Site icon Made Blog

49 Puisi Cinta Untuk Kekasih, Orang Tua , Dll (Lengkap)

CECAN

Puisi Cinta – Puisi merupakan bentuk ekspresi dan cinta adalah perasaan yang banyak diperbincangkan. Maka dari itu, puisi cinta kerap dicari ataupun dibuat. Puisi-puisi tersebut dibagikan dan semakin abadi. Kepopulerannya didasarkan sebab banyak yang mengalami kisah serupa. Mendapatkan puisi cinta pasti membuat Anda atau pasangan berdebar.

Walau demikian, ada kalanya Anda tak ingin mengutip tokoh ternama di dunia puisi. Selain banyak dipakai, sebagian puisi relatif rumit ditafsirkan. Sesekali Anda pun ingin memberi puisi yang lebih terus terang agar lebih mudah tersampaikan. Di bawah ini terdapat puluhan contoh puisi cinta untuk menjawab keinginan Anda. Selamat menikmati!

Mencintai Sahabat

Sahabat, ingatkah saat kau bersandar di pundakku?

Meminjam telingaku untuk cerita harianmu

baik susah, senang, maupun biasa saja

Dan meminta penilaianku untuk penampilanmu,

kue buatanmu, lukisanmu, dan banyak hal lain

 

Sejak lulus kita jauh terpisah

Aku di pulau ini, kau di pulau sana

Bekerja di profesi berbeda

Punya teman-teman sendiri

 

Dan kau bercerita kau jatuh cinta

Sebagian dariku bahagia, sisanya mati rasa

Kau tidak tahu, aku mencintaimu sejak dulu kala

Saat kita masih remaja ingusan ringan tawa

Karena Kamu

Karena kamu… aku bertahan atas segalanya

Yang selalu kucinta tak akan berlebihan

Merajut asa demi bibit cinta yang kita tanam

Bersama kita mengarungi derasnya arus kehidupan

 

Karena kamu… aku bersabar untuk bertahan

Meladenimu ketika penat melanda jiwa

Menenangkanmu atas segala kesedihan yang datang

Menjalin hubungan tanpa pamrih hingga akhir waktu

 

Aku mencintaimu, selamanya hingga jadi debu

Tak peduli seberapa kencang topan yang melanda

Tak dihiraukan seberapa keras kilat yang menyambar

Aku akan selalu bersamamu, untuk selamanya dan sampai kapanpun

Diam dalam Sepi

Keheningan akan terus datang

Tanpamu yang aku cinta

Tanpa dirimu yang selalu aku puja

Denganmu yang selalu tersimpan dalam lubuk hati yang paling dalam

 

Mengapa engkau selalu tak bersamaku

Ketika diriku merindu dan mengharap kehadiranmu

Tak ada kabar yang berhembus dari dirimu

Batang hidungmu juga tak pernah kembali ke hadapanku

 

Entah apa yang merasukimu

Hingga kau tak ingin bersahaja denganku

Aku terus merenung apa yang sebenarnya terjadi

Atas kehilangan ini yang tiba-tiba datang tiada terduga

 

Semua ini tiada berarti

Hanya keheningan yang selalu menemani

Tanpamu kini aku menyadari satu hal

Impian hanya ada dalam kesepian

 

 

Telepon Tua

Ingatkah engkau dengan telepon tua ini

Kita sering bencengkerama dengan telepon ini

Sedari dulu sering untuk bertukar kabar

Atau hanya untuk melepas rindu yang sama-sama terasa

 

Hentakan detak jantung yang kian berirama

Terenyuh hati yang sedang kasmaran

Saat itu.. masih bersua bersamamu

Hingga kini tak akan pernah lenyap dari dunia

 

Masih bersuara cantik ibarat bunga mawar

Suaramu nan lembut mengingatkanku tentang segalanya

Tentang arti hidup yang sebenarnya

Engkau telah membuat duniaku berputar dengan indah

 

