45+ Contoh Puisi Hujan Tentang Kenangan Indah dan Kesedihan

Puisi hujan – Selain senja, mungkin hujan juga menjadi salah satu momen yang memberikan kenangan tersendiri bagi sebagian orang. Entah itu merupakan suatu momen kerinduan atau bahkan sebuah momen yang menyebalkan.

Dari hujan, banyak seniman menciptakan karya yang terinspirasi oleh adanya hujan. Hujan menjadi anugerah tersendiri bagi setiap orang. 

Untuk seseorang yang terbiasa mengungkapkan suatu momen lewat puisi, berikut ini adalah puisi-puisi karangan dari beberapa seniman yang mungkin bisa mewakili sensitif perasaan pembaca. 

Kumpulan Puisi Hujan

Di Dalam Senandung Hujan

titikdua.net

*****

Aku berpuisi di bawah sinyal dari langit

Di dalam senandung hujan

*****

Wahai alamku

Hujan menyampaikan bau rindu yang lama terpendam

Ranum dan merekah selaksa salam dari doa

Aku padamu

*****

Wahai alamku

Bila di sana hujan maka aku titipkan pesan

Melalui sayatan sayatan rintiknya

Yang berbaris menyalamimu

*****

Bila tidak maka lewat angin dan udara

Yang menyelimuti tubuhmu

Ku gelorakan salamku

Wahai alamku

*****

Aku berpuisi di bawah sinyal dari langit

Di dalam senandung hujan 

*****

Embun 

www.idntimes.com

*****

Perihal hujan,

Aku tertarik pada embun

Embun yang berada pada sebuah kaca jendela

Memperlihatkan jejak tetesan air hujan

Dan dingin yang menjadikannya buram

*****

Perihal embun,

Kerap kali aku menggunakan jari ini

Menuliskan sebuah nama

Atau serangkaian kata

Mungkin tak berguna

Karena hanya sementara

Tetapi setidaknya aku melepaskan sedikit kerinduan

*****

Perihal rindu,

Jika kamu adalah embun

Aku selalu menantikan hujan itu datang 

*****

Aku terdiam dalam hujan 

www.islampos..com

*****

Saat itu aku terdiam

Melihat tatapannya

Yang kosong menatap hujan

*****

Kau tak apa?

Tanyaku perlahan

Lagi bingung ya?

Tebakku sok tahu 

*****

Masih menatap hujan

Ia menggeleng,

Berkata,

*****

“Melihat hujan aku merasa tenang

Meski angin bergemuruh,

Halilintar meraung

Air – air itu tetap berjatuhan

Beriringan dengan irama

Tenang”

*****

Kami berdua terdiam 

Bersama menatap hujan

*****

Mentari Senja

www.hipwee.com

*****

Aku keluar

Ku lihat matahari yang terbenam

Tenggelam

Menghiasi wajahmu

*****

Terjebak Hujan

titikdua.net

*****

Apakah kamu pernah terjebak hujan?

Yang tak tahu arah untuk berteduh

Apakah kamu pernah terjebak kerinduan?

Yang tak tahu kepada siapa jika mengeluh

*****

Sekali- kali cobalah dengan sengaja

Terjebak hujan

Agar kamu mengerti

Terjebak itu bukan hal yang menyenangkan

Meski bagimu itu adalah bagian dari permainan

*****

Setahuku rindu bukan jebakan

Tetapi karenamu yang memberi harapan

Membuatku terjebak bersama hujan

*****

Gelisah Dalam Alunan Rintik Hujan

www.hipwee.com

*****

(Oleh: Ardhi Dwi Pranata)

Geliat senja menutup aktivitas

Lalu lalang kendaraan menyesaki jalanan

Pedagang kaki lima tampak berbenah

Awan pun bermuram durja

*****

Kabar itu menggelisahkan pikiran

Dalam parodi jalanan menemani perjalanan

Kelap kelip lampu persimpangan mengusik pikiran

Awan pun bergelagar

*****

Rintik hujan mulai turun

Lambat namun pasti kaca mobil mengembun

Derit roda terdengar serak

Kabar itu masih menghantui

*****

Gelisah berteman rintik hujan

Asa memecahkan kabar itu

Alunan rintik mengalun dalam telinga

Sedikit regang pikiran ini

*****

Hujan 

www.idntimes.com

*****

(Oleh : Rosdiana N H)

Kehadiranmu menyejukkan hati

Dengan senyum mu yang begitu berarti

Menggerakkan jiwa yang  tak ku mengerti

Karena kamu lah yang ku nanti

*****

Meski dengan sekilas perjumpaan

Bersyukur karena ada kebersamaan

Meninggalkan kesan yang indah

Walau hanya sebuah impian

*****

Seperti malam yang kelam

Dalam suasana yang mencengkam

Hanya bisa berharap dalam diam

Untuk perasaan yang terpendam 

*****

Ada 

www.idntimes.com

*****

(Oleh : Muhammad Rajib Raka tirta )

Ada perasaan

Yang bahkan tak bisa

Diungkapkan dalam puisi

*****

Aku bertanya,

Mengapa?

