6 Contoh Naskah Drama Yang Simpel Tapi Alurnya Bagus

Contoh Naskah Drama – Drama adalah bentuk karya seni yang diungkapkan melalui peran, mulai dari gestur, mimik, sampai dialog. Umumnya drama tersusun atas babak-babak cerita sesuai tema yang dipilih. Dari suatu drama, penonton dapat mengambil pesan dan terhibur oleh alur serta karakter tokoh. Untuk mempersiapkan pertunjukan yang matang, perlu ada naskah drama supaya dipahami setiap pihak terkait.

Naskah drama penting karena menjadi acuan dalam berlatih, walau para tokoh juga bisa berimprovisasi pada kondisi tertentu. Jika dalam praktik sekolah setiap anak bisa ikut berganti peran, pada pertunjukan sebenarnya terdapat sutradara dan tim-tim lain alias melibatkan lebih banyak orang. Sebagai referensi dan gambaran awal Anda, di bawah ini tertulis beberapa contoh naskah drama singkat dengan aneka tema, antara lain romantis, komedi, lingkungan, renungan, dan sedih. Jumlah tokoh yang terlibat pun bervariasi antara empat sampai sembilan orang.

 

Contoh Drama Romantis Empat Orang

CONTOH DRAMA ROMANTIS EMPAT ORANG

Judul: Aku dan Kau, Kekasih

William dan Siva sudah hampir empat tahun berpacaran. Tepat di peringatan jadian ke-4 nanti, William berencana melamar sang Pacar. Namun sebelum membawa keluarganya, William hendak berbincang dari hati ke hati dengan orang tua Siva. Malam hari sepulang kerja, ia bertamu ke rumah Siva.

 

Ayah Siva         : “Kamu jadi ingin melamar anak saya? Memang sudah sesiap apa?”

William           : “Iya, Om. Saya rasa dari segi fisik, mental, dan finansial sudah siap.”

Ayah Siva         : “Betul? Kehidupan menikah itu tidak selalu mulus loh.” (menyeruput kopi)

William           : “Memang, tapi kami yakin bisa melewatinya bersama.”

Ibu Siva            : “Siv, setahu Ibu karirmu sedang bagus-bagusnya. Yakin kamu sudah bisa melepasnya untuk menjadi istri?”

Siva                  : “Lah kenapa Siva harus melepas sesuatu kalau bisa menjadi keduanya? Kak Willy dan Siva bersepakat kalau kami sama-sama bekerja sambil mengurus rumah tangga.”

William           : “Begitulah, Tante. Jangan khawatir. Siva tidak perlu membuang karir atau cita-cita. Malah kami bisa merintis target baru bersama.”

 

Ayah dan Ibu Siva saling pandang, sedangkan Siva mencomot satu buah kastengel yang tersaji di atas meja.

Ibu Siva            : “Selama kamu sanggup sih tidak apa-apa, Siv. Tapi jangan keasyikan kerja sampai lupa kasih kami cucu ya, hehe.”

Siva                  : “Ibu looohh. Tenang, nanti ada saatnya kok kalau kami sudah siap.”

Ayah Siva         : “Anak tunggal Ayah sudah gede.”

Siva                  : “Iya dong, Yah.”

Ayah Siva         : “Teman-teman sekolahmu sudah pada punya anak, makanya Siva nanti jangan kayak anak-anak. Nurut sama Nak William. Dia imam kamu.”

Siva                  : “Meski pernikahan tampak seperti itu, tapi kami berusaha menghilangkan budaya relasi kuasa. Siva dan Kak Willy partner yang saling komitmen. Ayah Ibu tenang saja, kami saling menghargai.”

William           : “Kami tidak ingin rumah tangga berasas ketundukan, tetapi kesalingan. Semua berdasarkan kesepakatan dan komunikasi transparan. Kami akan berpondasi cinta yang setara.”

Siva                  : “Ayah, Ibu, yakin dulu sama pilihan kami. Nanti bisa lihat sendiri. Kalau ada koreksi atau nasehat bisa disampaikan.”

Ayah Siva         : (diam sejenak) “Bu, anak kita benar-benar sudah dewasa.”

Ibu Siva            : “Iya, Pak. Menantu kita juga bisa dipercaya.”

 

 

Contoh Drama Komedi Lima Orang

CONTOH DRAMA KOMEDI LIMA ORANG

Judul: Kisah Kerja Kelompok

Pada siang hari sepulang sekolah,  Anjar, David, Lina, Eva, dan Marsha sedang berkumpul bersama di depan kelas. Rencananya, nanti sore mereka akan belajar bersama tentang mata pelajaran yang sulit.