Berjanjilah selalu untuk selalu tinggal di hati

Mengingatkan tentang seluk beluk yang tak akan padam

Mengiyakan segala tantangan untuk dihadapi bersama

Demi keyakinan atas nama cinta suci kita

 

Rintihan Hujan

Terkaan hujan kembali menangkap rasa

Hening melahap rasa yang tak tergantikan

Terpikat melewati jelaga

Terpesona tak akan dihiraukan

 

Kendati masih terasa jua

Masih padat dalam suatu bejana

Apalah daya lisan yang kian melemah

Sebab melihatmu sudah sangat bahagia

 

Tentang dirimu yang masih berdikari

Melewati rintangan masa yang kian pelik

Tentang dirimu yang masih segar dalam bayangan

Tentang dirimu wahai jelita

 

Biarlah

Lembut dan cantik sapamu menyapa jiwa

Kelopak nuranimu menyentuh hati

Laksana lembutnya sutera mengelus lena

Hingga terbuai dan hanyut di jiwa yang lembut

 

 

Kini … kelopak nurani menutup

Tercemar asa duga yang mencekam

Untaian lisan tiada berdaya menerka

Mengurai soal pun hingga berprahara

 

Alunan melodi merdupun kini berlalu

Sirna serta cerita di masa dahulu

Jiwa terluruh di dalam hati yang pilu

Dimakan arah jalan yang buntu

 

Biarlah…. Biarlah…

Semua berlalu sendirinya

Lekang oleh zaman

 

 

Suatu Ungkapan

Tulisan ini menceritakan suatu hal

Maka ingatlah, Bumi kering tak berisi kelak

Tak ada  yang datang dengan berbisik

sunyi bisu menyayat jiwa dan kalbu

 

Saat bulan kian bersinar terang

matahari berusaha memberi bantuan

saat itulah sang Dewi datang ke bumi

menyapa bumi lewat mega luas nan tangguh

 

Bumi lantas mendendangkan syair merdu

Mengisyaratkan isi hati yang sumringah

Memberi nada yang merdu

Bergema, menyapa melodi yang tertidur

 

Saat nada dijuluki pria, melodi adalah wanitanya

Saat tarian dijuluki wanita, gerakan adalah prianya

Itulah cinta dari segala arti

Mewujudkan keabadian walau nestapa melanda

 

Pukul 8 Malam

Pukul 8 malam

Sebuah kerinduan yang kian membara

Kau menungguku dalam renungan

Kita bertemu dalam penantian

Setelah sekian lama tak bersua

 

Rambutmu yang panjang

Suaramu yang lembut

Parasmu yang begitu rupawan

Tak ingin begitu saja kulepas

Lagi…

 

Duduk saling berdampingan

Sandaran kepalamu mendarat di bahuku

Sesekali melantunkan kata-kata nan indah

Menasbihkan perasaan diantara kita

 

Malam tak kuasa menahan dinginnya

Siratan kata yang kau ucap

Meluapkan gelora dalam jiwa

Tentang kehadiranku yang langka

Dan tatapan mata yang begitu kau rindukan

Katakanlah…

Katakan segalanya

Tentang apa yang ada diantara kita

Tak perlu menjaga rahasia

Ragu tak berpeluang muncul

 

Kini… diriku telah menetapkan

Ketetapan untuk hidup kita selanjutnya

Dengan sebuah cincin dan lembaran aksara

Kau telah memperoleh risalahku

 

Hentakan Api Asmara

Panas masih terasa dalam jiwa

Merasakan akan kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa

Menyiratkan akan takdir yang begitu mulia

Tak terasa akan melanda nestapa yang sumringah

 

Masih terasa hangatnya cinta

Menuju diri yang kian bahagia

Rasa menjelma menjadi cinta

Keabadian sejati itu yang begitu didambakan

 