*****

Namun, itu pertanyaan abadi

Tanpa jawab

Tanpa tanggap

Hanya senyap

*****

Aku coba mulai menulis namun

Ku rasa jemariku

*****

Mulai kaku

titikdua.net

*****

Karena

Ada perasaan

Yang bahkan tidak bisa

Di ungkapkan dalam puisi

*****

Kisah Katak

Kisah Katak

*****

(Oleh : Muh. Idsan, S. Pd)

Gendang bertabu di atas langit dengan gema yang memekakkan

Awan tak sanggup menahan beban yang menyesakkan

Musim hujan pun datang dan siap untuk di rayakan

Barisan katak terbangun dari peristirahatan panjang yang melelahkan

*****

Pasukan katak mendorong kura- kura yang  lamban

Membawa waktu

Di depan sana, ada hujan yang telah lama di tunggu

Sejauh mata memandang keberadaan itu

Jarak pula menyakiti jejak pada rasa yang pilu

*****

Dahaga telah mengikis kerongkongan

Panas mentari mengupas kulit yang kekeringan dan menghalangi jalan

Cepatlah menyingkir kura- kura yang menyebalkan

Kami katak, sang perindu hujan

*****

Sedikit lagi akan sampai di tujuan

Bersiap untuk bermandikan bulir- bulir bening harapan

Bertahanlah, sisa beberapa langkah lagi untuk di lawan

Sial hujan berhenti di depan pandangan

*****

 Hujan yang menyejukkan hati

puisi hujan

*****

Kehadiranmu begitu menyejukkan hati

Dengan senyum mu yang begitu berarti

Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti

Karena kamu lah yang ku nanti

*****

Meski dengan sekilas perjumpaan

Bersyukur karena ada kebersamaan

Meninggalkan kesan yang indah

Walau hanya sebuah impian

*****

Seperti malam yang kelam

Dalam suasana yang mencengkam

Hanya bisa berharap dalam diam

Untuk perasaan yang terpendam

*****

Seperti mendung tapi tak hujan

Seperti gerimis yang hanya sekilas

Ada apa dengan gerangan?

Memberi tanda tapi tak selaras

*****

Egokah jika aku kecewa?

Dengannya yang bukan siapa siapa

Bagai bulan dan matahari

Tak pernah menyatu meski berarti

*****

Reda Hujan 

www.islampos.com

*****

(Oleh : D I H)

Ku perhatikan kamu sering menikmati hujan

Dengan secangkir kopi

Lalu setelah mereda 

Kamu beranjak  pergi

*****

Ku perhatikan kamu sering memberi ungkapan 

dengan sebuah janji

lalu setelah ku percaya

kamu beranjak pergi

*****

dan kebiasaanku memperhatikanmu

Membuatku tersadar

Jika memang sebenarnya 

Kamu juga tak peduli

*****

Juga

Kamu tak pernah menunggu reda karena hujan

Tetapi hanya karena kamu ingin pergi

*****

Semestinya

Aku tak pernah menunggu sebuah jeda

Karena penantian

Tetapi hanya karena kamu yang pergi

Seperti ini 

*****

Jadikan Aku Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Afifatur Rohmah)

Jadikanlah aku hujan

Akan ku lukis kisah dengan muara air

Akan ku buat bendungan yang di penuhi cinta

Akan ku penuhi jiwamu dengan rintiknya rindu

*****

Ajari aku menjadi hujan

Agar aku bisa mengobati hausmu

Haus akan dentuman rindu

Mengalirkan kesejukan pada tubuhmu yang basah

*****

Ijinkan aku menjadi hujan

Aku ingin mengalir bebas di wajahmu

Aku ingin persembahkan musik dengan jatuhnya aku

Membuat alunan pada dinginnya cintamu

Tapi, ini janjiku

Tak akan ada petir yang membuatmu benci akan hadirku 

*****

Ibu Hujan

www.kompasiana.com

*****

(Oleh : Joko Pinurbo )

