7+ Contoh Cerpen Bobo yang Dapat Diceritakan Kepada Anak-Anak Anda

Cerpen bobo – Siapa yang tidak mengenal majalah Bobo? Bobo merupakan salah satu majalah anak terkenal di Indonesia. Sejak populer pada tahun 70-an, Bobo telah memberikan berbagai cerita yang dekat dengan anak. Jika Anda ingin bercerita kepada anak-anak, Bobo dapat menjadi salah satu referensi.

Cerpen Bobo Tentang Tanaman

Tanaman Jarak, Untuk Obat Sakit Gigiku

cerpen bobo

“Ibu, tanaman jarak itu tidak cocok di taman. Dila gak suka!” 

“Nak, ini adalah tanaman yang dititipkan oleh nenek.”

“Bu, tapi kan taman kita bisa jelek kalau ada tanaman jarak,” rengek Dila sekaligus mengeluh.

Nenek Dila bernama Ani. Rencananya,beberapa hari lagi Nenek Ani akan tinggal di rumah Dila dan ibunya. Sebelumnya, Nenek Ani telah mengirim beberapa polibag yang isinya bibit tanaman jarak. Ternyata, beliau meminta kepada Bunda supaya tanaman jarak tersebut ditanam di kebun mereka.

“Uhh… Nenek banyak maunya,” gumam Dila sinis.

Hus, jangan bilang begitu, Dila itu cucu Nenek yang paling di sayang. Biar nenek juga tambah sayang Dila, ayo kita bantu menyenangkan Nenek dengan menanam tanaman jarak ini,” bujuk Ibu.

Sebenarnya, Dila adalah gadis cilik yang sangat suka berkebun. Di taman rumahnya, banyak jenis bunga dan tanaman yang bisa dilihat, mulai dari pucuk merah hingga anggrek. Namun, ketika di kirimi tanaman jarak oleh Nenek, Dila langsung merasa tidak suka.

Menurutnya, tanaman jarak itu jelek karena bentuknya yang tak beraturan. Bunga tanaman tersebut juga sangat kecil dan hampir tak terlihat oleh mata.

Satu minggu kemudian, Nenek Ani pun datang. Dengan wajah yang bersemangat, Nenek langsung menghampiri dan memeluk Dila cucu tersayangnya. 

“Dilaaa, cucu Nenek!”

“Sudah kamu tanam tanaman jaraknya, Nak?” tanya Nenek.

“Iya, sudah kok, Nek.” sahut Ibu sembari menyalimi Nenek.

“Oh begitu… Lalu, gigi Dila sudah dicabut?” tanya Nenek seraya mengelus rambut Dila.

“Belum, Nek. Karena dokter giginya sedang tutup, besok mau kesana.”

“Oh, begitu. Hati-hati kalau makan, ya. Kalau masuk ke lubang, sakit lho rasanya.”

“Iya, Nek.”

“Nek, Dila mau makan opor ayam dulu, ya.”  kata Dila yang pergi ke meja makan.

Satu gigitan. Dua gigitan. Dan… nyuuutt! Ada beberapa makanan yang masuk ke lubang gigi Dila. Ia pun langsung merintih.

“Aduh, Buuu! Sakiitt! Hu..hu..hu…”

Ibu pun panik ketika mengetahui Dila merintih. Ia pun langsung memeluk putrinya. Tiba-tiba, Nenek Ani memegangi pipi Dila. Kemudian, ia meminta Dila untuk membuka mulut lebar-lebar.

“Dila, coba buka mulutmu, sayang.”

Dila merasakan sesuatu yang pahit di mulutnya. 

“Sabar, sayang. Sebentar lagi sudah tidak sakit lagi,” hibur Nenek sembari meneteskan getah jarak kedalam lubang gigi Dila.

Ternyata perkataan Nenek benar-benar terjadi. Tak lama kemudian rasa sakit pada gigi Dila mulai menghilang. Dila kemudian berhenti menangis dan keheranan.

“Nek, sekarang giginya tidak sakit lagi,” kata Dila sembari tersenyum.

“Alhamdulillah…” 

“Itu tadi apa ya, Nek?” Tanya Dila penasaran.

“Itu getah jarak, nak,” jawab Nenek kemudian.

“Itu, getah dari tanaman yang nenek minta ke Dila agar ditanam kemarin,” imbuh Ibu sambil menengok ke arah tanaman jarak yang ada di kebun.

“Ooo, iya iya,” seru Dila lega.

“Nenek mengirim tanaman itu karena kemarin Ibumu berkata bahwa gigi Dila sedang berlubang,” jelas Nenek.