Merenung jiwa tentang rasa yang fana

Hari terus menggelegar menyuarakan rasa

Lain waktu tak akan datang hal yang sama

Kesempatan pasti tak akan datang untuk kesekian kali

Rasakanlah api asmara yang dahsyat

Dengan gelora yang begitu menggebu dengan hebatnya

Menyatukan dua insan manusia

Menjadi satu dalam mengarungi kehidupan

 

Badai dan Balada

Tak terasa hampa telah menggerogoti sukma

Menyisakan sengsara yang dalam

Tak henti tubuh beranjak kesana kemari

Mencari dirimu, wahai cinta sejati

 

Sudah berapa lama? Entahlah

Sukma masih berusaha menerjang badai nan kencang

Mencari jawaban atas segala kerisauan yang ada

Berhenti untuk beristirahat menjernihkan pikiran

 

Balada timbul dari keresahan dalam hati

Dari kemunafikan naluri yang egois

Sekat antara dua rasa yang saling bercinta

Membuyarkan segala harapan yang tercipta, sirna sudah…

 

Badai ini tak akan henti berlalu

Balada akan selalu tertulis dengan tinta merah

Yang melambangkan kepatahan dari rasa ini

Dariku yang tersakiti atas pengkhianatanmu

 

Danau Purnama

Saat itulah aku bertemu dengannya

Seorang yang begitu menenangkan jiwa

Di kala kepenatan dan riuhnya dunia menyelimuti

Bulan purnama yang menjadi pelipur lara atas segalanya

 

Di kala malam yang melembutkan itu

Danau yang tenang menjadi saksi

Tak lupa dengan sinar purnama yang bersahaja

Dengan semilir angin yang semerbak

 

Kita bersama menghabiskan malam yang panjang

Perahu membawa kita menuju gelombang asmara

Menyeruak ke permukaan menjadi api cinta

Yang bergelora diantara dua hati yang bersatu

 

Takdir telah kutemukan kala malam itu

Orang yang begitu dipercaya datang ke hidupku

Mendampingi diri menuju sinar surya yang cerah

Hinggap dalam lentur dan wanginya kehidupan

 

Sinar Wajah Bidadari

Sinar rembulan yang kupandang

Sekana membawa jiwaku menembus alam kahyangan

Menerka kenikmatan yang tiada tara

Kesegaran dari nafas alam nan sejuk

 

Hadirnya memalingkan duniaku

Tatapan alam tak aku hirauan

Karena dia yang telah membawaku kedalam surga dunia

Begitu indah nan mempesona

 

Wajah senandu tembang merdu

Manisnya serasa matangnya madu

Dari matanya yang menghipnotis dan biru

Membawa diri untuk bersenandung

 

Alunan Senja

Senja kini telah datang kembali

Semilir angin nan lembut menuju kalbu yang dingin

Sinar jingga masih membentang dalam tatapan mata yang kosong

 

Senja ini..

Entah apa yang aku rasakan

Merasakan hal yang tak begitu nyata untuk diterka

Namun menyesakkan dada dan memenatkan pikiran

 

Di bawah senja ini

Aku menunggu dirimu yang tak kunjung kembali

Menebar benih cinta dalam hati dari tempat nun jauh di sana

Hinggap rindu selalu mendera di setiap waktu

 

Wahai senja

Sampaikan salam kasihku kepada dirinya

Pujaan hati yang selalu mengisi hati dan menemani hari dahulu

 

Kita pada Sebuah Lagu

Nada-nada menguntai memori

Lirik-lirik meresapi nurani

Bersamamu, tercipta lebih dari harmoni

 

Bernyanyi bersamamu memupuk kasih

Tenggelam di imaji yang sama

Di mana hanya ada kita di sana

Bermusik denganmu menambah arti

 

Dan lagu pada hari itu

adalah kuci pintu rinduku

Di mana aku bisa instan mengingatmu

pun perasaanku di hari itu

 

