Rantai Makanan: Penjelasan, Jenis-Jenis, Mata Rantai, Tipe, dan Manfaat bagi Ekosistem

Rantai Makanan – Peristiwa makan-memakan di alam adalah sebuah hal yang alami. Makhluk hidup mendapatkan sumber energinya dari makanan yang mereka makan. Tapi ternyata peristiwa rantai makanan ini punya peranan yang sangat penting untuk keseimbangan ekosistem.

Baik tumbuhan, hewan, dan juga manusia memiliki posisinya sendiri dalam siklus makan-memakan ini. Jika salah satu mata rantai terganggu, maka mata rantai yang lain pun akan mengalami gangguan. Gangguan ini pula yang kadang bisa merusak ekosistem alami.

Pengertian Rantai Makanan

Dalam ilmu ekologi ada materi khusus tentang peristiwa makan-memakan ini. Tujuan mempelajari materi ini bukan hanya untuk melihat peristiwa bagaimana 1 spesies memakan spesies yang lain. Tapi ternyata dalam sebuah siklus makan-memakan ini banyak hal yang terjadi.

Rantai makanan adalah sebuah proses transfer energi. Proses ini terjadi dari organisme yang disebut produsen menuju ke konsumen. Pada tahap akhir, organisme akan diuraikan kembali dengan bantuan organisme dekomposer dan detritivor.

Tingkatan mata rantai dalam siklus makan-memakan ini bersifat trofik. Artinya energi ditransfer dari 1 tingkatan ke tingkat berikutnya. Energi ini tidak bisa terbalik ditransferkan dari tingkat atas ke tingkat yang lebih rendah.

Rantai makanan ternyata menjadi salah satu komponen dalam jaring-jaring makanan. Artinya siklus makan-memakan ini merupakan satu unit penggerak jaring makanan yang geraknya linear. Panjang siklus makan-memakan ini ditentukan oleh berapa banyak titik yang menghubungkan tingkat trofik.

 

Perbedaan Rantai Makanan dan Jaring Makanan

·         Sumber Makanan

Pada siklus makan-memakan, organisme hanya mengkonsumsi 1 jenis organisme di tingkatan bawahnya saja. Sedangkan jaring makanan menggambarkan 1 organisme yang bisa memakan beberapa jenis organisme lain di tingkatan bawahnya.

·         Skala

Jaring makanan adalah kumpulan dari rantai makan-memakan yang terkait. Maksudnya, 1 jaring makanan bisa terdiri dari banyak rantai makan-memakan yang terhubung seperti jaring laba-laba.

Jenis-Jenis Rantai Makanan

Ternyata di dunia ini tidak hanya dipenuhi oleh 1 jenis rantai makan-memakan saja. Berdasarkan organisme apa yang terlibat di dalamnya, maka rantai makan-memakan bisa dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu:

1.     Rantai Predator (Pemangsa)

Rantai ini bisa terjadi jika konsumen tingkat 1 yaitu hewan herbivora dimakan oleh hewan karnivora. Contoh mudahnya seperti rumput – kelinci (konsumen 1) – ular (konsumen 2/karnivora) – elang (predator).

 

2.     Rantai Saprofit

Rantai ini bisa terjadi jika organisme yang terlibat adalah dekomposer. Tugasnya adalah mengambil energi dari proses penguraian organisme lain yang sudah mati. Organisme yang diuraikan sangat beragam, mulai dari tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia.

 

3.     Rantai Parasit

Rantai ini bisa terjadi jika muncul organisme yang bersifat parasit terhadap organisme lain. Hubungan simbiosis parasitisme ini berarti 1 pihak diuntungkan dan 1 pihak justru dirugikan. Contohnya adalah pohon mangga dan benalu yang menempel dan mengambil nutrisinya.

 

Mata Rantai

Pada umumnya organisme yang terlibat dalam rantai makan-memakan ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu produsen, konsumen, dan detritivor. Masing-masing mata rantai ini punya peranan sendiri, yakni:

1.     Organisme Produsen

Organisme ini dikatakan sebagai produsen karena mereka bisa menghasilkan sumber energinya sendiri. Istilah biologi untuk organisme ini adalah autotrof. Contohnya adalah tumbuhan yang menggunakan sinar matahari untuk proses fotosintesis.

Pada proses ini, energi matahari membantu CO2 dan H2O berubah menjadi glukosa dan oksigen. Glukosa inilah yang menjadi sumber energi bagi tumbuhan, sedangkan oksigen dilepaskan kembali ke alam dan menjadi sumber kehidupan bagi hewan dan manusia.

2.     Organisme Konsumen

Organisme apapun yang tidak bisa menghasilkan sumber makanannya sendiri disebut dengan konsumen. Mereka akan menggantungkan hidupnya dari ketersediaan organisme di tingkat bawahnya. Organisme ini disebut juga heterotrof. Ada 2 jenis konsumen, yaitu:

  1. Konsumen Tingkat I

Konsumen tingkat I adalah organisme yang mendapatkan sumber energi langsung dari produsen. Biasanya organisme ini termasuk jenis hewan herbivora (pemakan rumput) dan unggas (pemakan biji-bijian).  Contohnya seperti kambing, domba, sapi, ayam, dan bebek.