Akhirnya, Dila paham alasan  Nenek meminta menanam tanaman jarak di kebun rumahnya.

Cerpen Bobo Tentang Kebun

Kebun Campur Baur

cerpen bobo

Pak Yono adalah ayah Dimas, beliau merupakan seorang petani di kebun pinggir desa. Ketika masa panen selesai, beliau  langsung menggemburkan tanah. Itu dilakukan agar tanah yang gembur dapat di tanami tanaman baru.

Pada saat akan menanam bibit, Pak Yono pun membuat galian pada tanah yang lurus. Galian yang ia buat juga tak hanya satu baris, tetapi ada beberapa baris, yang setiap jaraknya telah dihitung. Di setiap baris, nantinya akan di tanami dengan jenis bibit tanaman yang berbeda-beda.

Di akhir setiap baris galian yang sudah dibuat, tongkat kecil akan ditancapkan Pak Yono untuk menandai jenis tanaman yang akan ditanam.

Dimas ingin melakukan kegiatan bercocok tanam seperti ayahnya tersebut. Kebetulan, di samping rumahnya juga ada sebidang tanah kosong. Pak Yono mengizinkan Dimas untuk membuat ladang kecilnya sendiri. Dimas yang menanam di kebun kecil miliknya sendiri.

Dimas pun merasa senang. Mula-mula, ia membuat galur-galur di tanah yang baru digemburkan. Kemudian, ia membuka bungkusan yang berisikan bibit buah dan menebarkan bibit sesuai dengan galurnya masing-masing. Bibit wortel ditanam di jalur wortel, bibit cabai dan bunga Anggrek juga ditanam sesuai jalurnya.

Begitu selesai menebar benih, Dimas sangat gembira. Namun, tidak disangka hembusan angin membuat bibit tanamannya bertebaran lagi. Semua bibit yang Dimas tanam keluar dari tanah dan bertebaran tak beraturan di galur-galurnya.

Jadi, ada biji wortel yang tertanam di jalur tanaman cabai. Bibit cabai masuk kedalam jalur bunga anggrek. Bibit-bibit itu mendarat secara acak dan keluar jalur yang dibuat Dimas. Akhirnya, kebun Dimas pun menjadi kebun yang bercampur baur! Dimas dan Pak Yono hanya garuk-garuk kepala mengetahui hal tersebut.

Cerpen Bobo Tentang Puasa

Ayam Panggang

cerpen bobo

Ketika Denis pulang, cuacanya begitu panas. Sampai dirumah ia langsung berbaring lelah. Seragam masih menempel Di luar sana, cuaca sangat panas hingga terasa menyengat ke dalam kulit tubuh.

“Astaga, panasnya!” Denis mengeluhkan cuaca panas. Ia pun merasa lapar dan dahaga.

Panasnya membuat Denis tak kuasa menahan rasa lapar dan dahaga. Tak bisa dipungkiri perut Denis semakin tak bisa diajak kompromi dengan panasnya hari. 

Denis hampir lupa kalau dia sedang berpuasa. Ia melihat waktu berbuka juga masih lama, sekitar empat jam lagi. Dan perutnya semakin meronta-ronta untuk dimasuki suatu makanan.

Denis pun mulai memikirkan betapa lezatnya berbagai menu masakan Ibu yang kezat beserta es cincau yang begitu segar. Dan ia baru ingat sesuatu, ayam panggang ada di laci makanan!

“Aaaa … baru ingat, masih ada ayam panggang di lemari dapur!” ingat Denis dengan air liur yang mulai bertetesan. 

Lamanya waktu menuju berbuka puasa membuat Denis tak kuasa menahan rasa laparnya. Ia pun diam-diam menuju dapur. Namun, sebelum sampai di dapur….

“Mas Denis sudah pulang, toh?” tanya Rama, adiknya secara tiba-tiba.

Deg! Teguran Rama membuat jantung Denis berdetak kencang. Ternyata Rama ada disana. Bahaya jika sampai Denis ketahuan Rama untuk membatalkan puasa lebih cepat.

“Ibu belum datang, Ram? Kemana Ibu?” Denis kian menunjukkan alibinya dengan mengalihkan pembicaraan.

“Bunda ke Toko Jaya, Mas. Sedang belanja untuk masak buka puasa nanti,” Jawab Rama ringan.

Mengetahui kondisi belum memungkinkan, Denis kembali ke kamarnya dan tidur-tiduran lagi. Itupun ia masih menahan rasa lapar yang sangat dahsyat di perutnya. Ia masih menunggu kesempatan bagus untuk makan diam-diam.