Kita pada sebuah lagu

yang menyanyikan kisah kita

saat menyanyikannya bersama

 

Debar Asing

Mungkin kau tak ingat kapan pertama jatuh cinta

mungkin saat terperosok senyumnya

Atau terpaku oleh matanya

Atau saat debaranmu tak lagi kaukenali temponya

 

Yang pasti, kau merelakan hatimu ditangkapnya

hingga otak tak berhenti memikirkannya

menyanding rindu yang tak terhitung jumlahnya

Bersamamu, debaran terasa paling asing tapi familiar

menyesakkan tapi membuat aman

 

Bunga dalam Pot

Ia bertanya, kenapa aku tak pernah memberinya bunga

Buket tanaman warna-warni dililit kertas, kain, dan pita

Katanya, semua temannya pernah mendapatkannya

Dari kekasih mereka

 

Ia tidak tahu jika aku tak ingin

Cintaku tidak serupa bunga potong yang dirangkai

Cintaku adalah akar yang menguat, batang yang membesar,

Daun yang melindungi, dan bunga yang menghiasi

Yang takkan layu dan mati begitu mudah

 

Aku bertanya, apa ia ingin bunga?

Ia antara ingin mengangguk dan mengelak

Aku pun memberikannya bunga, dalam pot bertanah

Kuminta ia merawatnya

 

Memori Bulan Sabit

Sehabis kelas malam, kita pulang bersama

Bertukar cerita

Berbagi tawa ceria

Sepanjang jalan yang tak terasa

 

Kamu membuatku hilang lelah

Sebab bahagia kini mengalahkannya

Aku ingin berjalan denganmu lebih lama

Bercerita denganmu lebih panjang lagi

 

Kita melihat ke atas langit

Kanvas gelap. Titik cahaya tersebar

Lalu bulan sabitnya seperti tersenyum

 

Tatap Aku

Aku bertaruh mentari bahagia melihat kita

Bicara dan tertawa tanpa topeng

Hati kita kini mekar berbunga

Tatapan bersinar dan langkah seirama

Di bawah, semut seolah ikut menari

 

Walau jalan cinta berliku, kisah kita berakhir indah

Tak lagi ada duri

Tak lagi jumpa pahit

Semua sudah kita lampaui

 

Memijak tanah yang sama ke masa depan yang sama

Dua tangan saling genggam

Berbagi kehangatan yang erat seperti gembok dan kunci

Tatap aku, Cintaku

Bersama mari menuju hari esok

Aku, kamu, dan keluarga kecil kita

 

Melepasmu

Bukan apa-apa yang pernah menjadi hampir segalanya

Jarak jauh yang tampak pendek antara langkah kita

Aku jatuh cinta, kukira kamu juga

Dugaanku tampak salah, tapi mencintai tetap tak apa

 

Kau pergi untuk bersamanya

Aku berpura-pura tak ada apa-apa

Berlagak tak pernah ada cinta

Kurasa, melepasmu adalah tanda cintaku

yang terakhir, sebelum aku mencari lain hari

 

Cinta yang Bebas

Aku akan memberimu cinta yang mengalahkan segala stigma

Dan mari kita bangun cinta setara

Tak ada yang lebih berkuasa dari yang lainnya

Tak ada yang lebih lemah dari yang satunya

 

Aku ingin menjalani cinta yang bebas

Tak sebatas kau, aku, dan romantisme berdua

Aku ingin kita sekaligus menjadi saudara, sahabat, dan rekan juang

Aku ingin kita kian mencintai alam, takdir, dan keadilan

Aku ingin cinta kita bebas menjadi bunga, godam, rumus, atau nitrogen

 

Sebab Aku Percaya

Denganmu, aku melampaui apa yang sebelumnya tak kuduga

Berkembang menjadi aku yang saat ini

Masih berproses menjadi aku yang entah bagaimana kelak

Aku berharap di masa itu masih bersamamu

 