  1. Konsumen Tingkat II

Konsumen tingkat II mendapatkan sumber energinya dari konsumen tingkat I. Organisme ini dikenal juga dengan istilah karnivora atau pemakan daging. Contohnya adalah kucing, singa, harimau, ular, serigala, dan lain-lain.

3.     Detritivor

Organisme ini bersifat heterotrof dan melakukan tugas sebagai penghancur. Detritivor biasanya memakan organisme lain yang sudah mati. Hasil sisa aktivitas makannya ini kemudian berbentuk potongan-potongan kecil. Nantinya potongan ini akan dibusukkan oleh dekomposer.

4.     Dekomposer

Tugas utama dekomposer adalah mendapatkan sumber makanan yang berasal dari sisa-sisa organisme yang sudah mati. Potongan-potongan kecil hasil penghancuran detritivor adalah sumber makanan mereka.

Dekomposer jugalah yang membuat organisme mati bisa membusuk dan akhirnya kembali menjadi unsur-unsur sederhana di tanah. Contoh dekomposer seperti bakteri dan juga jamur. Keberadaannya di alam sangat penting untuk keseimbangan.

 

Tipe Dasar Rantai Makanan

·         Rantai Rerumputan

Grazing food chain adalah istilah yang digunakan untuk menyebut peristiwa makan-memakan yang pertama diawali oleh tumbuhan. Tingkatan trofik yang paling rendah adalah tumbuh-tumbuhan, contohnya rumput – kijang – harimau.

 

·         Rantai Detritus

Detritus food chain adalah istilah yang digunakan ketika rantai makanan dimulai dari organisme yang sudah mati. Organisme ini bisa berasal dari hewan atau tumbuhan, contohnya seperti daun kering di tanah – cacing tanah – bebek – manusia.

 

Manfaat Rantai Makanan untuk Ekosistem

Bisa dibilang kalau ekosistem seimbang, maka rantai makanan akan berjalan dengan baik. Proses ini memang terjadi secara alamiah. Jadi saat Anda melihat ular yang memakan tikus, bukan berarti ular tersebut jahat. Tapi memang secara alami, tikus adalah makanan dari ular.

Jika salah satu mata rantai mengalami gangguan, maka mata rantai yang lain juga bisa terancam. Misalnya ketersediaan organisme produsen yang menurun drastis bisa membuat konsumen tingkat I kelaparan dan akhirnya mati.

Hal yang sebaliknya juga berlaku. Jika terjadi kematian massal pada konsumen tingkat I, maka populasi produsen yang ada di rantai trofik paling bawah akan meningkat pesat. Hal ini kadang juga bisa menimbulkan masalah serius terhadap keseimbangan ekosistem.

Contoh mudahnya seperti beberapa kasus di bawah ini:

·         Populasi Ular Sawah Menurun

Banyak kasus dimana ular sawah atau sanca ditangkap oleh manusia untuk diperjual-belikan. Kulit ular ini memang laku di pasaran untuk bahan pembuatan produk fashion, seperti tas, sepatu, dan ikat pinggang. Tapi apakah ekosistem akan baik-baik saja?

Meskipun ular sanca menakutkan, tapi keberadaannya penting untuk ekosistem. Karena ular sawah ini keberadaannya di alam liar sudah sedikit, maka populasi hewan yang biasa dimakannya akan melonjak tajam. Apa hewan itu? Tikus adalah makanan favoritnya.

Tidak berhenti sampai disitu, populasi tikus yang melonjak akhirnya juga bisa mengganggu populasi tanaman yang ditanam di sawah oleh petani. Tikus-tikus ini akan leluasa mencari makan di sawah dengan merusak tanaman petani. Akibatnya, petani pun gagal panen.

·         Harimau yang Turun Gunung

Jangan salahkan harimau, jika suatu ketika mereka berkeliaran di pemukiman warga yang lokasinya tepat berada di kaki gunung atau pinggir hutan. Harimau secara alamiah merupakan hewan teritorial. Ia akan tetap berada di wilayah yang sudah ditandai dan dikuasainya.

Lalu bagaimana jika terjadi kasus harimau sampai ke pemukiman? Para ahli pasti akan langsung berkesimpulan bahwa sumber makanannya di dalam hutan sudah hilang. Karena itu, si harimau ini sampai mencari makan jauh dari wilayah teritorialnya.

Peran manusia dalam pembalakan dan kerusakan hutan menyebabkan sumber makanan harimau, seperti hewan herbivora dan karnivora berkurang drastis jumlahnya. Karena tidak ada lagi yang bisa diburu di hutan, harimau ini akhirnya mengincar ternak warga.

Ternyata rantai makanan juga menjadi penanda apakah ekosistem kita sedang baik-baik saja atau tidak. Jika terjadi gangguan pada salah satu organismenya, maka masalah bisa muncul. Bahkan gangguan ini bisa menyebabkan kepunahan suatu spesies.

Rantai Makanan: Penjelasan, Jenis-Jenis, Mata Rantai, Tipe, dan Manfaat bagi Ekosistem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.