Tap! Pintu kamar Rama kembali tertutup. Denis pun kembali mengendap-endap ke dapur untuk mencari ayam bakar. Ia membidik lemari yang berisikan makanan sisa sahur tadi pagi. Dan, ya! Ada ayam bakar, sayur lodeh, dan sambal bawang yang masih utuh disana. Denis tak perlu berpikir panjang untuk melahap habis ayam bakarnya.

Setelah melihat sekelilingnya, Denis langsung memakannya hingga tersisa tulang belulang dan sedikit daging. Denis begitu menikmati buka cepatnya. Tak tanggung-tanggung, ia juga mencampur dengan sambal bawang agar lebih nikmat. Itu sudah cukup bagi Denis untuk memuaskan tuntutan perutnya. Denis pun buru-buru masuk ke kamar dan berpura-pura tidur.

Beberapa saat kemudian, Ibu pulang ke rumah.

“Loh, Denis sudah pulang ternyata,” gumam ibu sambil melihat Denis yang sedang berpura-pura tidur. 

Tiba-tiba, Denis merasa ada yang aneh pada tenggorokannya. Ia merasa panas pada tenggorokannya hingga ia kesulitan bicara. Pun rasanya seperti terbakar oleh api yang menyala.

Dari dapur, Denis mendengar Ibunya berteriak. “Loh.. hei, kenapa ayam bakar dari Pak Ujang sudah habis?”

“Ayam bakar yang mana, Bu? sahut Rama yang keluar dari kamar menghampiri ibunya.

“Itu loh, yang ibu letakkan di tempat makanan, nak. Kok tiba-tiba nggak ada, ya?”

Denis yang awalnya diam-diam mendengarkan akhirnya terhenyak mencari minum. Tenggorokannya yang panas membuat ia merintih tidak jelas. Ternyata, itu akibat dari ayam bakar yang ia campur dengan sambal bawang.

Denis langsung berlari dan meminum segelas air putih di dapur. Setidaknya itu sudah cukup untuk melegakan tenggorokannya, walau ibu dan Rama akan mengetahuinya. Tak ada pilihan lain bagi Denis yang sudah kelaparan sejak tadi. Ia tak mampu menahan panasnya hari ketika berpuasa.

“Wah, ternyata ini yang menjadi tersangkanya, Bu, hihi,” Rama tersenyum sedikit mengetahui kakaknya telah tertangkap basah.

Denis hanya meringis sembari memegangi leher depannya. Di dalam hati ia merasa malu dan menyesal dengan perbuatannya barusan.

Yaaa … apapun yang akan dilakukan lama-lama akan ketahuan. 

Cerpen Bobo Tentang Makanan

Es Krim Tahu

cerpen bobo

Cuaca panas yang melanda pada siang ini, membuat Wawan berkali-kali mengeluh seperti cacing kepanasan. Sejak tadi ia telah berimajinasi untuk bisa memakan es krim yang sangat dingin, lezat, dan pastinya segar.

“Ah.. Pasti akan enak jika makan es krim saat siang yang panas ini, hmm…” gumam Wawan.

Kemudian, Wawan ingat kalau ia tak boleh keluar rumah sebelum Pekerjaan Rumah alias PRnya selesai. Ia pun bergegas mengerjakan PR dan berusaha berhenti memikirkan es krim kesukaannya.

“Aku harus menyelesaikan PR! Demi es krim!” Wawan termotivasi untuk menyelesaikan PR-nya dengan cepat. 

“Akhirnya, selesai!” seru Wawan. Ia sangat senang saat telah menyelesaikan PR-nya. Itu artinya, Wawan dapat keluar rumah dan membeli es krim atas izin ibu. 

“Bu, PR Wawan sudah selesai. Apa Wawan sudah boleh berangkat membeli es krim?” kata Wawan pada ibunya.

“Oh begitu. Boleh , nak. Kalau PR-mu sudah selesai, Wawan boleh pergi beli es krim,” jawab ibu sembari mengupas kentang.

“Asyik! Terima kasih, Bu!”

Wawan keluar rumahnya dengan riang. Ia bernyanyi sembari melangkah ke toko es krim favoritnya. Ia membayangkan kesegaran es krim buah dan cokelat. Setelah beberapa saat berjalan, ia pun sampai di toko es krim dekat rumahnya. Sayangnya Wawan harus kecewa …

Loh, toko es krimnya kok tutup?” kata Wawan kebingungan.

Wawan pun melihat ke sekitar toko tersebut. Ia sampai mengetuk pintu toko. Benar rupanya, toko tersebut memang tutup. “Yah … padahal aku sudah ingin sekali beli es krim. Kok tutup sih? Aduh! Di mana tempat lain yang jual es krim, ya?” lirih Wawan.