Memulai denganmu, aku belum jatuh cinta

Sekadar firasat yang coba kuikuti

Sekadar rasa percaya yang bingung kujelaskan

Namun denganmu, aku yakin memilih jalan itu

 

Mengikuti suara aneh di kepalaku

Membawaku menjalani semua denganmu

Cinta lekas tumbuh, dan tumbuh semakin besar

Mungkin dulu sudah kautebar benihnya

Mungkin bersamamu menumbuhkan pohonnya

 

Menjadi Cermin

Cinta tak peduli kau kurus atau gemuk

Kau hitam atau putih

Kau anggun atau serampangan

Kau modis atau kampungan

Kau pintar atau pemalas

 

Yang benar-benar cinta takkan peduli

Takkan menuntut atau memaki

Cinta adalah cermin yang membuatmu bisa melihat diri sendiri;

Diri yang sejati

 

Cinta yang Beda

Kita berbeda, tapi bisa jatuh cinta

Pencipta kita sama, kita yang sebut Dia berbeda

Kita yang berbeda sekarang saling jatuh cinta

Pencipta kita sama, kita masih sebut Dia berbeda

 

Kita berbeda, tapi disatukan cinta

Entah sampai kapan, sesaat atau selamanya

Kita berbeda, tapi sama perihal cinta

Bolehkah kita berharap bisa terus bersama?

 

Sebab Sang Pencipta ciptakan pembeda

Dia pun ciptakan cinta

Kita tak bisa menerka melampaui keterbatasan ini

Tapi bolehkah kita berharap bisa terus mencintai?

 

Ketika Jatuh Cinta

Aku melihat notifikasi ponsel, tersenyum

Aku melihat barang kesukaanmu, teringat

Aku melihat foto media sosialmu, terkesima

Aku melihat apapun tentang kenangan kita, rindu

 

Ketika jatuh cinta, dunia terasa berbeda

Tapi aku bersyukur karena kau orang yang tepat

Kau bilang, tak perlu sampai jatuh untuk merasakan cinta

Dan cinta tak sepatutnya membuat jatuh

 

Aku melihat dirimu, aku jatuh cinta

Selalu, berkali-kali

Padamu, orang yang sama

Ketika jatuh cinta, biar logika pecinta yang bicara

 

Doa-doa Cinta

Cinta, kudoakan kau sabar akan ujianNya

Kudoakan kau taat pada perintahNya

Kudoakan kau teguh jauhi laranganNya

Kudoakan kau berbaik sangka tentang takdirNya

Kudoakan kau percaya terhadap janjiNya

Kudoakan kau bertambah mencintaiNya

Kudoakan kau selalu

Kudoakan kau selamanya

 

 

Cinta yang Universal

Aku mencintaimu meski tak mengenalmu

Kau yang lantang menyuarakan kebenaran

Kau yang gagah mengawal kekalahan

Kau yang tak henti memperjuangkan yang kauyakini

 

Aku mencintaimu meski tak pernah bertemu

Kau yang gugur di medan perang

Kau yang dibunuh karena membela keadilan

Kau yang terus menanam meski diancam

Kau yang terus melaut meski disingkirkan

Kau yang terus membara dan selalu gagal dipadamkan

 

Cinta adalah Misteri

Sayangku, cinta adalah misteri

Entah dari mana ia datang

Entah ke mana ia pergi

Sains bilang otak amat kompleks

Tapi orang bilang kita memang punya hati

 

Sayangku, cinta tak perlu dipecahkan

Cukup mengalir bersamanya

Cukup berjuang karenanya

Cukup menjadi diri sendiri dengannya

Cukup bertekad ke versi sebaik-baiknya

 

Sayangku, cinta hanya perlu dialami

Jangan coba mengingkari

Sebab hanya akan timbulkan sesak hati

Jangan coba memaksa

Atau kau bisa kehilangan diri

 