Ibu hujan dan anak – anak hujan

Berkeliaran mencari ayah hujan

Di perkampungan puisi hujan

*****

Anak – anak hujan berlarian

Meninggalkan ibu hujan

Menggigil sendirian di bawah pohon hujan

*****

Anak- anak hujan bersorak girang

Menemukan ayah hujan

Di semak semak hujan

Ayah hujan mengaduh kesakitan

Tertimpa tiga kilogram hujan

*****

Ayah hujan dan anak – anak hujan

Ber ramai ramai menemui ibu hujan

Tapi ibu hujan sudah tidak ada

Di bawah pohon hujan

*****

“kita tak akan menemukan ibu hujan di sini

Ibu hujan sudah berada di luar hujan” 

*****

Tiga Indera

www.gurupendidikan.co.id

*****

Dan jika

Telingaku jatuh cinta

Pada siulan burung itu,

*****

Atau saat

Mataku terpesona

Pada warna- warni bulunya,

*****

Dan juga

Saat hidungku terbuai

Merasa aroma burung surga

*****

Aku katakan

“bersatulah !

Maka akan lebih indah,

Dan beritahulah!”

( M R R )

*****

Hujan Gersang

puisi hujan

*****

Gersang pucat tak bernyawa 

Seperti daun di musim kemarau

Ini hati telah mati rasa

Menunggumu yang terus berlalu

*****

Angin berhembus menerjang dedaunan

Terhempas jauh keras tak terarah

Kau yang selalu menjadi kekuatan

Kini tak ada lagi perlahan musnah

*****

Inilah puncak di musim kemarau

Menyambut hujan berhawa dingin

Beginikah rasanya mencintaimu?

Kau yang telah jadi milik orang lain 

*****

Mungkin Cukup

www.romadecade.org

*****

(Oleh : Muhammad Rajib Raka tirta)

Telah ku katakan 

Kepada sebuah pohon rimbun

Bahwa aku

Mengagumi helai daunnya

*****

Juga kokoh batang dan akarnya

Kalau saja

Ia bertanya

*****

Pohon itu terdiam

Tatapan bisunya merengkuhku

Angin berkata

“Pohon itu tersenyum”

*****

Dan aku kembali

Ke rumah

Dengan sebatang pena

Di atas kertas

*****

Setitik Hujan

puisi hujan

*****

Mata yang selalu bersinar

Indah senyum yang di sunggingkan

Kepiawaian dalam berbicara

Anugerah Tuhan yang sungguh sempurna

Elokkah aku inginkannya?

Langkah hati ingin berada di dekatnya

*****

Alangkah indah bila tak ada benteng

Rasa hati ingin aku sampaikan

Dari perasaan yang terdalam

Yakin ini cinta dalam hati akan ku nyatakan

*****

Aku hanyalah setitik air 

yang akan menguap di kala terik

membuat langit mendung berawan

hingga mengundang hujan untuk turun ke bumi

*****

Seperti itulah siklusnya

Hanya dapat memandangimu dari kejauhan

Menyimpan sejuta rasa yang terpendam

Hingga akhirnya  hanya menjadi sebuah angan

*****

Tak bisakah aku menjadi hujan?

Yang  di setiap rinainya membawa kesejukan

Tak bisakah aku menjadi pelangi?

Yang membuat hidupmu menjadi lebih berarti

*****

Rindu Murai

akubiomed.com

*****

(Oleh : Muhammad Rajib Raka tirta)

Awalnya

Aku berharap

Murai itu tetap diam

Dan tidak terbang

*****

Kini aku takut

Murai itu terbang

Dan menjauh

*****

Aku pemburu

Yang hendak mengamati

Murai tersebut

Tanpa perlu menembaknya

*****

Dalam Selasa Kedua

thegorbalsla.com

*****

(Oleh : Muhammad Rajib Raka tirta)

Dalam sebuah buku,

Aku dengar Morrie

Berkata,

*****

“Cinta adalah

Satu satunya perbuatan

Yang rasional”

*****

Betapa terkejutnya aku

Saat aku tahu

Bahwa aku percaya

Sejak awal 

*****

Hujan Kecil

www.idntimes.com

*****

(Oleh : Joko Pinurbo)

Hujan tumbuh di kepalaku

Hujan hanya penyegar waktu

*****

Memancur kecil – kecil

Mericik kecil – kecil

Di hiasi petir kecil – kecil

Hujan masa kecil

*****

Tetes Cinta

(Oleh  Yuhana Rahayu)

