sehingga hubungan kerjasama di berbagai macam bidang seperti teologi, tafsir, sains bahkan militer dapat berlangsung langgeng.

Masa Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai Hancurnya kerajaan ini dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor internal dan eksternal.

Perselisihan yang terjadi di dalam lingkup keluarga kerajaan adalah salah satu faktor internal yang meruntuhkan kedaulatan Kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini memang sering terjadi dalamsebuah tatanan kerajaan dimana terjadi perebutan tahta yang menimbulkan perselisihan serius. Peperangan antar saudara tak terelakkan hingga akhirnya muncul berbagai macam pemberontakan. Ketika itu, Sultan Samudra Pasai sempat meminta bantuan kepada Sultan di Kerajaan Malaka.

Namun keadaan yang sama sulitnya tengah menimpa mereka berdua. Dimana pada tahun 1511 Masehi Kerajaan Malaka akhirnya takhluk di tangan Portugal. Selang 10 tahun berikutnya, giliran Kerajaan Samudra Pasai yang digempur oleh para penjajah Portugal hingga akhirnya lemah dan runtuh.

Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai

Meskipun telah mengalami serangan yang luar biasa, Kerajaan Samudra Pasai masih memiliki sisa-sisa peninggalan yang pada akhirnya menjadi satu dengan Kerajaan Aceh. Jejak Kesultanan Pasai Jejak Kesultanan Pasai ditelusuri oleh para ahli.

Berbagai penelitian memunculkan benda-benda berharga milik Kerajaan Samudra Pasai berikut :

 Koin Emas

www.bhataramedia.com

Dirham atau koin emas merupakan salah satu peninggalan yang berharga sebagai bagian dari realitas aktivitas ekonomi masa lampau yakni pada masa pemerintahan Kerajaan Samudra Pasai dahulu kala. Koin ini terbuat dari campuran emas, perak dan juga tembaga. Keunikan dari koin ini adalah adanya tulisan Arab di bagian permukaannya.

 Cakra Donya

www.tirbunnews.com

Seorang Kaisar dari China menghadiahkan sebuah lonceng besar dari besi kepada Kerajaan Samudra Pasai. Pada permukaannya terukir huruf Arab dan China yang hingga kini masih dapat dijumpai di daerah Lhokseumawe, tempat berdirinya Kerajaan Samudra Pasai. Cakra Donya adalah simbol kedekatan Raja Samudra Pasai dan Kaisar China.

Surat Peninggalan Sultan Zainal Abidin

blogdellyaan.blogspot.comSebelum meninggal, Sultan Zainal Abidin sempat menuliskan sebuah surat yang ditujukan kepada Kapten Moran. Surat bertuliskan huruf Arab tersebut berisi mengenai kondisi Kerajaan Samudra Pasai yang sedang mengalami kesulitan tepat saat Kerajaan Malaka takhluk di tangan para penjajah Portugis.

 Makam Para Raja

www.batamnews.co.id

Makam para Raja adalah salah satu peninggalan yang berkesan dan menunjukkan eksistensi Kerajaan Samudra Pasai pada masanya.

Di antaranya ada makan Sultan Malik As-Saleh yang berdampingan dengan Makam Sultan Maulana Al Zhahir yang terletah di Desa Beuringin, Kecamatan Samudra. Batu nisan keduanya bertuliskan nama dengan huruf Arab.

Makam Perdana Menteri

www.edukasinesia.com

Tengku Yacob adalah salah seorang perdana menteri di Kerajaan Samudra Pasai. Makam beliau juga menjadi salah satu bukti sejarah Kerajaan Samudra Pasai. Beliau wafat pada tahun 1252 Masehi atau pada tahun 630 Hijriah. Pada batu nisannya terdapat ukiran Ayat Qursi, Surah Al-Imron ayat 18 serta Surah At-Taubah Ayat 21-22.

Ulasan di atas adalah gambaran sederhana untuk menambah dan menanamkan pengetahuan tentang sejarah. Kerajaan Samudra Pasai ialah bagian penting dari sejarah peradaban Islam di Nusantara. Perkembangan di berbagai bidang tidak luput dari keramahan para Sultan dan Rakyat Aceh.

Meskipun pada akhirnya kejayaan itu harus disudahi dengan adanya berbagai serangan dari para penjajah. Namun, keberadaannya masih tersimpan lewat benda-benda sejarah yang masih tersisa. Wujud kehidupan masa lampau memang tidak lagi bisa dijamah.

Namun kisah dalam sejarah akan menjadi pembelajaran berharga bagi kita, terutama para generasi muda.

Sebab dari sana pula peradaban Islam di negeri Nusantara bermula. Tak hanya soal perkembangan agama Islam, Samudra Pasai juga mengukir sejarah pesatnya kedaulatan ekonomi rakyat di wilayah tersebut.

Adapun koin emas merupakan bentuk nyata dari alat pembayaran yang digunakan di setiap aktivitas perdagangan. Para Sultan mengampu kepemimpinan dengan sangat baik sehingga rakyat terayomi dan mampu berkehidupan secara produktif.

Namun perebutan kekuasaan menjadi marabahaya yang menghancurkan citra keharmonisan
Kerajaan Samudra Pasai. Selain itu, serangan dari kerajaan lain serta para penjajah cukup signifikan dalam meluluhlantakkan peradaban kerajaan ini.

Di sanalah soliditas segenap isi dari kerajaan diuji. Hingga pada akhirnya sisa-sisa peninggalan Kerajaan Samudra Pasai melebur dan menyatu dengan kerajaan Aceh. Sejarah tak ubahnya suatu pelajaran yang berharga.

Meski bila ditelusur akan menunjukkan betapa hal-hal yang berkaitan dengan kerakusan terhadap kekuasaan dapat membutakan dan menghancurkan kesejahteraan.

Namun, dari sanalah kita bisa mulai mengedepankan prinsip persatuan sebagaimana apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita. Demikian, mudah-mudahan ulasan dapat menjadi manfaat. dan apabila ada yang di tanyakan mengenai sejarah kerajaan samudra pasai silahkan tulis di komentar ya.

Sejarah Kerajaan Samudra Pasai: Masa Kejayaan dan Peninggalan

Sunan Ampel: Perjalanan Hidup, Ajaran, Metode Dakwah

Sunan ampel – Salah satu wali songo yang menyebarkan dakwahnya di Pulau Jawa tepatnya di Kota Surabaya adalah Sunan Ampel. Nama Sunan diberikan karena beliau merupakan salah satu waliyullah, sedangkan nama Ampel diambil dari nama tempat tinggal beliau yang berada di daerah Ampel Denta, Surabaya.

Melalui tangan Sunan Ampel lahir banyak pendakwah hebat di Pulau Jawa. Hal inilah yang menyebabkan Sunan Ampel mendapat gelar sebagai bapak para wali. Sayyid Muhammad ‘Ali Rahmatullah merupakan nama Sunan Ampel ketika beliau masih kecil.

Masyarakat banyak yang memanggil beliau dengan nama Raden Rahmat setelah pindah ke Jawa Timur. Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 Masehi di Kota Champa. Tujuan dakwah Sunan Ampel yaitu untuk memberikan perbaikan terhadap kemerosotan atau dekandasi moral masyarakat yang berada di Pulau Jawa pada saat itu.

Masyarakat abangan merupakan sebutan bagi masyarakat Jawa kala itu. Mereka gemar melakukan sabung ayam, berjudi, serta menganut aliran yang percaya terhadap roh dan makhluk halus atau biasa disebut dengan animisme.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah Sunan Ampel dalam berdakwah, di bawah ini akan diberikan beberapa ulasan mulai dari istri dan anak Sunan Ampel hingga metode dakwah yang beliau gunakan untuk mengajarkan agama Islam.