Mencintai Khayalan

Bagaimana aku bisa menyatakan cinta ini

Aku tak berani menyapamu

Memandangmu saja tak mampu

Apalagi bicara mendalam denganmu

 

Aku hanya bisa mencintaimu dengan benar di lamunanku

Di sana aku bisa memandangmu

Bercanda denganmu

Menyatakan perasaanku setiap waktu

 

Pagi untuk Kekasih

Akan ada pagi untuk kita bersama

hingga siang kita harus sekolah

saat sore kita beraktivitas di rumah masing-masing

bertukar foto senja dari jendela

saat malam kita mengerjakan PR untuk esok hari

bersua lewat sambungan telepon

 

Tak apa jika tak bisa sepanjang hari

Selalu ada pagi untuk kita

Saling tersenyum dan menyapa

bergandengan tangan sejenak

Terpisah ke kelas masing-masing

 

Tak apa jika tak bisa setiap pagi

Lima dari tujuh lebih dari cukup

Untuk saling ekspresikan cinta

Sebelum fokus mengejar cita-cita

supaya nanti menjemput cinta kembali

 

Supaya nanti untuk kita tak sebatas lima pagi

Kita punya semua pagi

Kita bisa bersama sepanjang hari

 

Cinta yang Luka

Dahulu, mencintaimu adalah pasti

Sekarang pun masih

Bahkan nanti aku yakin sama

 

Yang berbeda adalah cintaku sudah luka-luka

karena jarak ini, karena waktu ini

Yang sama adalah luka-luka takkan kalahkan cinta

karena kepercayaan ini, karena kesetiaan ini

 

Kelak, mencintaimu adalah obat

bersamamu sembuhkan luka perlahan

Mencintaimu memang luka-luka

tapi tak apa, ini bukan mau kita

sungguh tak apa, kita bisa menyembuhkannya

 

Saputangan Jingga

Pekan olahraga membuat lelah

Cuaca cerah menambah lelah

Kausodorkan saputangan jingga

Kainnya lembut dan wangi aroma

 

Kupakai mengelap muka

sekalian sembunyikan merah

karena merah muda

suaramu adalah hijau paling teduh

semangatmu kuning yang lebih cerah

 

Saputanganmu kubawa

Hendak kucuci setulus jiwa

di bawah langit paling biru

unguku kini terhapuskan

 

Dering Telepon Istimewa

Seminggu belum berjumpa

Memang sibuk dirinya

Harusnya sudah biasa

Kenapa rindu tak sepenuhnya terima?

 

Seminggu belum bertukar kabar

Susah sinyal di sana

Harusnya bisa bersabar

Kenapa ego mulai menyiksa?

 

Aku ingin tidur saja

Suara panggilan mengagetkanku

Dering ini hanya untuknya

Hatiku sudah gembira

 

Mendefinisikan Cinta

Gara-gara membaca buku, kita ingin mendefinisikan cinta

Membaca pendapat para tokoh

Merasa itu benar semua

Kita ingin punya definisi sendiri

 

Cinta adalah, cinta bagaikan

Cinta ibarat, cinta merupakan

Cinta yakni, cinta yaitu

Cinta cinta cinta, sebenarnya apa?

 

Bukankah kita saling cinta?

Tapi rumit sekali menjabarkan cinta

Padahal cinta sesederhana kita

 

Bukan Kupu-kupu

Kalau metamorfosis nyata pada manusia

Perasaanku bukan ulat yang menuju kupu-kupu

Memang indah, tapi kurang tepat untukku

Perasaanku bukan kecebong yang menjadi katak

Memang bisa lebih dari satu alam, tapi masih kurang terasa benar

 

Cintaku adalah rayap yang menjadi laron

Tak ada sesal berubah

Mencintai takdir meski hanya hidup sehari

Damai bersama cahaya bernama kamu

 

Panggil Aku

Kalau kau sedih, kabari aku

Kalau kau marah, ceritakan padaku

Kalau kau gusar, ungkapkan saja

Kalau kau sakit, sampaikanlah

Kalau kau bosan, cari aku

Kalau kau takut, aku siap bersamamu

Kalau kau kesepian, ada aku

panggil aku kapan pun kau mau

sebab kau tak boleh terluka sendiri

sebab aku ingin menemani

 

Halo, Mantan

Halo dari partner “Kita”mu yang sudah pensiun

Apa kabar?