Mega kelam menembus malam

Laksana tetes raksa yang terus menerjang

Panas namun terasa dingin

Hingga kulit tak mampu untuk bernyanyi

Tetes setiap tangisan sang mega berhambur

Mengubur segala memori yang terkubur

Bagai guruh yang mengadu dengan kilatan sambar

Mengikat segala yang terdengar

Tetes- tetes cinta membasahi kalbu

Meriap dalam dekap asa yang tersirat

Mengoyak rasa luka yang terpampang nyata

Menumpah segala tangis haru bahagia

Tetes – tetes cinta mencampur adukkan resah dalam dada

Cintaku kelam namun manis

Tapi aku tak mampu mengatakannya cinta

Karena hanya aku yang mencinta

*****

Musim Hujan Berselimut Duka

puisi hujan

*****

(Oleh : Fakhri Fikri)

Rangkaian kata ku susun menjadi aksara

Bercerita tentang musim hujan berselimut duka

Dimana senja tak lagi jingga

Dimana mentari enggan menampakkan muka

*****

Kala itu, langit menangis berlinang air mata

Guntur beretorika tanpa bisa mengucapkan sepatah kata

Indonesia berduka

Bapak pluralisme bangsa telah tiada

*****

Siklus Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : D I H)

Apakah kamu tahu siklus hujan panjang?

Yang memulai penguapan dari laut hingga turun hujan di daratan

Apakah kamu tahu siklus hubungan yang panjang?

Yang memulai pengharapan dari awal hingga berhujung pada penantian

*****

Kamu pernah berkata,

Jika hujan membutuhkan tahapan siklus transpirasi

Yaitu penguapan

Yang berasal dari tumbuhan

*****

Tetapi kamu lupa berkata, 

Jika aku juga membutuhkan sebuah siklus serupa transpirasi

Agar menguapkan kerinduan yang berasaan dari mana?

Baiknya jangan kamu tanyakan 

*****

Lirihan Nirwana

puisi hujan

*****

(Oleh : Armielda Rayya )

Cepat- cepatlah menari

Langit telah melempar berkah

Menujumu yang menanti dengan tangan terbentang

Dinginkan hati lewat  lirih suara cakrawala

Yang pecah membanjiri  tapakan air mata

*****

Berhentilah berduka

Dia telah memanggilmu

Lewat bisikan malu – malu

Yang mengubur nestapa

*****

Kelinci Bersayap Putih

Kelinci Bersayap Putih

*****

(oleh : Muhammad Rajib Raka Tirta)

Wusshh..

Cepat nian kau terbang

Rambut – rambutmu putih, hai kelinci

Maukah kau kemari? Ke rumah renta kami?

*****

Tak perlu di tanyakah ?

Mungkin kau anggukkan kepalamu, oh kelinci lucu

Kau mau? Bermain sebentar di rumah ini?

Oh, mengapa kau menggelengkan matamu?

Aku menunduk. Aku di tolak

*****

Wusshh..

Kau melesat dengan sayapmu

Ah, kelinci manis

Kau hanya imaji

Tapi mengapa kau nyata?

Hebat ya aku bermimpi saat terjaga

*****

Pernahkah kau bermimpi?

Menyentuh bintang dan mencumbu bulan?

Tak perlu aku bertanya

Kau dengan mudahnya pergi ke bulan

Tapi aku?

Huh, untuk melihatmu saja aku tak mampu

Ayo kemari

*****

Biarkan aku bersamamu

Kelinci bersayap putih

Yang turun dari tanah

Yang muncul dari bawah langit

*****

Hujan dan Senja

www.hipwee.com

*****

(Oleh : Rosdiana N H )

Seperti mendung tapi tak hujan

Seperti gerimis yang hanya sekilas

Ada apa gerangan?

Memberi tanda tapi tak selaras

*****

Egokah jika aku kecewa?

Dengannya yang bukan siapa- siapa

Bagai bulan dan matahari

Tak pernah menyatu meski berarti

*****

Kehadiranmu menyejukkan hati

Dengan senyummu yang begitu berarti

Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti

Karena kamu lah yang ku nanti

*****

Meski dengan sekilas perjumpaan

Bersyukur karena ada kebersamaan

Meninggalkan kesan yang indah

Walau hanya sebuah impian

*****

Memori Tetesan Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh: Setia Erliza)

Sehelai daun hijau panjang

Menutupi mahkota dari derasnya hujan

Menuju tempat lautan ilmu

Beberapa tahun yang silam

Saat aku duduk di bangku Sekolah dasar

Memori daun pisang menjadi bait kisah haru

Menempak kisah di musim penghujan

Basah?