Istri dan Anak Sunan Ampel

wisata-religi.com

Raden Rahmat atau Sunan Ampel memiliki 2 orang istri, yang pertama bernama Dewi Condrowati atau biasa dikenal dengan nama Nyai ageng Manila. Beliau merupakan putri dari Arya Teja, seorang adipati Tuban. Sedangkan Dewi Karomah binti Ki Kembang Kuning merupakan nama istri Raden Rahmat yang kedua. 

Dari kedua pernikahan tersebut beliau dikaruniai beberapa orang putra dan putri yang soleh solekhah. Putra dan putri Raden Rahmat dari pernikahannya yang pertama diantaranya adalah Nyai Ageng Maloka atau Siti Syari’ah, Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang, Siti Mutma’innah, Siti Hafsah, dan Raden Qosim atau sunan Derajat.

Sedangkan putra-putri Sunan Ampel dari pernikahannya yang kedua diantaranya adalah Raden Husanuddin atau Sunan Lamongan, Pangeran Tumapel, Raden Zainal Abidin atau Sunan Demak, Raden Faqih atau Sunan Ampel 2, Dewi Murtasiyah yang merupakan istri dari Sunan Giri, dan Dewi Murtasimah yang merupakan istri dari Raden Fattah.

Perjalanan Dakwah Sunan Ampel

informazone,com

Salah satu daerah yang banyak melahirkan ulama besar di Samarqand adalah Bukhara. Beberapa ulama besar seperti Imam Bukhari dilahirkan di daerah ini.

Selain itu, ada juga ulama besar yang bernama Syekh Jumadil yang juga lahir di daerah Bukhara. Ulama besar ini memiliki anak yang bernama Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Pada awalnya, Maulana Malik Ibrahim diminta oleh ayahnya menyebarkan agama Islam ke daratan Asia.

Setelah lama berdakwah di Asia, akhirnya beliau menikah dengan putri Raja Champa yang bernama Dewi Condrowulan. Masyarakat sekitar biasa memanggil Maulana Malik Ibrahim dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim as-Samarqandi karena beliau berasal dai Samarqand.

Setelah menikah dengan Dewi Condrowulan, Syekh Maulana Malik Ibrahim akhirnya dikaruniai dua orang anak laki-laki yang bernama Raden Rasyid Ali Murtadha atau Raden Santri dan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Sedangkan Dewi Dwarawati yang merupakan adik dari Dewi Condrowulan di peristri oleh seorang prabu dari kerajaan Majapahit yang bernama Prabu Brawijaya.

Jadi, Sunan Ampel dan Raden Santri merupakan keponakan dari penguasa Kerajaan Majapahit dan masih tergolong dalam kaum bangsawan. Hal tersebut membuat mereka memiliki pengaruh yang besar di kalangan pemimpin Kerajaan Majapahit.

Mereka juga mendapat gelar Raden atau Rahadian sebagai tanda jika masih tergolong putera kerajaan. Dewi Dwarawati merupakan sosok wanita yang memiliki kepribadian menarik serta berparas cantik. Hal ini membuat Prabu Brawijaya sangat senang bisa memperistrinya.

Akhirnya beliau pun menceraikan istri-istri sebelumnya dan diberikan kepada beberapa adipati di Nusantara. Di kala itu, Kerajaan Majapahit sedang mengalami kemunduran karena telah ditinggalkan oleh Prabu Hayam Wuruk. Ditambah lagi Mahapatih Gajah Mada pun juga telah meninggalkan Majapahit.

Keadaan ini dapat menimbulkan perang saudara karena berakibat pada terpecah belahnya kerajaan. Beberapa adipati keturunan Prabu Hayam Wuruk dirasa sudah mulai tidak loyal terhadap pemerintahan dan salah satunya adalah Prabu Brawijaya Kertabumi. 

Beliau memakai upeti dan pajak yang diperoleh dari rakyat untuk bersenang-senang sehingga tidak pernah sampai di Kerajaan Majapahit. Keadaan ini membuat hati sang Prabu menjadi gelisah dan sedih. Ditambah lagi kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang lebih senang mabuk-mabukan dan berjudi. 

Menurut Sang Prabu, jika hal ini terus dilakukan maka akan membuat kerajaan semakin lemah sehingga mudah untuk diserang musuh. Jika kerajaan kehilangan kekuasaan, sudah pasti kerajaan tersebut akan hancur dan runtuh.

Melihat hati suaminya sedih dan gelisah, Dewi Dwarawati pun memberikan saran jika beliau memiliki seorang keponakan yang ahli mendidik dan memperbaiki dekandasi moral. Akhirnya, Raden Rahmat datang ke tanah Jawa menemui bibinya pada tahun 1443 Masehi.

Ketika datang ke tanah Jawa, Raden Rahmat ditemani oleh kakaknya Sayyid Ali Murthada dan ayahandanya Syekh Jumadil Kubra. Mereka bertiga terpisah karena melaksanakan misi berdakwah ke daerah yang berbeda.

 Sayyid Ali Murthada berdakwah ke Kerajaan Samudra Pasai, Syekh Jumadil Kubra ke tanah Jawa, sedangkan Raden Rahmat di Vietnam Selatan tepatnya di Champa. Dari Vietnam, Raden Rahmat melanjutkan kembali perjalanannya hingga sampai di Majapahit. Raja dan bibinya menyambut dengan sukacita kedatangan Raden Rahmat.

Prabu Brawijaya meminta kepada Raden Rahmat agar beliau menanamkan budi pekerti yang luhur di kalangan bangsawan dan rakyat Majapahit. Permintaan sang prabu pun di sanggupi oleh Raden Rahmat. Beliau tinggal selama beberapa hari di Kerajaan Majapahit dan akhirnya dinikahkan dengan Dewi Condrowati yang merupakan salah satu putri Majapahit.

Jadi, selain sebagai keponakan dari penguasa Majapahit, Raden Rahmat juga merupakan menantu dari Raja Majapahit. Jadi bisa dikatakan jika Sunan Ampel merupakan pangeran Majapahit atau biasa disebut dengan Raden (Rahadian).

Perjalanan Dakwah Sunan Ampel di Tanah Jawa

feldersfans.com

Salah satu wali yang memiliki jasa besar dalam mendakwahkan agama Islam di Nusantara adalah Sunan Ampel. Sebelum tiba di Ibukota Kerajaan Majapahit yaitu Trowulan, Raden Rahmat sempat singgah di Palembang dan Tuban untuk mendakwahkan ajaran Islam.

Kedatangan Raden Rahmat ke Kerajaan Majapahit merupakan titik awal bergantinya kepemelukan Hindu menjadi Islam. Dalam menyebarkan agama Islam, setiap wali memiliki cara yang unik dan khas, begitu juga dengan Sunan Ampel.

Beliau memiliki metode dakwah yang dapat menarik simpati masyarakat Indonesia sehingga agama Islam dapat dengan mudah diterima. Sunan Ampel juga memiliki beberapa murid yang menjadi ulama besar yang berjasa dalam mendakwahkan ajaran Islam.

Tanpa Sunan Ampel, kemungkinan besar agama Islam tidak akan berkembang pesat seperti sekarang ini dan kisah-kisah perjalanan dakwah Islam tidak akan mungkin terjadi. 

Sunan Ampel Sebagai Sesepuh Wali Songo

www.wajibbaca.com

Sunan Ampel atau Raden Rahmat bukanlah waliyullah yang berasal dari Jawa. Beliau diangkat menjadi sesepuh wali songo setelah ayahandanya, Syekh Jumadil Kubra meninggal dunia.

Beberapa murid beliau termasuk anaknya juga ada yang menjadi anggota wali songo. Semua wali tunduk dan patuh terhadap fatwa beliau karena beliaulah yang menjadi sesepuh para wali. 

Ketika terjadi peperangan antara Kerajaan Demak dengan Kerajaan Majapahit, para wali yang usianya lebih muda memberikan penilaian jika Sunan Ampel agak lamban dalam memutuskan permasalahan serta memberikan pitutur atau nasihat kepada Raden Patah.