Marsha            : “Huh, besok ada kuis mata pelajarannya Pak Rahman.”

Anjar               : “Hah, Pak Rahman?! Itu mata pelajaran susah banget, gaes!”

David               : “Aku juga belum belajar, ya ampun! Mana pelajarannya susah pula!”

Lina                 : “Gimana kalo nanti kita belajar bareng?”

Eva                  : “Boleh tuh, tapi kita mau belajar bareng dimana?”

Sejenak mereka berlima berpikir untuk mencari tempat yang nyaman untuk belajar bersama.

Anjar               : “Gimana kalo di rumah si Lina aja? Atau di Perpustakan Kota mungkin?”

Lina                 : “Di rumahku aja gapapa, kok. Selama gak hujan ya, teman-teman.”

David               : “Okay, baiklah nanti sore jam 4 kita ke rumah Lina ya, teman-teman.”

 

Sorepun tiba. David, Eva dan Marsha juga sudah tiba di rumah Lina. Akan tetapi, Anjar belum datang. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore.

Lina                 : “Astaga, mana sih si Anjar? “

David               : “Iya, padahal ini sudah jam 4 sore loh.”

 

Tiba-tiba Anjar lewat di depan rumah Lina dengan menggunakan seragam sekolahnya.

Anjar               :  “Teman-teman, ayo kita berangkat! Kita sudah terlambat!”

David               : “Woi, Anjar! Ada apa denganmu? Ini masih sore, Njar!”

Eva                  : “Njar, kamu kenapa, sih? Ini masih sore loh, mana kamu pakai seragam kayak mau sekolah aja.”

Anjar pun terdiam lunglai dan perlahan mengjampiri teman-teman mereka.

Anjar               : “Astaga teman-teman, sekarang ternyata masih sore!”

Marsha            : “Anjar Anjar, kok bisa sih kamu mau ke sekolah lagi? Kamu ngigau?”

Anjar               : “Enggak tahu, aku tadi bangun kaget. Aku kira aku telat sekolah, aku kira masih pagi juga. Soalnya jam di kamarku mati.”

Lina                 : “Makannya Njar, kalo tidur siang itu jangan lama-lama. Kalo lama ngigaunya tambah parah, loh.”

Lina, David, Eva, dan Marsha tak henti-hentinya menahan gelak tawa karena kelucuan Anjar. Anjar pun hanya terdiam malu dan menggaruk-garuk kepalanya, mereka berlima akhirnya mulai belajar bersama.

 

Contoh Drama Seram Enam Orang

CONTOH DRAMA SERAM ENAM ORANG

Judul: Rintihan Minta Tolong

Pada malam yang sepi, Pak Harun, Pak Nyoman, dan Pak Kardi sedang melakukan ronda malam di Desa Pelukis. Mereka sedang bermain kartu, menunggu Wayan dan Petrus yang sedang keliling kampung.

Pak Harun       : “Haha, saya dapat flush!” (menunjukkan kartu di tengah permainan).  “Pak Nyoman, giliran Anda!”

Pak Nyoman    : “Astaga, saya tidak punya. Silahkan, Pak Kardi!” (meneguk kopi)

Pak Kardi         : “Uhh… saya juga tidak punya. Ngomong-ngomong, di mana Wayan dan Petrus? Biasanya mereka di sini. “

Pak Harun dan Pak Nyoman saling bertatapan, seakan tidak tahu jawaban yang harus diberikan kepada Pak Kardi.

Pak Nyoman    : “Entahlah, yang jelas mereka sedang berkeliling kampung sekarang. “

Pak Harun       : “Ya, semoga mereka tidak bertemu dengan para lelembut di sebelah rumah Pak Made.”

Pak Nyoman    : “Apa maksud Pak Harun?”

 

Tiba-tiba, Wayan dan Petrus datang sambil lari terengah-engah.

Wayan             : “Astaga, tolong-tolong!”

Pak Kardi         : “Loh, ada apa ini? Apa semua baik-baik saja Yan, Trus?”

Petrus              : “Uhh… Pak Kardi!” (Berhenti dengan nafas yang terengah-engah) Di sana… Di sanaa…. (menunjuk ke samping rumah Pak Made)

Pak Nyoman    : “Ada apa di sana?”

Belum selesai Wayan dan Petrus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Pak Harun langsung pergi ke samping rumah Pak Made. Ia khawatir ada suatu hal yang berbahaya bagi keselamatan warga Desa Pelukis.