*****

Ayah, derasnya hujan hujan menerpa tubuhku

Sambil menggigil kau genggam tanganku

Jelas terlihat dari tangan keriputmu

Menuntunku di bawah derasnya hujan

*****

Daun pisang mengukir kisah haru

Ciptakan kenangan indah tak terhingga

Antara aku, ayah dan hujan 

*****

Jangan Tanya

puisi hujan

*****

(Oleh : Muhammad Rajib Raka Tirta)

Jangan tanya

Dan jangan pernah

Basi kalau bilang cinta

Cupu

Kalau bilang sayang

*****

Tapi diam

Di kata sombong

Jangan tanya

Tidak usah 

Tak perlu mengambarkan

Seluas semesta

Tak perlu mengandaikan

*****

Seharum bunga kesturi

Tak perlu berkata

Seindah langit cerah

Jangan tanya

Dan tidak perlu bertanya

Kau tidak pernah percaya

*****

Percuma jika aku jawab

Kau tak perlu bertanya

Aku sebenarnya… 

Cukup

Kau seharusnya sudah tau

Ya benar

Hanya pengagum punggungmu

*****

Kisah Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Rieneke Cahyani)

Aku menanti dirimu

Seperti air menghujam sendu

Terus jatuh mengalir kelu

Hujan berteriak pilu

Tak kau dengar dalam surau

Jiwa ku termenung kelabu

Menunggu cinta semanis madu

Hingga usai balutan waktu

Hujan seminggu berlalu

Tersisa petrichor syahdu

*****

Seperti  Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Michra Fahmi)

Mereka bilang aku aneh …

Karena aku selalu menunggu air turun dari langit

Mereka juga bilang aku gila

Karena senang bercerita pada hujan

Mereka selalu menjauh ketika rintik menyapa

Sementara aku selalu menyambutnya dengan riang

*****

Kau benar tentang hujan, ada aroma tanah yang terjamah

Dan selalu menggugah rasa rindu antara kita

Aku harap kau tau pernah lupa pada hujan yang mempertemukan kita

Saat bersama tersenyum memandang langit hitam dan derasnya hujan

*****

Kau ajarkan aku menjadi seperti hujan di malam hari

Atas harapan dan rinduku pada seseorang

Yaaaah…

Hujan yang tak pernah lelah turun meski malam

Dan tak pula mengharapkan datangnya pelangi

*****

Kata Bapak Tentang Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Sinta Nuriyah Dewi)

Temaramnya mentari menemani sepinya pagi

Mendung yang menggulung tak luput berpartisipasi

Rintik yang menitik dari langit mengeluarkan aroma sedu sedan

Basah yang merambah menambah hujan kepiluan

*****

Menengadah  pada titik demi titik yang terasa menggelitik

Nuraniku berharap tiap jatuhannya kan hapus tiap pelik

Segar yang tergambar pada definisi indraku

Menghantarkan kenyamanan tentraman jasad ruhaniahku

*****

Sebuah nasehat pernah banyak bisikkan

“Hujan yang langit karuniakan,

Kerap suratkan kesukacitaan,

Tak jarang siratkan peringatan”

*****

Pelangi

puisi hujan

*****

(Oleh : D I H)

Kapankah kamu terakhir melihat pelangi?

Apakah kamu pernah menunggu pelangi setelah hujan?

Kapankah kita bertemu kembali?

Apakah kamu pernah menunggu kembali setelah penantian?

Pelangi itu indah tetapi tak lama

Dia juga akan menghilang

Aku tak pernah menjadikanmu seperti pelangi

Tetapi mengapa kamu juga menghilang ?