Hingga suatu ketika, terdapat sebuah fakta sejarah yang dikemukakan oleh orang yang membenci Islam dengan memutar balikkan fakta. Sebuah tulisan palsu mereka buat dengan menyatakan jika Kerajaan Demak Bintaro telah menyerang Kerajaan Majapahit dengan pemimpinnya yaitu Raden Patah yang merupakan putra raja Majapahit yang dinilai sebagai anak durhaka.

Jika kita telaah kembali, fakta sejarah tersebut tidaklah benar. Jika saja Demak tidak dengan cepat menyerang Kerajaan Majapahit tentu Bangsa Belanda yang akan datang lebih lambat menjajah Indonesia dibanding dengan Bangsa Portugis.

Pusaka kerajaan Majapahit serta mahkotanya dibawa ke Demak Bintaro setelah kerajaan tersebut runtuh. Akhirnya Raden Patah diangkat menjadi Raja Demak yang pertama.

Pesantren Ampeldenta Didirikan Raden Patah

thegorbalsla.com

Raden Rahmat bersama dengan rombongannya akan berangkat ke sebuah desa yang terletak di Surabaya pada hari yang telah ditentukan. Daerah tersebut akhirnya mendapat sebutan sebagai Ampeldenta.

Selama perjalanan, rombongan Raden Rahmat melewati Desa Krian Wonokromo sebelum sampai di Kembang Kuning. Rombongan Raden Rahmat juga giat mendakwahkan ajaran Islam di tiap-tiap daerah yang dilaluinya.

Raden Rahmat menggunakan cara berdakwah yang unik yaitu dengan menggunakan kipas yang terbuat dari anyaman rotan. Beliau membagi-bagikan kipas tersebut secara gratis kepada masyarakat sekitar dan ditukarkan dengan kalimat syahadat.

Warga yang menerima pemberian kipas tersebut merasa sangat senang hingga akhirnya warga pun  mulai berdatangan mencari Raden Rahmat. Pada saat itulah beliau mulai memperkenalkan tentang Agama Islam yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat sekitar.

Beliau menggunakan cara yang sama saat memasuki Desa Kembang Kuning. Pada saat itu, desa tersebut masih berupa rawa-rawa dan hutan belantara. Rombongan Raden Rahmat membabat hutan tersebut dan mendirikan sebuah masjid sederhana sebagai tempat untuk beribadah.

Semua itu lantaran karomah yang berasal dari Raden Rahmat. Masjid tersebut saat ini telah di renovasi dan menjadi sebuah masjid besar bernama Masjid Rahmat Kembang Kemuning. Saat berada di Desa Kembang Kuning, Raden Rahmat bertemu dengan dua tokoh yang membawa pengaruh besar terhadap kemudahan beliau dalam mendakwahkan agama Islam.

Mereka adalah Ki Bang Kuning dan Ki Waryo Sarojo yang seluruh anggotanya telah memeluk Agama Islam. Keberadaan tokoh tersebut memudahkan Raden Rahmat untuk mendekati masyarakat sekitar. Dalam menyampaikan ajaran Islam, Raden Rahmat menggunakan cara yang halus.

Jika ada penduduk yang masih memegang dengan kuat kepercayaan dan adatnya, maka Raden Rahmat tidak serta merta melarang kebiasaan tersebut. Beliau akan menjelaskan sedikit demi sedikit tentang ajaran ketauhidan dan arti pentingnya. 

Setelah rakyat memahami dengan benar ajaran tauhid tersebut, maka mereka akan meninggalkan kebiasaan tersebut dengan sendirinya. Mereka juga akan menjauhi berbagai perbuatan yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam.

Setelah rombongan Raden Rahmat tiba di tujuan, maka hal pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah masjid yang berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah. Raden Rahmat akhirnya menetap di daerah tersebut dan di kenalah nama beliau dengan sebutan Sunan Ampel. Selain itu, Raden Rahmat juga membangun pesantren sebagai tempat mendidik para anak bangsawan. 

Murid-Murid Sunan Ampel

www.brilio.net

Sunan Ampel memiliki banyak murid yang berasal dari berbagai kalangan yaitu kalangan bangsawan, kalangan rakyat jelata, pangeran Majapahit, maupun beberapa anggota wali songo yang lainnya. Mbah Sholeh adalah nama salah satu murid Sunan Ampel yang banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Beliau juga merupakan salah satu murid kesayangan Sunan Ampel. Sebagai seorang murid, Mbah Sholeh memiliki keistimewaan dan karomah yang sangat luar biasa. Hal tersebut terbukti saat Sunan Ampel secara tidak tidak sengaja mengatakan jika Mbah Sholeh hidup sebanyak 9 kali.

Semasa hidupnya, Mbah Sholeh merupakan tukang sapu di Masjid Ampel. Beliau sangat sempurna dalam membersihkan masjid hingga tak terlihat sedikit pun debu pada lantai masjid. Tetapi, pada suatu ketika Mbah Sholeh meninggal dunia dan tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk membersihkan masjid layaknya Mbah Sholeh.

Hingga secara tidak sengaja Sunan Ampel berkata tentu lantai masjid akan terlihat bersih jika saja Mbah Sholeh masih hidup. Ternyata, tiba-tiba saja Mbah Sholeh sudah berada di tempat pengimaman sedang membersihkan lantai. Keseluruhan lantai masjid pun tampak sangat bersih.

Namun, para santri merasa heran kenapa Mbah Sholeh tiba-tiba hidup kembali. Setelah kejadian tersebut, beberapa bulan sesudahnya, Mbah Sholeh kembali meninggal dunia dan Sunan Ampel pun mengatakan hal yang sama. Hal tersebut terulang hingga 8 kali. Makanya tak heran jika kuburan Mbah Sholeh berjajar sebanyak 8 buah.

Pada saat Mbah Sholeh hidup untuk ke delapan kalinya, Sunan Ampel wafat. Setelah itu, beberapa bulan kemudian, Mbah Sholeh juga meninggal dunia menyusul kepergian Sunan Ampel. Sunan Ampel dimakamkan di dekat makam Mbah Sholeh yang berjajar sebanyak 9 buah.

Ajaran Sunan Ampel yang Fenomenal

moondoggiesmusic.com

Sunan Ampel memiliki falsafah dakwah yang bertujuan untuk memberikan perbaikan terhadap kerusakan moral masyarakat yang terjadi pada masa itu. Ajaran Sunan Ampel dikenal dengan nama Moh Limo atau Moh Mo, yang memiliki arti tidak mau melakukan lima hal yang menjadi larangan dalam Agama Islam. Moh Limo tersebut terdiri atas : 

  • Moh Maling artinya tidak mau melakukan pencurian
  • Moh Mabok disini mengandung pengertian tidak mau meminum minuman yang memabukkan seperti khmer atau minuman keras
  • Moh Wadon artinya tidak mau melakukan perbuatan zina, lesbian maupun homoseks
  • Moh Madat memiliki pengertian yaitu tidak mau menggunakan obat terlarang atau narkoba
  • Moh Main artinya tidak mau melakukan permainan yang mengarah pada perjudian seperti togel maupun sabung ayam

Prabu Brawijaya selaku penguasa Majapahit merasa senang dengan ajaran yang disampaikan oleh Sunan Ampel. Beliau menganggap jika ajaran Islam yang disampaikan oleh Raden Rahmat merupakan ajaran yang mulia. 

Tetapi yang disayangkan, Prabu Wijaya tetap mempertahankan keyakinannya memeluk Agama Budha karena beliau memiliki keinginan untuk menjadi raja Budha yang terakhir dalam sejarah Kerajaan Majapahit.

Melihat kemuliaan agama Islam, maka beliau memberikan ijin kepada Raden Rahmat untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Majapahit termasuk Surabaya. Namun saat itu raja berpesan jika tidak boleh ada pemaksaan terhadap masyarakat untuk memeluk Agama Islam, dan Raden Rahmat pun menjelaskan jika Islam tidak bersifat memaksa.