Kudengar besok kau menikah

Aku ingin datang tapi tidak kau undang

 

Kau tahu, aku masih aku dua tahun lalu

Yang masih menyayangimu

Yang masih kausalahpahami

Aku melarangmu ini itu sebab bahaya untukmu

Pergaulan tidak sehat hanya akan merugikanmu

 

Bukannya aku tidak menerima apa adanya

Tapi tidakkah kau ingin menjadi lebih baik bersama?

Sudahlah, kau salah menafsirkan sikapku hingga sekarang

Kau memilih dia yang bagimu pengertian

Aku mendoakan kebaikan untuk kalian

 

Hanya Kita yang Tahu

Ya, hanya kita yang tahu

Kacapiring di depan fakultas itu kita yang menanam

Cuilan di tembok laboratorium karena aku tak bisa menangkap bolamu

Di taman kita mengubur alat laboratorium yang pecah

 

Biar hanya kita yang tahu

Pernah tersesat ke ladang saat mencari jalan pintas untuk pulang

Mencampur teh dan cokelat ternyata manis yang menyengat

Berbalas lagu di motor takkan jelas

Sebab pendengaran terhalang helm dan angin

 

Tetap hanya kita yang tahu

Tapi entah siapa dari kita yang terus ingat

Tetap bersamamu adalah yang terpenting

Dari semua yang bisa terkenang

 

Gombal

Jangan percaya jika ia tak bisa hidup tanpamu

Jangan terbujuk jika kamu mengalihkan dunianya

Jangan tergoda jika katanya kamu paling indah

Rayuan klasik semacam itu biasanya terbukti dusta

 

Pilih saja aku yang sungguh-sungguh

Yang juga jijik menggombal pasaran

Aku bisa hidup tanpamu, tapi tanpamu takkan terasa sama

Kamu tidak mengalihkan duniaku, kita punya dunia masing-masing

Kita hanya membuat ruang baru untuk cinta

Kamu bukan yang paling indah, tapi untukku kamu adalah yang paling tepat

Aku tak peduli kamu di mata yang lainnya

 

Berbalas Pujian

Kamu tak perlu seimut idol Jepang

Jangan kuruskan dirimu selangsing girlband Korea

Jangan termakan godaan alat kecantikan agar sesuai standar Asia

Jadilah dirimu, lakukan secukupnya saja

Aku cinta kamu tak memandang hal itu

 

Kamu tak perlu selucu artis-artis ibukota

Jangan berusaha setampan oppa Korea

Jangan terhasut guyonan roti sobek yang katanya paling disuka

Jadilah dirimu, lakukan secukupnya saja

Aku cinta kamu tak memandang hal itu

 

Tentang Pergi

Jangan jauh-jauh

Jangan lama-lama

aku gampang rindu

 

Tapi tak apa pergi

Asal kelak kembali

Aku selalu cinta

 

Terima Kasih

Kau datang ke hidupku, membawa arti

Kau mengisi hariku, jadikan berwarna

Kau menemani langkahku, menambah alasan berjuang

Kau doakan suksesku, aku pun demikian

 

Kau menghalau sedihku, aku tak sendirian

Kau lengkapi bahagiaku, terasa makin berkesan

Kau redakan amarahku, pikiranku jernih kembali

Kau mencintai diriku, aku pun demikian

 

Terima kasih telah ada

Terima kasih sudah nyata

Terima kasih untuk cinta

 

