Sunan Gunung Jati: Biografi, Kisah, Ajaran, Karomah, Letak Makam

Sunan gunung jati – Siapa yang tidak kenal dengan nama sunan gunung jati. Sunan gunung jati merupakan salah satu anggota dari walisongo yang telah berjasa menyebarkan agama Islam di seluruh jawa. Apabila pada masa sekarang, walisongo merupakan suatu badan atau dewan yang memiliki tujuan berdakwah.

Penyebutan walisongo, karena beranggotakan sembilan orang. Sembilan orang tersebut, terdiri dari Sunan gresik yang juga di kenal dengan mana Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel atau dikenal juga dengan nama Raden Rahmat, Sunan Bonang yang juga di kenal dengan Makhdum Ibrahim, Sunan Drajat atau masih Munat, Sunan Giri yang juga di kenal dengan nama Raden Paku, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati. 

Kesembilan wali tersebut merupakan anggota dewan yang memelopori adanya Islam yang tersebar di seluruh provinsi Jawa. Bentuk dari walisongo merupakan suatu dewan, sehingga apabila terdapat salah satu wali yang meninggal, maka keanggotaan bisa di gantikan.

Berikut ini sedikit ulasan mengenai walisongo yaitu Sunan Gunung Jati. Ulasan berikut ini berisi mengenai biografi lengkap Sunan Gunung Jati dari semasa beliau hidup hingga beliau wafat. 

Beberapa Hal Mengenai Sunan Gunung Jati

Beberapa Hal Mengenai Sunan Gunung Jati
www.tahtamataram.com

Sunan gunung jati merupakan salah satu anggota dewan yang menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat yang khususnya berpusat di Cirebon. Sunan gunung jati memiliki nama asli yaitu Syarif Hidayatullah, lebih lengkapnya lagi, Raden Syarif Hidyatullah.

Sunan gunung jati lahir pada tahun 1448 pada masa masehi. Abdullah Udatuddin bin Ali Nurul Alim merupakan ayah dari Syarif Hidayatullah. Beliau merupakan salah satu penguasa terkemuka Mesir. Sedangkan ibu dari Sunan Gunung Jati adalah Rara Santang yaitu putri Padjajaran.

Putri Rara Santang awalnya bukanlah seorang muslim, namun akhirnya ia masuk agama Islam dan memiliki nama baru yaitu Syarifah Mudaim. Tepat pada tahun 1470 masehi, Sunan Kali Jaga berkunjung ke Tanah Jawa yaitu di Cirebon.

Sunan Kali Jaga sudah memulai dakwah nya di Cirebon dengan dukungan kuat dari pamannya yang merupakan raja Cirebon pertama yaitu Raden Walangsungsang. Selanjutnya pada tahun 1479 masehi tepatnya, sunan Gunung Jati di anugerahi gelar sebagai Raja Cirebon kedua dan menggantikan pamannya yaitu, Raden Walangsungsang.

Sebagai raja, ia mendapatkan gelar Maulana Jati. Banyak sekali orang yang mengatakan, bahwa sunan Gunung Jati merupakan Fatahillah, namun setelah di telusuri sejarah dan dari berbagai sumber yang terpercaya, ternyata Fatahillah bukanlah Sunan Gunung Jati.

Fatahillah merupakan seorang kesatria dari demak dan memiliki asal negeri pasai atau yang sering di sebut dengan malaka. Nama Fatahillah mulai dikenal saat ia bekerja sama dengan para murid Sunan Gunung Jati, dalam menyerang Sunda Kelapa dan juga Banten yang dahulunya di kuasai oleh Padjajaran.

Perpindahan Fatahillah menuju Jawa Barat, dikarenakan pada saat portugis berhasil merebut malaka, saat itu pula Fatahillah berpindah ke Demak. Saat di Demak, adik Fatahillah menikah dengan Raden Trenggono. Sehingga Fatahillah memperoleh tugas untuk menyerang Banten dan Sunda Kelapa.

Masa Awal Datangnya Sunan Gunung Jati

Masa Awal Datangnya Sunan Gunung Jati
thegorbalsla.com

Terdapat beberapa sumber mengenai kedatangan Sunan Gunung Jati ke tanah Jawa. Salah satunya yaitu kitab yang di tulis dengan bahasa Kawi Cirebon dan penulisan menggunakan bahasa jawa. Kitab tersebut bernama Purwaka Caruban Nagari. Kitab yang di dalamnya terdapat seluk beluk kisah perjuangan Sunan Gunung Jati.