Pak Harun       : “Pak, coba saya lihat dulu siapa.” (Mengambil senter dan pergi ke samping rumah Pak Made)

Pak Kardi         : “Pak Harun, tunggu!”

Pak Kardi tak sempat mengejar Pak Harun yang sudah terlanjur ke samping rumah Pak Made. Pak Harun langsung menyalakan senter ketika mendekati samping rumah Pak Made yang kosong tak berpenghuni.

Pak Harun       : “Astaga, sepi sekali rumah Pak Made!” (Berjalan perlahan sembari mengarahkan senter ke segala arah)

(Sreek… srekk… srekk) Tiba-tiba terdengar suara gesekan yang berasal dari alang-alang dari samping rumah Pak Made. Dan munculah seorang wanita muda dengan menggunakan kebaya putih yang lusuh dan berwajah pucat ke arah Pak Harun.

Pak Harun       : “Siapa itu?!” (Menoleh ke kanan kiri sembari menggerakkan senternya)

Wanita                        : “Pak Harun… tolong saya, Pak!” (Mendekat ke arah Pak Harun)

Pak Harun       : “Sii… siapa kau?!” (Pak Harun ketakutan dan gemetar di sekujur badannya)

Wanita                        : “Pak Harun… Pak Harun…” (Menjulurkan tangan ke arah pundak Pak Harun)

Pak Harun       : “Haah… haaah… tolong… tolong saya” (Pak Harun ketakutan dan berteriak histeris)

 

Pak Harun pun terbangun, ia menyadari bahwa ia sedang berada di pos kamling bersama Pak Nyoman, Pak Kardi, Wayan, dan Petrus.

Pak Harun       : “Yaa Allah, saya mimpi buruk!” (Sadar dan terbangun dengan napas yang terengah-engah)

Pak Nyoman    : “Waduh, Pak Harun. Barusan tidur kok sudah mimpi buruk.” (Meneguk kopi dan bermain kartu)

Petrus              : “Nah makanya, Pak. Sini gabung main sama kita, jangan lupa nyeruput kopinya.” (meneguk kopi)

Pak Harun perlahan mulai bangun dan tersadar dari mimpi buruknya. Namun, mitos tentang arwah gadis belia di dekat rumah Pak Made memang benar adanya. Kisah itu pula juga menjadi buah bibir dalam lingkungan masyarakat Desa Pelukis.

 

Contoh Drama Lingkungan Tujuh Orang

CONTOH DRAMA LINGKUNGAN TUJUH ORANG

Judul: Tanggung Jawab Siapa?

Empat sahabat beda prodi tengah menghabiskan waktu ishoma siang di gazebo kampus. Mereka adalah Tata (Teknik Kimia), Leni (Ilmu Sosial), Dewi (Teknik Industri), dan Randu (Administrasi Bisnis).

Randu              : “Duh, gawat, kok makin hari yang ada makin banyak bencana. Himpunan gue besok galang dana buat banjir. Ikut yuk!”

Dewi                : “Sori nih, Ndu. Jam segitu ada rapat UKM.”

Leni                 : “Tapi kalau dipikir-pikir, bencana dipengaruhi manusia gak sih? Contohnya tebang hutan, ngerusak ekosistem air, buang sampah sembarangan, terus apalagi ya?”

Tata                 : “Emang. Ribet tau kalau dipikir makin jauh. Hutan ditebang buat bangunan, malah kata dosen gue penduduk tambah banyak lahan tambah sedikit.”

Randu              : “Manusianya juga suka buang sampah sembarangan. Katanya puluhan tahun lagi jumlah plastik di laut bakal lebih banyak ketimbang jumlah ikan. Ngeri banget.”

 

Diskusi terusik oleh bunyi perut Leni. Tiga sahabatnya menahan tawa.

Tata                 : “Sini gue yang cari cilok. Siapa aja yang mau titip?”

Leni                 : “Trims, Ta. Cuma mendadak kesel sendiri aja sama kita, sebentar doang udah mau menyumbang 4 sampah plastik bungkus dan satu kresek.”

Dewi                : “Aha, pakai ini saja. Wadah danusan UKM yang jualannya sudah habis.” (Menyerahkan kotak plastik pada Tata)

Randu              : “Mantap, bacot doang tanpa action gak bakalan make sense.”

Tata                 : “Sip. Gue beli cilok 20 ribu buat kita berempat ya.”

 

Tata membeli cilok langganan di abang gang samping kampus.