Metode Dakwah Sunan Ampel

www.boombastis.com

Sunan Ampel menerapkan metode berdakwah yang mungkin memiliki perbedaan dengan metode dakwah wali yang lainnya. Beliau memakai penalaran logis dan pendekatan intelektual untuk berdakwah di kalangan orang cerdik dan cendekiawan.

Sedangkan metode yang digunakan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah adalah dengan pendekatan dan pembaharuan. Jika sebagian besar wali songo melakukan metode dakwah menggunakan media seni dan budaya, maka Sunan Ampel lebih menekankan kepada pendekatan intelektual.

Beliau memberikan pemahaman tentang Agama Islam yang memang dapat di nalar oleh akal manusia, kritis, melalui diskusi cerdas, maupun wacana intelektual. Untuk masyarakat lapisan sosial menengah ke bawah, pendekatan melalui seni dan budaya seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga memang terbukti dapat menarik simpati masyarakat Indonesia.

Memang urgenitas budaya dapat menjadi alternatif media dakwah yang jitu karena lebih relevan dengan kondisi masyarakat pada umumnya. Namun, untuk kalangan yang memiliki pemikiran cerdas maka pendekatan intelektual yang dipilih oleh Sunan Ampel merupakan metode dakwah terbaik.

Mereka akan cenderung menggunakan akal dan kecerdasan merek untuk menerima sesuatu yang baru. Walaupun terlihat perbedaan yang mencolok antara lapisan bawah dan atas namun Sunan Ampel tetap dapat mengayomi mereka seluruhnya.

Sunan Ampel merupakan wali Allah yang konsisten dan independen dalam mendakwahkan Agama Islam. Beliau tidak pernah menggunakan media atau alat untuk kendaraan dakwahnya. Inilah mungkin keunikan metode dakwah dari sesepuh wali songo yaitu Sunan Ampel.

Baca Juga Kerajaan Tarumanegara

Melalui perjuangan para wali sudah sepatutnya kita merasa bangga terhadap perjuangan mereka dalam menyebarkan Agama Islam. Sebisa mungkin kita meneladani dan mengambil hikmah dari setiap kisah perjalanan hidup mereka. 

Sunan Drajat: Biografi, Kisah, Ajaran, Cara Dakwah, Letak Makam

Sunan drajat – Sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia pasti kenal dengan para pejuang agama yang dijuluki wali songo. Seperti namanya, didalam wali songo ada 9 wali yang disebut dengan panggilan “Sunan.” Salah satu sunan adalah Sunan Drajat, beliau adalah salah satu pejuang yang berjuang menyebarkan agama Islam pada masanya.

Dakwah beliau diterima masyarakat dengan baik meskipun banyak ujian di tengah jalan. Sunan Drajat memiliki kisah yang patut untuk kita teladani dalam menyiarkan agama Islam di masa sekarang. Agar bisa lebih mengenal Sunan Drajat maka dibawah ini terdapat beberapa informasi mengenai biografi, kisah, sejarah, sampai letak makam yang tepat untuk kita ketahui.

Biografi Sunan Drajat

kalimat.id

Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qasim, beliau adalah putra kedua dari Sunan Ampel Surabaya dan Nyai Ageng Manila atau biasa dikenal dengan Dewi Condrowati.

Raden Qasim lahir sekitar tahun 1470, saudara Raden Qasim ada 5 yang mana salah satu saudaranya adalah Sunan Bonang, Siti Muntisiyah yakni istri dari Sunan Giri, Nyai Ageng Maloka yaitu istri dari Raden Patah, dan yang terakhir merupakan istri dari Sunan Kalijaga.

Lebih tepatnya Sunan Ampel adalah keturunan sekaligus cucu dari Sunan Maulana Malik Ibrahim yaitu perintis dan pelopor yang membawa Islam ke tanah Jawa. Beliau adalah salah satu sunan yang cukup berpengaruh di pulau Jawa pada masanya.

Sejak kecil Sunan Drajat belajar bersama dengan kakak nya yaitu Sunan Bonang di daerah Surabaya, tepatnya belajar di Sunan Ampel. Tetapi yang berbeda, Sunan Drajat juga berguru di daerah Cirebon yaitu pada Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Drajat mencari ilmu di Cirebon, beliau di panggil dengan sebutan Syekh Syarifuddin, beliau ikut Sunan Gunung Jati mulai menyebarkan agama Islam. 

Setelah mendapatkan bekal ilmu yang cukup, beliau kemudian menikah dengan Dewi Sufiyah yaitu putri dari Gunung Jati. Pernikahannya tersebut dikaruniai seorang anak yang bernama Pangeran Trenggana, Dewi Wuryan, dan Pangeran Sandi.

Selain dengan Dewi Sufiyah, Sunan Drajat juga menikah dengan Nyai Kemuning yaitu putri dari Mbah Mayang Madu sesepuh desa Jelak, juga menikah dengan Nyai Retno Ayu Candrawati yang telah menolong Sunan Drajat saat sedang terdampar ketika menuju ke pesisir Gresik. Nyai retno adalah seorang putri dari Raden Suryadilaga yang mana Raden tersebut adalah adipati dari Kediri.

Kisah Sunan Drajat

www.tahtamataram.com

Setelah menjadi seorang wali Allah, beliau menggunakan sisa hidupnya untuk selalu berjuang di agama Allah. Kecerdasan Sunan Drajat membuat beliau mampu menguasai masyarakat dengan baik, beliau berjuang di daerah Surabaya sebelah Barat yaitu di daerah pesisir Gresik.

Pada saat Sunan Drajat pergi ke pesisir Gresik menggunakan perahu, beliau mengalami musibah yaitu kapalnya diterpa ombak. Akhirnya beliau tenggelam dan terdampar di pesisir daerah Lamongan.

Ketika Sunan Drajat mengalami hal ini, beliau di tolong oleh seorang wanita yang bernama Retno Ayu Candrawati yang akhirnya menjadi istri dari Sunan Drajat. Setelah kejadian tersebut, Sunan Drajat mengalami berbagai pengalaman, yaitu:

  • Perjalanan di Tengah Laut

Perjalanan beliau ke pesisir Gresik adalah perintah dari guru beliau yaitu Sunan Ampel, tujuan beliau kesana adalah untuk menyebarkan Islam. Beliau pergi menggunakan perahu karena pesisir Gresik pada zaman dulu hanya bisa di lewati melalui laut.

Di tengah perjalanan perahu yang dinaiki Sunan Drajat oleng karena dihantam ombak yang cukup besar, perahunya tenggelam dan Sunan Drajat masih selamat karena beliau bertahan dengan berpegangan dayung yang dibawanya. Allah memberikan pertolongan kepada Sunan Drajat yaitu dengan mengirimkan ikan cucut dan ikan talang yang akhirnya menyelamatkannya sampai ke pesisir Lamongan.

Pada tahun 1485 M, Sunan Drajat menaiki kedua ikan tersebut dan mendarat di pesisir Lamongan tepatnya di desa Jalak, Banjarwati. Setelah sampai di pesisir, beliau disambut oleh beberapa tetua kampung desa Jalak yang bernama Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu.

Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu memang sudah masuk Islam sebelum bertemu dengan Sunan Drajat. Hal ini tentu memudahkan Sunan Drajat untuk menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Karena dakwahnya di desa Jalak yang cukup lama, akhirnya Sunan Drajat menikah dengan Nyai Kemuning yaitu anak dari Mbah Mayang.

Berkat Sunan Drajat, kampung Jalak menjadi kampung yang berkembang dan ramai. Bersama istrinya, Sunan Drajat membuat sebuah surau yang digunakan sebagai tempat mengaji dan menjadi pesantren yang di tinggali banyak orang. Karena sudah berkembang, desa Jalak akhirnya ganti nama menjadi Desa Banjaranyar.