*****

Hujan Di Ternate

puisi hujan

*****

(Oleh : Abi N. Bayan )

Kau tumpah lagi di gelasku

Dan aku mesti menyeduh

Sisa – sisa teh dari cangkirmu

*****

Malam ini, aku kembali

Memelukmu dalam diam

Sebelum asap rokok mati dari tanganku

*****

Ada gigil tiba – tiba renyah di ruangan ini

Melesat keluar jendela

Dan kau sibuk merapikan sesak

*****

Dinginmu oh Hujan

www.kompasiana.com

*****

(Oleh : Laili Gadis Hasanah)

Malam itu aku masih menunggu 

Lautan harapan ku gantungkan penuh bisu

Rintik hujan seolah tahu kisah kita haru membiru

Ah , biarlah penantian ini seakan membatu

Mentari kadang harus mengalah demi hujan

Membiarkan mereka menyatu dengan alam ketenangan

Biarlah hanya aku yang tak bertuan

Berdiri ragu seakan angin mampu menghempasku

Bertanya dan dapatkan jawaban dalam angan semu

Berharap rintik hujan segera menyampaikan pesanku

*****

Aku lelah, lesu, tak mampu lagi bertahan

Hanya mampu berharap tuhan cepat menegurmu

Wahai pemilik dinginnya hati 

Ketuklah pintu reot yang telah lama ku tuju

Aku lelah terus menunggu 

Dinginmu seakan tak pernah pergi kala mentari membakar kisahku

Dinginmu tetap sama

*****

Ku Sambut Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Ely Widayati)

Detik waktu berlalu meninggalkan kawan

Kemarau yang mendera mulai bosan

Tanaman rimpang menyembunyikan dahan

Rumput kering menahan lapar

*****

Bilakah hujan datang menghampiri

Walau turunnya rinai kecil

Mereka senang akan harum hujanmu

Membawa kesejukan riang dalam kalbu

*****

Rintik tawamu menyuburkan tanah

Meski di sini ada air dalam kulah

Namun aliran hujan lebih berkah

Air alam ciptaan Allah 

*****

Ku sambut musim hujan ini

Dengan senyuman tulus dari dasar hati

Agar alam tidak ternodai

Agar hujan tidak di caci

*****

Titisan Hujan Bersama Nyanyian Syahdu

www.suara.com

*****

(Oleh : Jannatul Ula)

Kilau mentari menyinari bumi dengan tandus alam yang menerjang

Seketika awan merubah wujud menjadi mangsa kegelapan

Mengharap curahan air yang menabur

Rintihan suci menghidupkan dunia indah nan syahdu

*****

Memanggil cinta bagai akar menjalar untuk tetap bersemi

Menghias bunga mekar di iringi musik gemercikanmu dari kelayuan

Menghias alam dengan biasan mentari

Sebagai tangga cinta sang bidadari

Butiran embun menempel di ujung dedaunan

Membentuk indah bagai mutiara bening

*****

Rintihan hujan butir suaramu menyejukkan imajiku

Dalam keheningan anganku terbang entah kemana bersama angin

Disertai melodi indah suaramu berpantul dengan hembusan angin

Membuat tubuh ini membeku

Dengan hawa yang kau curahkan 

*****

Walau Habis Terang

Walau Habis Terang

*****

(Oleh : Nur Rohimah)

Sekawanan awan hitam telah puas

Menumpahkan segala noda yang mengungkung

Kini dengan pakaiannya yang putih bersih

Kembali ke peraduannya

*****

Rama- rama mengepak sayap

Kumbang menyeruput setetes air

Yang menggelayut di kelopak bunga

Dedaunan mengibas- ngibas tubuhnya yang kuyup

*****

Aroma tanah renyai – renyai menyeruak

Pelangi datang berpendar

Dalam bias warnanya

Ia melambaikan senyum

*****

Wasiat Gelandangan

okdiario.com

*****

(Oleh : Puspita Idola Pirsouw)

Jika langit runtuh lebih dulu hujan ku sentuh

Sembunyi jauh di saku lusuh

Kala lolongan lapar dan nyawa bertengkar

Bayi hujan menggelepar dalam mulut ternganga lebar

Berulang kali aku mati suri untung hujan ganti nasi

*****

Lihat siapa peduli aku

Jalanan mencumbu bulan jauh dari kata warisan

Bayangpun sekadar pinjaman kembali pada Tuhan

*****

Hei lihat siapa peduli aku

Gadis liar compang tegar berhati lapang

Belajar kejamnya hidup sayang tiada meredup

*****

Jikalau langit runtuh

Tiada lagi yang ku sentuh

Selain hujan senandung peluh

Ganti asi ibu dan bait keluh 

*****

Hujan Kelabu

www.idntimes.com

*****

(Oleh : D I H )

Ingatkah aku pernah berbicara tentang kelabu?

Bahwa putih tetap terang, hitam tetap gelap

Namun abu tak selamanya kelabu

*****

Dan 

Ingatkah sekarang aku berbicara tentang rindu?

Bahwa angin tetap berhembus,

Hujan tetap bergenang

Namun rindu tak selamanya berlalu

*****

Tahukah?