Mamang Cilok            : “Tumben bawa wadah, Jang?” (memasukkan cilok ke wadah)

Tata                 : “Iya, Mang. Mau mengurangi sampah plastik pribadi. Hehe.”

Mamang Cilok            : “Bagus itu. Mamang juga pengen tapi ya gimana. Susah teh pedagang kecil jauh dari plastik. Ujang teknik kan, ada info temuan plastik ramah lingkungan?” (menerima uang Tata)

Tata merasa tertampar. Sebelum sempat menjawab, seorang anak SD datang beli cilok.

Anak SD           : “Mang, dua ribu nggih. Ora pedes.” (membuang dua bungkus ciki terkenal ke tempat sampah)

Mamang Cilok            : “Siap.”

Tata                 : “Nuhun, Mang.”

Saat berjalan ke kampus, Tata dilewati oleh mahasiswa yang membawa sekardus air mineral naik motor. Ia memakai kaos panitia seminar tertentu.

Panitia             : “Untung keburu beli air lagi, pesertanya membludak.” (menggumam)

Tata                 : Kalau kita nyoba zero waste tapi produsen zero action susah. Meski ada adat jaga tanah, kalau dikalahkan karena uang bakal musnah. Pemerintah perlu bikin regulasi, akademisi juga harus terus meneliti yang pro rakyat dan lingkungan. Alam harus dijaga bersama. (Berkata dalam hati)

 

Contoh Drama Renungan Delapan Orang

CONTOH DRAMA RENUNGAN DELAPAN ORANG

Judul: Terjerat Rantai

Bertempat di salah satu arisan RW, para ibu sedang bergosip ria.

Ningrum          : “Jeng, olshop Jeng Vio kayaknya barang palsu deh. Murah gak wajar.”

Echi                 : “Masa’ sih? Biasanya kalau pesen dari Batam memang murah gila tapi ori.”

Nada                : “Ya kan kita gak tau sumbernya. Aku pernah beli skincare eh kulitku merah terus jerawatan.” (menepuk pipi yang sudah sembuh)

 

Seminggu kemudian di depan TK areal kompleks. Ibu-ibu berbincang sambil menunggu anak mereka pulang.

Echi                 : “Mamanya Sakura belakangan ini kucel. Kan bisa malu-maluin suaminya.”

Helena             : “Si Ratu biasanya juga cuek, tapi ini keterlaluan deh.”

Vio                   : “Jangan-jangan rumah tangga mereka lagi tidak harmonis.”

 

Lima hari kemudian, salah satu RT mengadakan senam pagi. Sembari menunggu instruktur mereka mengobrol santai.

Nada                : “Ada yang tahu kenapa Bu Ningrum belakangan ini pulang malam terus.”

Tere                 : “Mungkin lembur atau sibuk proyek, atau pacaran dengan bos.”

Ratu                 : “Dih amit-amit, dia mentang-mentang cantik kok sembarangan.”

 

Tiga hari kemudian, seluruh ibu di RW berkumpul membahas rencana wisata. Mereka bertempat di rumah Ibu RW yang memiliki anak perempuan kelas 11 SMA bernama Agni. Ibu RW kebetulan berhalangan karena ada diklat untuk ASN.

Agni                 : “Sebelumnya maaf, Ibu-ibu sekalian. Saya harus ke sekitar sekolah sebentar untuk mengambil fotokopian modul. Ibu-ibu silakan berdiskusi. Kalau ada unek-unek mari saling mengungkapkan supaya tahu jalan terbaik.” (Agni pun mohon diri)

Tere                 : “Iya juga ya, kalau diam atau ngomong di belakang terus mana tahu kebenarannya.”

Helena             : “Pada akhirnya kita cuma terjebak dalam rantai prasangka.”

Ningrum          : “Dan untuk mengakhirinya kita harus benar-benar bicara.”

Echi                 : “Ayo ayo sebelum bahas jalan-jalan kita saling mengoreksi dulu. Setelah diungkap selesai, gak perlu ada dendam.”

Pada khirnya para Ibu se-RW saling bicara dan mengetahui kebenaran cerita. Ganjalan di hati telah terpuaskan lalu menghilang. Senyum ringan terkembang untuk satu sama lain.

 

Contoh Drama Sedih Sembilan Orang

CONTOH DRAMA SEDIH SEMBILAN ORANG

Judul: Kasih Tidak Merisak

Sebulan usai MOS SMA, di kelas 10-F sudah terbentuk kelompok-kelompok tertentu. Ada kelompok berisi gamers, siswi modis, kutu buku, dan lain-lain. Walau begitu ada seorang siswi bernama Krisan yang amat pendiam, lengkap dengan aura suram. Krisan tidak memiliki kawan dekat, bahkan kadang dirisak oleh siswa-siswi lain.