Matahari Tak Tahu Hari

Siapa yang menyangkal jika kau bercahaya

Hangat bagi sesama

Bahkan bagi yang berbeda

Hanya kamu yang merasa dirimu berharga

 

Kau seperti matahari yang tak bedakan hari

Sinarmu sama, hangatmu juga

Kau adalah matahari yang membuatku jatuh hati

Tertarik gravitasi, terbakar reaksi

 

Di Dalam Cangkir Kopi

Menyeduh cangkir kopi berisi asmara

Meski pahit tapi nikmat

Sedikit manis walau gelap

Terasa ada candu

 

Barangkali di dalam cangkir tersebut terdapat cinta

Melarut dalam tubuh

Menembus dalam hati

Barangkali hadirmu lebih bermakna

 

Di dalam cangkir kopi

Terkandung cerita

Tentang dua anak manusia

Obrolkan masa depan di warung kopi

 

Melukis Rasa

Aku tidak tahu bagaimana cara melukismu

Seindah apa yang kurasakan padamu

Warna apa yang paling mewakilimu

Goresan seperti apa yang tepat menggambarkanmu

 

Pada akhirnya, kanvasku bersih tanpa apa-apa

Namun warna putih itu menyimpan segalanya

Lebih mengerti dari yang kuduga

Biar kau kulukis di hati saja

 

Sebuah Nama

Namamu adalah kata paling indah

Yang terucap dari lisanku

Namamu adalah suara paling lembut

yang kudengar di telinga

Namamu adalah doa untuk semesta

yang kuharap aku adalah salah satu muaranya

 

Salam dari Jauh

“ada salam dari dia,” kata temanku

Wajahku tersipu karenamu

Aku merindukanmu

Samakah yang kaualami?

 

Kita yang jauh berbeda kota

Dalam setahun hanya jumpa beberapa kali

Salam yang kuterima adalah salah satu pelepas rindu

Selain komunikasi kita di layar maya

 

Samudera

Memilikimu adalah keberuntungan terbaik

Bersamamu adalah berkah terindah

Kau adalah samudera tempat mengalir seluruh cinta

Yang menyimpan kekayaan misteri

Dan keindahan bagi yang menyadari

 

Mencintaimu sesulit menjaga samudera

Tapi tak ada kata mustahil untuk cinta

Kau menjadi rumah segala gundahku

Pun masih tujuan semua harapku

 

Hari Kamis Turun Gerimis

Kamis sering gerimis

Kadang tak terduga, kadang bisa dikira

Langit memang suka bermain

 

Tak sampai hujan

Cuma basah mewangi

Namun keberadaanmu membuatnya romantis

Sepayung denganmu teramat manis

 

Tak apa jika terus gerimis

Kita tak kehilangan apa-apa

Kita punya lebih banyak bahan cerita

hingga tak habis-habis

 

Inikah yang Disebut Cinta?

Sorot indah dari bola matamu

kerlingan genit menawan hati ini

hadirmu seperti petir membelah bumi

 

Aku terperanjat

Sejenak rotasi seolah berhenti

Dikarenakan pesonamu, kekasih

Aku seperti jatuh ke palung terdalam di lesung pipimu

Terkesima akan keanggunan perilaku

Kau seolah-olah ciptaan yang sempurna

Tak bisa berhenti ku melihatnya

 

Aku bertanya pada hatiku, apa ini namanya cinta?

nyatakah cinta pandangan pertama

saat aku belum tahu namamu

Bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?

Bila mungkin ku ingin mengisi relung hatimu

 

Sekian puisi-puisi cinta dengan berbagai jenis cerita. Anda bisa menyampaikannya langsung atau memodifikasi dahulu. Pilih puisi yang Anda rasa terbaik untuk kisah cinta yang dijalani. Dari puluhan puisi di atas, mana yang paling mewakili perasaan Anda?

49 Puisi Cinta Untuk Kekasih, Orang Tua , Dll (Lengkap)

 

 

 

 

Exit mobile version