Bermula dari masuknya Islam putri Rara Santang dan kakaknya Pangeran Carabuwana. Mereka berdua masuk Islam karena telah mengalami mimpi yang sama, yaitu mimpi bertemu dengan Rasulullah SAW. setelah mimpi itu, kedua saudara pun langsung memeluk agama Islam.

Kemudian hingga pada suatu ketika mereka menunaikan ibadah haji bersama-sama. Di tanah haram, kedua saudara itu tidak hanya menunaikan ibadah haji saja, tetapi juga menetap lama di sana untuk belajar ilmu agama kepada salah satu syekh besar yang ada di Mekah.

Hingga pada suatu ketika, tiba-tiba datanglah seorang utusan sebagai utusan sang Sultan. Sultan Abdullah mengirimkan utusan untuk melamar Syarifah Muda’im atau Putri Rara Santang. Mengetahui hal tersebut, putri Rara Santang pun langsung menerima lamaran dari Sultan Abdullah, hingga akhirnya pernikahan pun terjadi dengan Raden Cakrabuwana sebagai wali dalam menikahkan adiknya dengan sang sultan.

Pernikahan terjadi secara khidmat di Mesir dengan mengikuti Madzhab Imam Syafi’i. Setelah putri menikah dengan Sultan Abdullah, putri Rara Santang pun tinggal di Mesir untuk waktu yang lama. Sang kakak yaitu Raden Cakrabuwana awalnya tinggal menemani adiknya di Mesir.

Namun dalam jangka waktu 6 bulan kemudian, Raden Cakrabuwana memutuskan untuk kembali ke tanah Jawa. Putri Rara santang yang telah merubah nama menjadi Syarifah Muda’im pun akhirnya di karuniai anak yang di namai dengan Syarif Hidayatullah. Perasaan bahagia menghiasi keluarga Syarifah Muda’im dan Sultan Abdullah.

Saat Syarif Hidayatullah memasuki usia remaja, Sultan Abdullah meninggal dunia, sehingga pengasuhan Syarif Hidayatullah sepenuhnya di pegang oleh Syarifah Muda’im. Karena kegigihan dan kecerdasan luar biasa yang dimiliki oleh Syarif Hidayatullah, ia pun selalu bersemangat dan memiliki minat yang sangat tinggi pada bidang keilmuan.

Sehingga membuatnya berguru kepada banyak syekh besar yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Hingga pada suatu ketika tepatnya tahun 1470, Syarif Hidayatullah bersama dengan ibunya kembali ke tanah kelahiran ibunya yaitu tanah Jawa, untuk menyebarkan Islam.

Cerita tentang Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien

Cerita tentang Sunan Gunung Jati dan Putri Ong Tien
thegorbalsla.com

Putri Ong Tien merupakan seorang putri yang memiliki kecantikan luar biasa dan berasal dari negeri China. Hal tersebut bermula pada saat Syarif Hidayatullah berdakwah ke negeri China melalui jalur pengobatan. Setiap orang di negeri china yang mengalami keluhan terhadap kesehatan, langsung dapat mengunjungi Syarif Hidayatullah.

Syarif Hidayatullah menggunakan kesempatan tersebut untuk menyebarkan Ajaran Islam. Setiap pasien yang berobat kepada Syarif Hidayatullah harus melakukan sholat. Setelah sholat, orang tersebut langsung sembuh dari penyakitnya.

Kesaktian Syarif Hidayatullah dalam pengobatan, membuat kaisar China penasaran dan ingin menguji keahlian Starif Hidayatullah. Hingga akhirnya Syarif Hidayatullah pun di panggil ke istana. Sesampainya di istana, sang kaisar langsung menguji Syarif Hidayatullah.

Sang kaisar, menyuruh Syarif Hidayatullah untuk menebak salah satu putrinya yang sedang hamil, padahal saat itu, tidak seorang putri pun yang sedang mengandung dan keseluruhan putri belum ada yang menikah. Karena mengetahui sedang di uji, maka saat itu juga Syarif Hidayatullah berdoa agar putri yang beliau tebak yang masih perawan benar-benar mengandung.

Syarif Hidayatullah menebak bahwa putri Ong Tien sedang mengandung, setelah di periksa ternyata benar, bahwa putri Ong Tien sedang mengandung. Mengetahui hal tersebut, seluruh Istana menjadi riuh dan tidak percaya, kaisar yang marah pun langsung mengusir Syarif Hidayatullah dari negeri China dan beliau kembali ke tanah Jawa.

Berbeda hal nya dengan Kaisar China, putri Ong Tie malah jatuh cinta dengan Syarif Hidayatullah, hingga akhirnya sang putri menuju pulau Jawa untuk menemui Syarif Hidayatullah. Saat perjalanan menuju pulau jawa, Putri Ong Tien di temai oleh beberapa pejabat penting salah satu nya Pai Li Bang.