 

Thalia              : “Halo, Krisan.”

Krisan              : “Ya.”

Thalia              : “Ke kantin bareng yuk!”

Krisan              : (menggeleng)

Kejora              : “Sudah, Thal. Kamu gak perlu mengajak dia. Sama kami aja.”

Pipit                 : “Iya. Kamu juga sombong banget jadi anak.” (menatap Krisan sinis)

Thalia              : “Uhm, maaf ya ganggu. Lain kali yuk bareng!” (menatap Krisan dengan tatapan tidak enak, lalu tersenyum hangat. Krisan ikut tersenyum tipis)

 

Sepeninggal Thalia dkk, Krisan kembali membuka buku matematika. Kemudian beberapa siswa masuk dan menghampiri Krisan.

Doni                 : “Krisan, senyum dong. Kalau gitu kayak Sadako.” (nada meledek)

Krisan              : “Biar.”

Yudha              : “Jual mahal amat, cantik juga kagak. Lusuh dan bau lagi.”

Varo                : “Haha, yang penting sombong dulu. Jelek dan miskin bukan masalah.”

Krisan              : “Oke. Jangan ganggu.” (Mata tidak beralih dari buku)

Yudha              : “Sok pinter baca buku, padahal nilai juga mepet KKM.” (Merebut buku Krisan, lalu melemparnya ke sudut ruangan)

Krisan tidak merespons mereka dan langsung mengambil bukunya.

 

Hari terus berlalu. Krisan masih saja terkucilkan di kelas, tapi ekspresinya tetap biasa saja. Ia tidak memiliki kawan dekat, bahkan Rosetta, teman sebangkunya meski tidak ikut merisak tapi belum banyak mengajak bicara. Krisan juga jarang mengikuti acara kelas kecuali yang mendesak seperti kerja kelompok. Ia menjadi bahan gunjingan hampir seluruh kelas. Namun entah bagaimana tidak ada guru yang tahu situasi ini, mungkin karena Krisan tampak seperti anak anti sosial biasa.

 

Pada suatu hari, Rosetta memberanikan diri mengajak Krisan bicara non formal sebelum bel masuk berbunyi.

Rosetta            : “Krisan sering buru-buru pulang ya.”

Krisan              : “Bertugas menjaga adik.”

Rosetta            : “Wah, ternyata Krisan penyayang. Namun paling tidak kamu harus mengurus diri juga. Kalau rapi pasti cantik.”

Krisan              : “Terima kasih, tapi tidak sempat.”

Pipit                 : “Halah, bilang saja malas atau tidak menganggap penting sekolah.” (Menyahut dari bangku belakang)

Erik                  : “Biasanya tuh paling tidak miskin tapi pintar atau cantik. Jangan borong semua kekurangan dong.”

Yudha              : “Jangan-jangan kamu anak manja yang karena mengurus adik saja keteteran. Hiii aku tidak menduga.”

Doni                 : “Eh, kalian sudah dong. Menurutku ini keterlaluan. Kamu tidak apa-apa, Krisan?” (berjalan ke bangku Krisan)

Krisan hanya mengangguk, mengambil tas dan keluar kelas. Ia sempat berkata pelan yang Cuma didengar Rosetta dan Doni.

Krisan              : “Ros, Don, terima kasih.”

 

Di ujung koridor, Krisan bertabrakan dengan Thalia yang baru saja sampai sekolah. Tanpa mengetahui siapa yang ditabraknya, Krisan meminta maaf dan pergi. Thalia baru pulih dari keterkejutan saat Krisan sudah jauh. Di lantai ada binder kecil yang tampaknya jatuh dari tas Krisan. Thalia pun memungutnya.

 

Air mata Thalia menetes ketika membaca isi binder yang ternyata buku harian tersebut. Halaman terakhir bertuliskan:

“Adik belum bayar buku. Aku sedih. Mama belum pulih dari sakit sejak tahun lalu. Papa pergi dengan wanita lain. Keluarga Mama menyalahkanku terus. Nilaiku belum membaik. Mungkin kebanyakan part time untuk membelikan buku adik dan bayar SPPku. Takut mau minta kerabat.”

6 Contoh Naskah Drama Yang Simpel Tapi Alurnya Bagus

Tinggalkan komentar