  • Hikmah Setelah Terdampar dan di Tolong Ikan

Musibah yang menimpa Sunan Drajat ketika perjalanan berdakwah memberikan hikmah yang mendalam. Bahkan, cerita Sunan Drajat hampir sama dengan kisah salah satu nabi yaitu Nabi Yunus dan kisah seorang pejuang yaitu Sri Tanjung. Tidak lain, pengalaman tersebut adalah skenario yang dibuat oleh Allah untuk meningkatkan keimanan seorang hamba.

Hikmah yang bisa kita ambil untuk kehidupan sehari-hari adalah ketika berjuang menyiarkan agama Islam di dunia pasti dilengkapi dengan berbagai musibah yang bertujuan untuk menambah keimanan seorang hamba, oleh sebab itu dalam berjuang kita tidak boleh takut dan menyerah, seberat apapun ujian Allah tidak akan memberikan ujian melampaui batas kemampuan hambanya.

Hikmah kedua yang dapat diambil dari ikan yang menolong Sunan Drajat adalah kita sebagai manusia harus bisa belajar dari ikan. Ikan hidup tidak terlepas dari yang namanya air sebagai lingkungannya. Jadi sebagai manusia kita tidak boleh lepas terhadap lingkungan atau tanggung jawab sebagai manusia.

Jika ada orang lain yang membutuhkan bantuan sudah seharusnya kita membantu karena itu adalah salah satu bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia. Jika ada manusia yang membutuhkan tuntunan ke jalan yang benar maka jika kita mampu harus menolongnya seperti yang di lakukan oleh Sunan Drajat.

  • Babat Tempat Baru

Karena dirasa desa Jalak sudah berkembang, maka Sunan Drajat memutuskan untuk berdakwah ditempat lain yang lokasinya lebih strategis. Setelah mencari beberapa tempat yang pas akhirnya beliau mendapatkan sebuah tempat yang dekat dengan hutan belantara dan membangun lahan baru disana.

Karena harus meminta izin, akhirnya sebelum menempati beliau bersama dengan Sunan Bonang meminta izin kepada Sultan Demak I. Bukan ditolak, Sultan Demak I malah memberikan ketetapan tanah pada Sunan Drajat. 

Meskipun hutan, namun Sunan Drajat menganggap lokasinya sangat strategis karena tidak akan terkena banjir saat musim hujan datang. Memilih gunung dipercaya lahan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana kisah Nabi Musa dan Nabi Muhammad ketika mendapat wahyu dari Allah untuk pertama kalinya.

Setelah membabat tanah di gunung tersebut, berdasarkan beberapa kisah Sunan Drajat diuji dengan kemarahan berbagai makhluk halus, mereka marah dengan meneror warga, menebarkan berbagai penyakit, dan hal yang mengerikan lainnya. Namun semua itu bisa diatasi dengan baik oleh Sunan Drajat. 

Cara Berdakwah Sunan Drajat

www.thepatriots.asia

Wali songo memiliki cara dakwah yang berbeda-beda satu sama lain, namun tujuannya sama yaitu untuk menyebarkan agama Islam.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Drajat adalah dengan memberikan kenyamanan kepada masyarakat kemudian baru mengambil hatinya untuk diajak beriman kepada Allah. Berikut adalah beberapa cara atau metode dakwah Sunan Drajat pada masanya.

  • Metode Dakwah Sunan Drajat

Metode dakwah yang digunakan oleh Sunan Drajat sangat baik, beliau mengikuti masyarakat dengan halus dan mengambil hatinya. Agar masyarakat mau menghormati dan mengikuti ajaran Sunan Drajat.

Alasan mengapa metode dakwah Sunan Drajat demikian adalah masyarakat yang memiliki kedudukan di lingkungannya akan cenderung bersifat tertutup jika terdapat peralihan budaya karena takut mengubah kedudukannya.

sedangkan masyarakat yang tidak memiliki kedudukan lebih terbuka dan mau menerima peralihan dengan mudah. Hal ini juga sama dengan pendapat para ahli antropologi. Cara yang dilakukan Sunan Drajat memang sangat strategis, beliau menjadi bagian terpenting dalam masyarakat dan bekerja sama dengan Sunan Bonang.

Dengan jabatan, beliau mudah mengajak masyarakat untuk berubah dan masuk agama Islam. orang yang miskin di ajak untuk selalu bersyukur kepada Allah dan orang yang lebih kaya diajari untuk menginfakkan sebagian hartanya ke jalan Allah.

Dalam perjalanannya, Sunan Drajat diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa menyembuhkan warga yang terserang penyakit. Doa dan ramuan tradisional lah yang dijadikan pengobatan oleh beliau.

Masyarakat mulai mengenal kesaktian yang dimiliki Sunan Drajat, salah satu kisah yang membuat masyarakat menganggap Sunan Drajat adalah orang yang sakti adalah ketika Sunan Drajat melubangi 9 lubang bekas umbi hutan, ketika dicabut ternyata ada air yang terpancar dan pancaran air tersebut dijadikan sumber sebuah sumur yang bernama Sumur Lengsanga di daerah Sumenggah. Akhirnya para pengikut Sunan Drajat bisa menghilangkan dahaga selama perjalanan. 

  • Sunan Drajat Sosok yang Mengayomi

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Sunan Drajat adalah sosok yang lemah lembut bahkan dalam berdakwah pun beliau sangat mengayomi masyarakat. Setelah pembabatan lahan baru di daerah pegunungan di malam hari beliau sering melakukan ronda dalam rangka mengamankan penduduk desa dari gangguan orang jahat maupun makhluk halus.

Karena di desa tersebut masih banyak roh halus yang mengganggu, maka Sunan Drajat melindungi warganya dengan mengajak berdzikir dan memberhentikan pekerjaan setiap asar dan melaksanakan sholat magrib secara berjamaah. Karena usaha tersebut lama-kelamaan roh halus yang mengganggu kalah dan tidak ada lagi di desa tersebut.

  • Melawan kemiskinan masyarakat

Jiwa sosial Sunan Drajat yang sangat tinggi juga terlihat ketika mengayomi masyarakat, beliau selalu mengedepankan kepentingan rakyat yang membutuhkan.

Salah satu cara yang dilakukan untuk membantu rakyat miskin adalah dengan memberikan harta warisan, harta rampasan perang, dan lain sebagainya untuk rakyat miskin. Dari sikap nya yang penyayang tersebut beliau dijuluki sebagai Al-Qosim yang berarti orang yang suka memberi. 

Ajaran Sunan Drajat tersebut ternyata mampu menjadi contoh bagi masyarakat, sehingga beberapa masyarakat yang merasa memiliki harta cukup tidak segan-segan untuk memberikan sebagian hartanya kepada masyarakat yang lemah.

Dampak dari sikap tersebut adalah masyarakat menjadi toleransi, gotong royong, solidaritas, dan damai. Karena sikap baik dalam rakyat sudah terpenuhi maka Sunan Drajat sedikit demi sedikit mulai menyebarkan agama Islam dan memberikan pemahaman tentang Islam.

  • Mendirikan Pesantren

Setelah berhasil menghidupkan desa Jalak, Sunan Drajat mulai pindah tempat dan berencana untuk mendirikan sebuah pemukiman yang luasnya sekitar 9 hektar. Pemukiman tersebut rencananya ingin dibangun sebuah pesantren yang di namai Ndalem Duwur.

Letak Ndalem Duwur adalah di sisi selatan perbukitan, hal tersebut sebenarnya datang karena usulan dari Sunan Gunung Jati melalui mimpi. Jika dulu sebagai sebuah pesantren sekarang Ndalem Duwur digunakan sebagai komplek pemakaman.

Selain pesantren di sebelah selatan, Sunan Drajat juga membangun sebuah masjid yang berada di bagian darat tempat tinggalnya, bangunan tersebut rencananya digunakan sebagai pusat dakwah. Kecerdasan yang dimiliki Sunan Drajat mampu membuat beliau berhasil memegang kendali otonomi wilayah melalui kerajaan Demak selama 36 tahun.

Beliau dinyatakan sukses dalam membawa masyarakat lebih baik, karena itulah beliau disebut dengan panggilan “Kadrajat” yang artinya diangkat derajatnya. Panggilan yang diberikan oleh masyarakat tersebut menjadikan beliau dijuluki sebagai Sunan Drajat.