Saat perjalanan melewati Sriwijaya, Pai Li Bang mendapatkan amanah untuk menjadi adipati Sriwijaya, dan akhir nya Pai Li Bang memilih menetap di Sriwijaya. Mengetahui hal tersebut, sang putri pun langsung melanjutkan perjalanannya dengan di temani pejabat lainnya. 

Singkat cerita pada tahun 1481, putri Ong Tien menikah dengan Syarif Hidayatullah namun 4 tahun kemudian yaitu tahun 1485, putri Ong Tien meninggal dunia.

Ajaran yang Dibawa oleh Sunan Gunung Jati

Ajaran yang Dibawa oleh Sunan Gunung Jati
merahputih.com

Dalam mendakwahkan ajaran Islam Sunan Gunung Jati membawa beberapa Ajaran yang sangat penting sebagai berikut.

  • Nilai Keyakinan dan Ketakwaan

Sunan Gunung Jati mengajarkan beberapa nilai mengenai ketakwaan dan keyakinan terhadap Allah SWT., nilai-nilai tersebut seperti, pentingnya memelihara orang miskin yang fakir, menjalankan ibadah sholat dengan ketetapan hati yang khusyuk disertai dengan tawadhu’, melakukan ibadah puasa dan selalu istikamah dalam beribadah.

Kemudian hingga perasaan bersyukur yang wajib ada dan tidak boleh di lupakan atas segala rezeki dan keberkahan, kemudian memperbanyak taubat meminta ampun kepada Allah atas segala dosa dan kekhilafan yang telah di lakukan.

  • Nilai Disiplin

Sunan Gunung Jati juga mengajarkan untuk selalu bertindak disiplin. Seperti menepati janji yang telah di buat, mengamalkan ilmu dengan baik, selalu melakukan tolong-menolong terhadap orang yang benar. Penting nya nilai disiplin adalah agar setiap orang tidak meremehkan hal-hal yang dianggap kecil atau sepele.

  • Nilai Kebijaksanaan serta Kearifan

Nilai yang harus tertanam dalam jiwa seseorang yaitu nilai dalam menjauhi segala hal dan perbuatan yang buruk dan terus melakukan hal-hal yang baik. Nilai kebijaksanaan terus di ajarkan oleh Sunan Gunung Jati, sehingga lambat laun masyarakat juga mengamalkan dan memiliki sifat yang arif serta bijaksana.

  • Nilai Tata Krama

Selalu mengamalkan tatakrama yang bagus seperti bertindak sopan kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda. Nilai kesopanan adalah nilai yang penting yang harus terdapat di berbagai segi kehidupan. Oleh karena itu, Sunan Gunung Jati selalu menanamkan nilai kesopanan dan tatakrama pada masyarakat Tanah Jawa.

  • Nilai Sosial

Dalam kehidupan bersosial, baik itu berkumpul dengan masyarakat maupun berdagang, setiap orang harus memiliki ilmu dan keahlian dalam hal tersebut. Sehingga mereka bisa melakukan hubungan jual beli dengan benar.

Karomah yang Dimiliki Sunan Gunung Jati

Karomah yang Dimiliki Sunan Gunung Jati
thegorbalsla.com

Setiap wali pasti memiliki karomah, begitu pula Sunan Gunung Jati. Salah satu babad yang menceritakan karomah yang di miliki oleh Sunan Gunung Jati adalah babad cirebon yang juga di kenal sebagai babad tanah Sunda.

Terdapat suatu kisah yang menceritakan tentang sesuatu yang di alami oleh Sunan Gunung Jati saat beliau menunaikan ibadah haji di Mekkah. Sebelum berangkat haji, sang ibu yaitu Syarifah Muda’im memberikan uang sebesar 100 dirham sebagai bekal perjalanan Sunan Gunung Jati.

Pada pertengahan perjalanan, Sunan Gunung Jati di hadang oleh perampok yang ingin mengambil uang bekal. Mengetahui hal tersebut, Sunan Gunung Jati pun langsung memberikan uang sebesar 100 dirham kepada perampok.

Melihat Sunan Gunung Jati yang langsung memberikan uang kepada perampok, para perampok pun ber spekulasi bahwa Sunan Gunung Jati memiliki uang yang banyak yaitu lebih dari 100 dirham. Akhirnya para perampok terus saja memaksa untuk mengambil uang yang tersisa.