Kelabu berasal dari hitam yang sedikit 

Dan putih yang lebih banyak

*****

Tahukah?

Rindu berasal dari pertemuan yang sedikit

Dan kenangan yang lebih lebih banyak

*****

Tentang kelabu,

Kamu sangat berarti

Sebab selalu menjadi pertanda jika hujan akan datang

*****

Tentang rindu, 

Kamu sangat berarti

Sebab selalu menjadi pertanda

Jika kamu telah menghilang 

*****

Hujan : Hanya Setitik Air

puisi hujan

*****

(Oleh :  Rosdiana N H)

Aku hanyalah setitik air

Yang akan mengap di kala terik

Membuat langit mendung berawan

Hingga mengundang hujan untuk turun ke bumi

*****

Seperti itulah siklusnya

Hanya dapat memandangimu dari kejauhan

Menyimpan sejuta rasa yang terpendam

Hingga akhirnya hanya menjadi sebuah angan

*****

Tak bisakah aku menjadi hujan?

Yang di setiap rinainya membawa kesejukan

Tak bisakah aku menjadi pelangi?

Yang membuat hidupmu menjadi lebih berarti

*****

Kisahku dan Hujan

Kisahku dan Hujan

*****

(Oleh : Ghivan Christine )

Dalam ayunan langkah, yang semakin lambat

Dalam helaan napas, yang semakin dalam

Dalam desir angan, yang kian menjauh

Dalam desah hati, yang kian membiru

*****

Entah harap, entah khayal yang di genggam

Entah duka, entah suka yang di kecap

Hanya tetes hujan yang paham

Hanya tetes hujan yang menjawab

*****

Dalam biru yang kian menyatu

Di derasnya tetes hujan

Tak ada kata yang terucap

Tapi selaksa makna terjawab

*****

Kisahku, sama dengan hujan

Datang dan pergi tanpa pamit

Menghembuskan asa dan juga nestapa

Hingga hanya dingin  yang tersisa

*****

Rintik Hujan 

puisi hujan

*****

(Oleh : D I H)

Pernahkah kamu memperhatikan tetesan rintik hujan?

Yang jatuhnya tak terhitung jumlahnya?

Pernahkah kamu memperhatikan tetesan rintik hujan?

Yang jatuhnya membawa rindu pada akhirnya?

*****

Perihal rintik,

Sebuah kata yang mampu menampung genangan

Perihal rindu,

Sebuah kata yang mampu menampung kenangan

*****

Rintik,

Ku perhatikan terkadang kamu mereda 

Namun terkadang menjadi hujan yang lebat

Lebat yang membuat pakaianku basah

*****

Rindu,

Ku perhatikan terkadang kamu mereda 

Namun terkadang menjadi rasa yang hebat

Hebat yang membuat perasaanku resah

*****

Rinai Memberai Air Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Pety Rahmalina) 

Rinai datang padaku saat diri tengah menepi

Renyai senyawa hidrar memecah sunyi

Segala impresi  tentangnya menguar memenuhi imaji

Kembali pada ilusi tuk berpuisi

*****

Rangkaian asa yang ku cipta terberai

Dia pergi ketika rinai datang memenuhi semesta tak berisi

Serenada pilu mencipta elegi 

Nyeri yang kau berikan, 

Ku resapi dalam – dalam saat hujan

Sembilu menjalar setiap kali rinai berjatuhan

Sembunyikan air mata redam jerit kekecewaan

Dalam cinta yang tiada berupa

Rinai memberai

*****

Rinai memberai rasa

Dalam rindu yang membuat tiada

Rinai membelai rasa

Jadi tiada yang membuat rindu

*****

Hujan Bersamamu 

www.hipwee.com

*****

(Oleh : Handiyani)

Aroma itu, waktu itu dalam senja terbenam

Hujan memihak dirimu bersemayam

Rintiknya menjelaskan wajah bergumam

Tanah basah menutupi jejak yang dalam

*****

Jelas benar rintik hujan bersamamu

Menjadi pemisah saat temu

Bertukar air mata semu

Hujan menyelimutimu

*****

Kehadiran  Hujan 

puisi hujan

*****

Kehadiranmu begitu menyejukkan hati

Dengan senyum mu yang begitu berarti

Menggetarkan jiwa yang tak ku mengerti

Karena kamu lah yang ku nanti

*****

Meski dengan sekilas perjumpaan

Bersyukur karena ada kebersamaan

Meninggalkan kesan yang indah

Walau hanya sebuah impian

*****

Seperti malam yang kelam

Dalam suasana yang mencengkam

Hanya bisa berharap dalam diam

Untuk perasaan yang terpendam

*****

Seperti mendung tapi tak hujan

Seperti gerimis yang hanya sekilas

Ada apa dengan gerangan?