Sultan Demak I juga memberikan sebutan lain kepada Sunan Drajat yaitu Sunan Mayang Madu. Sunan Drajat menghabiskan seluruh hidupnya di daerah tersebut hingga akhir hayatnya.

  • Sosok yang Arif dan Bijaksana

Sosok yang sangat baik ternyata juga memiliki sifat yang arif dan bijaksana. Meskipun misinya untuk menyebarkan agam Islam di tanah Jawa, namun beliau tidak pernah memaksa masyarakat untuk masuk Islam, metode yang dipakai disebut dengan bil hikmah atau berarti dengan cara yang bijaksana dan lembut.

Setelah masyarakat masuk Islam beliau membangun pesantren, melakukan pengajian di masjid-masjid, memberikan jalan keluar dalam setiap masalah. Sunan Drajat juga mengajak masyarakat untuk tidak menebar kebencian dan damai satu sama lain. Salah satu hal yang paling ditekankan oleh Sunan Drajat adalah “Hindari menjelek-jelekan orang.”

Ajaran Sunan Drajat yang Melegenda

made-blog.com

  • Berdakwah dengan Kesenian Tradisional

Sebelum Sunan Drajat datang, masyarakat memang memiliki kesenian yang sudah dilakukan sejak dulu. Untuk menghargai masyarakat beliau tidak menghapus berbagai kesenian tersebut bahkan mengembangkannya agar masyarakat bisa merasakan bahwa agama Islam itu indah.

Dengan catatan asalkan kesenian yang dilakukan tidak menyimpang dari yang di ajarkan Allah SWT. Salah satu kesenian yang menjadi andalan Sunan Drajat adalah kesenian tembang pangkur diiringi dengan musik gending yang indah. 

Tidak hanya memainkan, ternyata beliau sangat mahir memainkan musik, hal ini terbukti dengan adanya gamelan “Singo Mengkok” di ruangan beliau. Sampai saat ini teks dan tembang pangkur Sunan Drajat masih tersimpan rapi dalam museum Sunan Drajat, Anda bisa melihatnya ketika berziarah ke makam Sunan Drajat.

  • Filosofi di sebuah Tangga

Terakhir, ajaran Sunan Drajat yang bisa diamalkan oleh masyarakat sampai sekarang adalah karena filosofinya yang sangat menarik untuk mengentaskan semangat dalam berdakwah. Filosofi yang diajarkan oleh Sunan Drajat tertera di sebuah tangga untuk selalu mengingatkan seluruh umat Islam. tujuh ajaran tersebut adalah :

  • Pertama, “Membangun resep Tyasing Sasoma”, arti dari kalimat tersebut adalah sebagai manusia sudah sewajarnya jika mampu membuat orang lain senang.
  • Kedua, “Jroning suka kudu eling lan waspada”, artinya adalah jika kita merasa bahagia, maka jangan terlena dan harus selalu ingat kepada Allah, bersyukur padanya dan tetap waspada.
  • Ketiga, “Laksminating subrata tan nyipta marang pranggabayaning lampah”, kalimat yang sedikit sulit diucapkan ini memiliki arti perjalanan untuk menggapai cita-cita yang luhur memang tidak mudah, kita tidak boleh takut dan jangan putus asa meskipun banyak rintangan.
  • Keempat, “Maper Hardaning Pancadriya”, memiliki arti untuk menahan hawa nafsu yang selalu bergelora dalam jiwa.
  • Kelima, “ Heneng-Hening- Henung”, memiliki arti jika kita ingin tenang maka cobalah untuk diam agar bisa mendapatkan keheningan, saat hening itulah inspirasi akan muncul dan mampu membawa kita menggapai cita-cita mulia.
  • Keenam, “Mulya guna Panca Waktu”, berarti kebahagiaan lahir batin akan tercipta jika mampu melaksanakan sholat 5 waktu
  • Ketuju, kesimpulan dari ajaran diatas yaitu ada 4 catur piwulang atau ajaran pokok bersosialisasi yaitu kita harus memberikan ilmu kepada yang belum mengerti, orang miskin harus disejahterakan, ingatkan orang yang tidak tahu malu, membantu orang yang sedang terkena musibah

Baca Juga Kerajaan Mataram

Itulah pelajaran yang dapat kita ambil dari salah satu tokoh wali songo yang melegenda dan sangat inspiratif, semoga sebagai manusia yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini, kita tetap bisa mengamalkan ajaran baik dari Sunan Drajat dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Cukup sekian ilmu mengenai Sunan Drajat pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat kepada pembaca dan di mudahkan untuk berbuat kebaikan sebagaimana Sunan Drajat.

Sunan Kalijaga: Silsilah, Perjalanan Hidup, Pusaka serta Metode Dakwah

Sunan kalijaga – Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali songo yang menyebarkan dakwahnya di Pulau Jawa. Beliau merupakan orang yang sederhana. Hal ini tampak dari penampilannya yang cenderung berpakaian hitam dengan blangkon khas Jawa sebagai pelengkapnya.

Berbeda dengan wali songo lainnya yang cenderung memakai sorban dan pakaian berwarna putih. Dalam berdakwah, Sunan Kalijaga tetap mempertahankan tradisi atau adat istiadat masyarakat Jawa tanpa mengubahnya. Sunan Kalijaga biasanya menggunakan karya seni untuk mempermudah penyampaian dakwahnya kepada warga.

Untuk karya seni yang beliau buat pun masih bernuansa Hindu-Budha, yang merupakan agama yang dianut masyarakat Jawa sebelum masuknya agama Islam. Dengan cara halus yang digunakan oleh Sunan Kalijaga, agama Islam dapat diterima dengan baik oleh sebagian besar masyarakat Jawa.

Banyak lika-liku kehidupan yang harus dilalui oleh Sunan Kalijaga sebelum beliau diangkat menjadi waliyullah. Biografi serta sejarah tentang Sunan Kalijaga dapat Anda pelajari melalui beberapa ulasan di bawah ini.

Silsilah Sunan Kalijaga

thegorbalsla.com

Berdasarkan catatan sejarah Babad Tuban, dapat diketahui jika Sunan Kalijaga merupakan wali yang berasal dari orang Jawa asli. Melalui babad tersebut dikisahkan jika Abdul Rahman atau Aria Teja merupakan orang yang berhasil membuat Adipati Tuban memeluk agama Islam.

Akhirnya adipati Tuban menikahkan putrinya yang bernama Aria Wilatikta dengan Aria Teja. Catatan dalam Babad Tuban tersebut diperkuat dengan catatan bendahara Portugis dan penulis terkenal.

Berdasarkan catatannya bersama bendahara Portugis Tome Pires (1468-1540) menyatakan jika cucu dari penguasa Islam yang pertama di daerah Tuban yaitu Aria Wilatikta dan putranya Raden Mas Said atau Sunan Kalijaga merupakan penguasa Tuban pada tahun 1500 Masehi.      

Pendapat lain muncul dari Van Den Berg (1845-1927) yang merupakan penasihat khusus pemerintah Kolonial Belanda yang menyebutkan jika Sunan Kalijaga berasal dari Arab yang silsilahnya masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW.

Salah satu tokoh sejarawan lain yaitu De Graf juga menyebutkan jika silsilah Aria Teja masih segaris dengan keturunan Ibnu Abbas.

Masa Kecil dan Muda Raden Said

moondoggiesmusic.com

Raden Said atau Raden Mas Syahid merupakan nama asli Sunan Kalijaga sewaktu kecil. Beliau adalah putra dari Raden Sahur Tumenggung Wilatikta atau Ki Tumenggung Wilatikta yang merupakan adipati Tuban.

Sunan Kalijaga juga sering disebut sebagai Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan ada juga yang mengenalnya dengan nama Lokajaya. Sunan Kalijaga dikenal sebagai orang yang rajin dalam menuntut ilmu terlebih lagi ilmu agama Islam pada masa mudanya.