Mengalami hal tersebut Sunan Gunung Jati pun langsung melemparkan senyum. Lalu mengarahkan jari nya untuk menunjuk suatu pohon besar, kemudian beliau berkata, bahwa itu lah pohon emas untuk kalian. Sang perampok langsung terpana ketika melihat pohon biasa langsung berubah menjadi pohon emas setelah di tunjuk oleh Sunan Gunung Jati.

Akhirnya sang perampok bertaubat dan langsung mengucapkan kalimat syahadat dan menyatakan diri sebagai murid dari Sunan Gunung Jati. Selain itu, dalam babad tersebut juga di ungkapkan bahwa Sunan Gunung Jati dapat berjalan dengan memijak di atas air.

Selain dua karomah tersebut, masih banyak karomah yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati. Masuknya Sunan Gunung Jati di tanah Jawa dikarenakan ibu beliau merupakan asli dari Jawa, oleh karena itu, beliau ingin mendakwahkan agama Islam di tanah Jawa.

Sesampainya di tanah Jawa, beliau mendapati bahwa kakeknya sendiri belum memeluk agama Islam. Pada saat itu, agama Islam masih belum di terima di berbagai lapisan masyarakat jawa. Mengetahui hal tersebut, Sunan Gunung Jati pun meminta bantuan kepada penguasa tanah Jawa yang merupakan kakeknya sendiri yaitu Prabu Siliwangi untuk berdakwah kepada masyarakat Jawa pedalaman yang masih memegang teguh ajaran Hindu Budha.

Prabu Siliwangi pun mengizinkan Sunan Gunung Jati untuk melakukan dakwah Islam di tanah Jawa. Perizinan tersebut tentunya memiliki beberapa syarat yang harus di penuhi oleh Sunan Gunung Jati. Seperti larangan pemakaian kekerasan hingga terjadi pertumpahan darah.

Penyebaran Islam harus melalui jalan ramah tamah dan halus. Mengetahui pesan dari sang kakek, Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di tanah Jawa melalui cara yang halus. Karena kehalusannya, seluruh masyarakat Jawa memasuki Islam dengan suka rela tanpa adanya paksaan.

Semakin lama Islam di tanah Jawa semakin berkembang pesat. Hal tersebut juga terjadi saat Sunan Gunung Jati di percaya sebagai pemimpin dari pesantren kemudian hubungan baik yang terjalin antara Sunan Gunung Jati dan Kesultanan Demak membantu beliau untuk lebih memperluas agama Islam dan juga melawan para penjajah.

Karena penyebaran Islam dengan cara yang lemah lembut tidak lah cukup, akhirnya Sunan Gunung Jati mengambil langkah tegas untuk melindungi kerajaan Islam dari kerajaan Hindu Budha yang menyerang.

Sunan Gunung Jati ketika Wafat

Sunan Gunung Jati ketika Wafat
www.informazone.com

Sunan Gunung Jati meninggal saat memasuki usia 120 tahun tepat nya pada tahun 1568 Masehi. Karena meninggal pada usia yang sangat tua, cucu beliau telah meninggal terlebih dahulu sebelum beliau. Sehingga yang menggantikan posisi beliau adalah cicit nya.

Bukit Gunung Jati merupakan tempat yang di jadikan peristirahatan terakhir dari Sunan Gunung jati. Bukit tersebut saat ini telah di pugar dan tidak pernah sepi dari penziarah. Setiap hari banyak penziarah yang mengunjungi makam Sunan Gunung Jati. Dari tahun ke tahun makam tersebut semakin banyak penziarahnya.

Baca Juga Doa Setelah Adzan

itulah beberapa hal umum yang bisa di ketahui mengenai dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Jati. Biografi tersebut merupakan suatu kisah yang di dalamnya memiliki nilai moral yang bisa di pelajari. Selain itu, dengan mengetahui cerita mengenai Sunan Gunung Jati dalam menjalani kehidupannya dan pada saat berdakwah Islam, bisa di jadikan pelajaran dan bisa di ambil ibrah dari kisah tersebut.

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu anggota dari walisongo yang memiliki jasa besar terhadap penyebaran Islam serta perkembangan Islam di tanah Jawa. Tanah Jawa sebelum kedatangan walisongo merupakan salah satu pusat atau basis dari agama Hindhu Budha. Hingga terbentuklah kerajaan Hindu Budha yang besar di Tanah Jawa.

Setelah kedatangan para walisongo, yang memiliki misi menjadikan Islam masyarakat tanah Jawa, akhir nya lambat laun popularitas dari agama Hindu Budha menghilang. Hal tersebut dikarenakan masyarakat yang telah memandang Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘alamin.

Tinggalkan komentar