Memberi tanda tapi tak selaras

*****

Egokah jika aku kecewa?

Dengannya yang bukan siapa siapa

Bagai bulan dan matahari

Tak pernah menyatu meski berarti

*****

Kisahku Tak Merindu Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Bukamaruddin)

Aku adalah tanah kota

Kemarau abadi yang di hampiri aspal dan beton

Aku tak bisa lagi menjadi laki – laki peneduh

Seperti pohon di pinggir jalan yang sekarang enggan berdaun

*****

Aku tak bisa lagi menjadi laki – laki lumpur

Seperti kesederhanaan tanah dan kenangannya

Di sini kisah kasih membantu

Tunggu tak lagi patuh

Rindu tak lagi butuh

*****

Jika engkau memang tiba

Maka ku minta gerimismu

Karena hanya itu yang membuatku tak meluap

*****

Jika engkau tetap datang

Maka ku cinta pelangimu

Karena hanya itu yang tak membuatku mengeluh 

*****

Rintik Rindu Novena

puisi hujan

*****

(Oleh : Dikha Nawa)

Lembar keenam, ku mulai lagi untuk mengingatmu

Tentang rinduku yang belum tersampaikan

Kala percik- percik gerimis menyapaku

Di antara aroma remahan tanah yang basah

Betapa sulitnya itu

Begitu berat menahan lajunya

*****

Entah, di rintik ke berapa

Ku kan mengeja bayangmu

Membahasakan senyum mu saat itu

Di sini pun masih terasa sama

Hampa serupa kesendirian ini

Hingga tak sanggup lagi, hatiku menahan keingkaran ini

*****

Andai saja ku mampu 

Menghalau lajunya waktu

Andai saja saat itu

Tak bersumpah untuk membencimu 

*****

Kenyataan di Balik Hujan

puisi hujan

*****

(Oleh : Tista Apryandani)

Pergilah …!

Ujarku membara laksana petir membelah sunyi

Kian dusta terlanjut aku hempas melukai hati

Ku tak pikir sejauh apa langkah kaki pergi

Melambai pergi raga tenggelam tak peduli

*****

Surat terbuang…

Secarik kertas teruntai menari di atas pena

Hujan bersaksi dikau menusuk jantung mata

Sedih di kala duka hamba menyapa relung raga

Berpaling kau pergi silahkan saja

Hatiku rela

*****

Bersabar…

Insan hati terkelupas Sang sarang perih terluka

Tinggalkan dikau bagai telur pecah tak berguna

Mencintaimu laksana jasad di balik keranda

Relung menangis kian terpecah sakit merana

*****

Tak peduli …

Berlarilah sebahagia kau kejar kapas berkabur

Enggan ku lari melangkah menggapai gerimis cinta

Sesak hati menggema kaku tenggelam dalam kubur

Bibir tak sudi berampun dikau kejam seribu dusta

*****

Sajak Pertemuan Hujan Senja

puisi hujan

*****

(Oleh : Windarsih)

Guguran air menyelubungi rona pipi senja

Mengembang senyum sepasang insan bertudung payung jingga

Bumi sudah di jamah resapan manis hujan senja

Usapan tangan di kala pintu – pintu langit terbuka

Magis hujan meniduri relung – relung  kerinduan

Pertemuan perpisahan silih berganti tanpa salam

*****

Bagai sebujur kilat membelah angkasa tak pedulikan masa

Setara air hujan kala rasa menjatuhkan lara

Menatap mata hitam pemegang gagang payung jingga

Ku larang melangkah sebelum tangis hujan reda

Mencari kening di antara helai rampai legammu

Mendaratkan rindu semasa kemarau bertahta padaku

*****

Sajak pertemuan di bawah kembang payung hujan

Teduhkan jiwa dua insan pemuja ritme tetesan

Memori penghujung Desember pelukan batas senja

Engkau dan aku meniduri rasa manis air dirgantara 

*****

Baca Juga Cerita Lucu

Sungguh puisi – puisi karya para seniman di atas dapat mewakili suasana di kala hujan. Terima kasih untuk pembaca yang telah membaca puisi tentang hujan ini. Semoga dapat bermanfaat. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.