Beberapa wali juga pernah menjadi guru beliau, diantaranya adalah Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Gunung Jati. Sunan Kalijaga juga dipercaya menyaksikan runtuhnya kekuasaan Kerajaan Majapahit karena umur beliau mencapai 100 tahun.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga menyaksikan masa Kesultanan Cirebon, Banten, dan Demak. Bahkan Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh senopati dan Kerajaan Pajang yang berdiri tahun 1546 Masehi juga turut beliau saksikan.

Menurut beberapa sumber, Sunan Kalijaga juga turut andil dalam pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Semasa muda, Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan rakyat miskin atau jelata. Kedekatan Raden Mas Said (Sunan Kalijaga) dengan rakyat miskin dapat diketahui melalui kisah berikut.

Pada suatu ketika, di Tuban terjadi kemarau yang sangat panjang sehingga menyebabkan para petani gagal panen sehingga menderita kerugian. Di samping itu, ternyata pemerintah pusat juga sedang mengalami masalah karena membutuhkan dana yang besar untuk melakukan pembangunan.

Masalah tersebut membuat rakyat mau tidak mau harus membayar pajak atau upeti yang tinggi kepada pemerintah. Permasalahan tersebut sontak membuat hati Raden Said muda tergerak untuk membantu rakyat jelata. Raden Said muda mencuri hasil bumi dari gudang penyimpanan ayahnya untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin.

Hasil bumi yang beliau curi merupakan pajak yang dipungut dari rakyat dan dikumpulkan yang nantinya akan disetorkan kepada pemerintah pusat. Raden Said biasanya melakukan aksinya ketika malam tiba kemudian membagi-bagikannya tanpa sepengetahuan rakyat.

Waktu terus berlalu hingga akhirnya penjaga gudang mulai merasa curiga karena jumlah upeti semakin hari semakin berkurang di dalam gudang. Lalu, penjaga gudang mengatur siasat dengan meninggalkan gudang namun mengamatinya dari kejauhan.

Maka dia pun mengetahui aksi Raden Said sehingga Raden Said pun dilaporkan kepada ayahandanya. Ayahanda Raden Said sangat marah ketika mengetahui bahwa anaknya telah mencuri hasil upeti. Raden Said akhirnya tidak diperbolehkan keluar rumah sebagai hukumannya.

Seminggu setelah peristiwa tersebut, Raden Said ternyata tidak jera dan kembali melancarkan aksinya. Namun sekarang targetnya bukan lagi gudang ayahandanya tetapi orang-orang kaya yang memiliki sifat kikir. Hasil curian yang beliau dapatkan, kembali beliau bagi-bagikan kepada rakyat yang tidak mampu.

Saat beraksi, Raden Said menggunakan topeng layaknya ninja dengan pakaian serba hitam. Hal tersebut ternyata dimanfaatkan oleh perampok asli untuk menjebak Raden Said. Perampok asli memakai pakaian seperti yang Raden Said kenakan kemudian mulai merampok dan memperkosa perempuan cantik.

Ketika Raden Said datang dan berusaha untuk menolong perempuan tersebut, ternyata perampok asli berhasil kabur sehingga Raden Said menjadi kambing hitam atas kejahatan yang dilakukan oleh perampok asli. Ayahanda Raden Said yang mendengar berita tersebut merasa kecewa dengan perilaku anaknya sehingga beliau pun mengusir Raden Said dari istana. 

Raden Said Berguru Kepada Sunan Bonang

www.merdeka.com

Meskipun telah diusir oleh ayahandanya, Raden Said tetap melancarkan aksinya untuk membantu rakyat miskin. Beliau berganti nama menjadi Brandal Lokajaya dan berdiam di Hutan Jatiwangi. Oleh sebab itulah, Sunan Kalijaga juga dikenal dengan nama Lokajaya. 

Pada suatu ketika, Raden Said melihat seseorang yang mengenakan pakaian serba putih dan membawa sebuah tongkat dengan gagang berkilauan seperti emas. Raden Said berusaha merebut dengan paksa tongkat tersebut hingga menyebabkan pemiliknya jatuh tersungkur ke tanah.

Orang berpakaian serba putih itu pun berusaha bangun dan terlihat matanya penuh air mata. Raden Said berusaha mengamati tongkat yang telah berhasil dia rebut dan ternyata gagang tongkat tersebut tidaklah terbuat dari emas. Melihat pemilik tongkat tersebut menangis, maka Raden Said segera mengembalikan tongkat tersebut.

Namun, orang tersebut tiba-tiba berkata kepada Raden Said jika yang dia tangisi bukanlah tongkat yang Raden Said rebut darinya. Beliau berkata sambil menunjukkan rumput yang berada pada genggaman tangannya. Beliau kembali berkata jika dia merasa berdosa karena telah melakukan dosa dengan melakukan perbuatan yang sia-sia dengan mencabut rumput yang tidak seharusnya dicabut karena terjatuh.

Raden Said pun merasa heran. Kemudian beliau menjawab jika hanya beberapa helai rumput saja yang tercabut namun mengapa orang tersebut merasa telah melakukan dosa. Dan orang berpakaian serba putih itu pun kembali menjawab jika perbuatan yang telah dia lakukan memanglah sebuah dosa karena dilakukan sia-sia.

Mencabut rumput untuk kebutuhan memang diperbolehkan namun jika tidak ada tujuan maka termasuk dosa. orang tersebut juga menggunakan sebuah perumpamaan atas perbuatan yang telah Raden Said lakukan selama ini. Mencuri untuk menolong orang miskin bukanlah sesuatu yang dibenarkan.

Hal ini bisa di ibaratkan dengan menggunakan air kencing untuk mencuci pakaian yang kotor. Hal tersebut tidaklah akan membuat pakaian menjadi bersih namun justru menambah kotor dan bau. Mendengar penjelasan itu, Raden Said mulai merenung dan memikirkan apa yang dikatakan orang tersebut.

Orang berpakaian putih itupun juga melakukan sesuatu yang membuat takjub Raden Said yaitu mengubah pohon aren menjadi emas. Raden Said berusaha memanjat pohon aren tersebut dan berusaha mengambil buahnya karena penasaran. Di saat Raden Said akan memetik buahnya, tiba-tiba buah-buah aren tersebut rontok dan berjatuhan sehingga menimpa kepala Raden Said dan beliau pun jatuh pingsan.

Setelah tersadar, tampak sosok yang bukan seperti orang biasa di hadapan Raden Said sehingga timbul keinginan dalam hatinya untuk berguru pada orang tersebut. Raden Said berusaha untuk mengejar orang tersebut dan menyatakan keinginan bahwa beliau ingin berguru kepadanya.

Orang tersebut bersedia menjadikannya murid dengan satu syarat yaitu, Raden Said diminta untuk menjaga tongkat yang beliau tancapkan di pinggir sungai dan tidak boleh beranjak hingga orang tersebut datang kembali. Raden Said menjalankan permintaan orang berbaju putih tersebut dengan sungguh-sungguh.

Hingga suatu ketika orang tersebut datang kembali menemui Raden Said yang masih setia menjaga tongkat tersebut setelah tiga tahun lamanya. Ternyata orang berbaju putih tersebut tidak lain adalah Sunan Bonang. Beliau pun mengajak Raden Said ke Tuban untuk menerima pelajaran agama.

Nama Kalijaga diambil berdasarkan kisah tersebut. Menurut Bahasa Jawa kali itu artinya sungai, sedangkan jaga artinya menunggu atau menjaga. Kalijaga artinya orang yang setia menjaga tongkat yang ditancapkan di kali atau sungai. Walaupun perbuatan yang dilakukan Raden Said tampak mulia sebelumnya namun pada dasarnya perbuatan mencuri tetaplah salah dan dosa.

Istri dan Anak Sunan Kalijaga

www.netralnews.com

Sunan Kalijaga menurut beberapa cerita menikah dengan putri Maulana Ishaq yang bernama Dewi Saroh dan dikaruniai puteri yang bernama Dewi Sofiah dan Dewi Rakayuh serta seorang putra bernama Raden Umar Said atau biasa dikenal dengan nama Sunan Muria.

Sunan Kalijaga Rindu Kepada Ibunya

informazone.com

Sepeninggal Raden Said dari istana, permaisuri Adipati Wilatikta atau ibunda Raden Said merasa tidak memiliki gairah untuk hidup.

Tidak terasa jika Raden Said telah meninggalkan kedua orang tuanya hingga bertahun-tahun lamanya. Ketika perampok asli yang menjebak Raden Said tertangkap, rasa penyesalan yang dalam dirasakan oleh ayahanda Raden Said. Beliau menangis sejadi-jadinya dan merasa menyesal telah menyuruh Raden Said meninggalkan istana.

Selama ini ternyata Raden Said telah kembali ke Tuban karena dibawa oleh Sunan Bonang. Ibunda Raden Said tidak pernah mengetahui hal itu karena Raden Said pun tidak pernah bertandang secara langsung ke Istana Tuban. Beliau berguru ke tempat Sunan Bonang terlebih dahulu.

Raden Said merasa rindu kepada ibundanya sehingga dia pun menggunakan ilmunya yang tinggi untuk mengobati rasa kerinduannya. Raden Said melantunkan ayat-ayat suci Al-quran yang dikirimkan ke istana Tuban melalui jarak jauh. Suaranya yang merdu membuat bergetar hati adipati Tuban, istrinya bahkan dinding istana Tuban.

Akhirnya Raden Said pun dapat bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Saat diminta untuk menggantikan kedudukan ayahandanya untuk menjadi adipati Tuban, beliau tidak bersedia sehingga kedudukan adipati diberikan kepada Empu Supa dan Dewi Raswulan yaitu cucunya.

Setelah itu, Raden Said melanjutkan dakwahnya ke daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Saat berdakwah, Raden Said terkenal arif dan bijaksana sehingga dakwah beliau dapat dengan mudah diterima masyarakat. Ada sebuah riwayat yang mengisahkan tentang Raden Said yang dihadang oleh segerombolan perampok kejam ketika sedang melakukan perjalanan dakwahnya.

Raden Said mengatakan kepada para perampok tersebut, jika beliau tidak memiliki apa-apa. Tetapi sayangnya, perampok yang sangat kejam tersebut tidak mempercayai perkataan Raden Said. Mereka memutuskan untuk menggeledah beliau.

Raden Said ingin memberikan sedikit pelajaran kepada perampok-perampok tersebut agar kembali ke jalan yang lurus. Dengan tersenyum dan tenang, Raden Said mengibaskan sehelai kain panjang yang beliau sampirkan di bahu ketika perampok menyerang.

Seketika perampok-perampok tersebut terpental jauh karena kibasan kain beliau. Mereka semakin garang dan kembali menyerang Raden Said. Beliau menggunakan ilmu malih rupa di saat pemimpin perampok tersebut mendekati dan menyabetkan pedang kepadanya.

Beliau membiarkan pedang tersebut menancap pada tubuhnya dan tidak menghindar sedikitpun. Melihat pemimpinnya berhasil mengalahkan Sunan Kalijaga maka serta merta anak buah perampok tersebut ingin menabrak tubuh Sunan Kalijaga.

Namun, sebelum mereka melompat dan menyerang ternyata ada sebuah tangan yang menahan gerakan mereka dengan halus. Terdengar suara lembut berkata jika yang mereka serang hanyalah sebuah pohon asam bukan Sunan Kalijaga.

Beliau juga berkata jika ingin mengetahui kebenarannya maka mereka harus menutup mata dan menggunakan mata batin mereka untuk melihat. Anak buah perampok tersebut ada beberapa yang mengikuti perintah Sunan Kalijaga dan akhirnya memutuskan untuk masuk Islam dan bertaubat.

Perjalanan Sunan Kalijaga Hingga Menjadi Wali

wisata-religi.com

Memang, untuk menjadi seseorang yang lebih baik, banyak hal-hal yang meski kita lalui, begitu juga dengan para wali. Mungkin selama ini kita mengenal sebagian besar wali bukanlah dari orang Jawa asli namun mereka memiliki hubungan baik antara guru dengan murid, garis keturunan ataupun saudara.

Sebelum menjadi seorang wali, banyak perjalanan yang harus dilalui oleh Sunan Kalijaga. Sejak masih muda, Sunan Kalijaga memang dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan rakyat jelata. Pada mulanya, beliau merasa iba dan prihatin atas keadaan masyarakat Tuban yang diharuskan untuk membayar upeti terlebih lagi pada musim kemarau yang panjang.

Hal tersebut membuat beliau memiliki inisiatif untuk mencuri hasil bumi di gudang dan dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Hingga akhirnya perbuatan beliau diketahui oleh penjaga gudang dan dilaporkan kepada ayahandanya.

Beliau juga sempat diusir dari istana Tuban hingga akhirnya bertemu dengan Sunan Bonang dan diajarkan ilmu agama. Pertemuan dengan Sunan Bonang inilah yang menjadi titik awal Sunan Kalijaga mengenal dan mengerti tentang ilmu agama dan akhirnya menjadi seorang wali Allah.

Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga

thegorbalsla.com

Sunan Kalijaga mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan dzikir. Beliau mengajarkan berbagai bacaan dzikir baik melalui lisan, nafas, hati, maupun ruh kepada para murid-muridnya.

Selain itu, Sunan Kalijaga juga memiliki beberapa benda pusaka yang selalu beliau bawa ketika berdakwah. Benda pusaka tersebut antara lain batu bobot, keris kyai cerubuk, tongkat kalimasada, sendang, dan api alam. Sunan Kalijaga juga memiliki sebuah rompi yang terbuat dari kulit kambing yang biasa disebut dengan rompi ontokusumo.

Sebagai seorang waliyullah, Sunan Kalijaga memiliki karomah ilmu kanuragan yang biasa dikenal dengan nama Ilmu Aji Jagat. Sunan Kalijaga tetap menjadi sosok yang rendah hati meskipun memiliki karomah yang luar biasa.

Metode Dakwah Sunan Kalijaga

harnas.co

Sunan Kalijaga memilih media seni sebagai sarana untuk berdakwah. Beliau juga memiliki pola dakwah yang hampir menyerupai sang guru yaitu Sunan Bonang.

Paham keagamaan yang beliau ajarkan adalah ilmu salaf dan bukanlah pemujaan semata atau sufistik panteistik. Sikap toleran terhadap budaya Jawa juga diterapkan oleh Sunan Kalijaga. Beliau memiliki pendapat jika masyarakat akan lebih mudah menerima dakwah apabila didekati dengan cara pelan-pelan, halus, dan bertahap.

Jika beliau memaksakan kehendak maka rakyat justru akan semakin menjauh. Jadi, Sunan Kalijaga tetap memegang tradisi atau adat istiadat masyarakat Jawa sehingga membuat rakyat tertarik saat mendengarkan dakwah beliau. Seni yang biasa beliau gunakan adalah suluk, wayang, seni ukir, dan gamelan.

Gundul-gundul pacul dan lir ilir merupakan lagu suluk terkenal karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga juga terbukti jitu kiarena banyak adipati Jawa yang memeluk agama Islam melalui Sunan Kalijaga yaitu adipati Pajang, Kebumen, Banyumas, Pandaran dan Kartasura.

Baca Juga Kerajaan Mataram

Melalui kisah Sunan Kalijaga kita dapat mengetahui jika penyebaran agama Islam di Pulau Jawa memang dilakukan secara damai dan halus. Meski tanpa mengubah adat istiadat Jawa, kebiasaan masyarakat akan dapat berubah dengan sendirinya setelah mereka memahami ajaran Islam dengan benar. Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kita belajar dari kebijaksanaan Sunan Kalijaga dalam berdakwah.