Wawan akhirnya berpikir mungkin di sekitar pasar ia bisa menemukan pedagang es krim. Ia pun akhirnya memilih pergi ke pasar, dan berharap untuk bisa merasakan kesegaran es krim kesukaannya.

Sesampainya di pasar, Wawan melihat makanan berbentuk persegi yang ditusuk dengan tusukan es krim. Warnanya cerah, Wawan pun langsung berpikir bahwa itu adalah es krim.Tanpa berpikir panjang, Wawan langsung membeli makanan itu,”Pak, beli satu, ya!”

“Wah, kelihatan enak. Pasti es krim ini segar sekali! Humm …” kata Wawan ketika penjual tersebut menyerahkan makanannya.

“Tapi, Nak,  yang itu bukanlah ….” Belum tuntas penjual itu berbicara, Wawan sudah terlanjur menaruh uang seharga yang disebutkan dan pulang.

Lalu yang selanjutnya terjadi adalah …

Makanan itu terasa lembut, dan kenyal. Otomatis, Wawan merasa ada yang aneh. Justru rasa gurih seperti ada bumbu masakan pada makanan itu. “Huh … kok es krimnya ada hangat dan gurih-gurih begini?” Wawan menggumam sendiri.

Ketika melihat lagi makanan yang ia pegang, Wawan pun sadar jika itu bukan es krim, tetapi tahu sutra!

“Ya ampuuuunn …! Hahahaha…” kata Wawan yang kaget dan tak kuasa menahan tawa. Untung rasanya enak, Wawan pun menikmati tahu itu dan merasa tak rugi membeli tahu tersebut.

 

Sepulang dari pasar, Wawan bertemu Ibu di teras …

“Gimana, Wan? Enak es krimnya?” tanya ibu.

“Enak banget ini, Bu. Es Krim rasa baru loh,” jawab Wawan sambil tertawa sedikit.

“Oh, iya kah? Rasa apa memangnya?” tanya ibu penasaran.

“Rasa tahu! Hihihihi,” jawab Wawan cekikikan.

Ibu dan Wawan pun langsung tertawa bersamaan. Mereka tertawa karena kelucuan Wawan yang salah membeli makanan. 

Cerpen Bobo Tentang Ulang Tahun

Kado untuk Roy

www.idntimes.com

Hari ini adalah hari ulang tahun Roy. Di suatu pagi, Roy sangat bersemangat untuk bermain sepeda. Iya, Roy berusaha merayakan hari ulang tahunnya selagi libur. Namun ketika akan naik sepeda, nenek Wati memberi kejutan spesial untuk Roy.

“Roy, kemarilah sebentar, Nak. Ini hari ulang tahunmu, kan? Nenek punya kado spesial buatmu!”

“Wah, asyik!”

Roy langsung beranjak menemui Nenek Wati. Beliau memberikan satu bungkusan kado menarik untuk Roy.

“Terima kasih, Nek!” ungkap Roy dengan senyuman lebar.

Karena tak sabar,Roy langsung membuka kado yang diberi oleh Nenek Wati. Wah, isi kado tersebut ternyata sebuah jaring! Roy pun langsung berlari senang dan menunjukkan hadiah tersebut kepada Ibunya.

“Bu, aku diberi hadiah jaring oleh Nenek Wati!”

“Wah, alhamdulillah! Nah, kita kan minggu depan pergi liburan ke pantai, kan? Di situ Kamu bisa menangkap ikan, kepiting, atau hewan lain dengan jaringmu,” kata Ibu sembari mengelus rambut Roy.

“Tapi, Roy ingin menjaring binatang sekarang, Bu,” ujar Roy tak sabar.

“Oh, begitu. Baiklah, coba kamu tangkap burung atau kupu-kupu dengan jaring barumu!”usul Ibu.

Roy pun berlari-lari di sekitar rumahnya dan mencari burung atau kupu-kupu untuk ditangkap. Beberapa saat kemudian, Roy dapat menangkap seekor kupu-kupu cantik. Kupu-kupu tersebut memiliki warna jingga, kekuningan, ditambah pola biru pada bagian sayapnya.

“Roy, coba masukkan ke toples. Kemudian lubangi bagian atas dan sampingnya!” usul Ibu ketika Roy pulang. Akhirnya jadilah toples berisi kupu-kupu tersebut.

Tak lama kemudian, ayah pulang dari kantor kerjanya.

“Wah, kupu-kupunya cantik! Kau hebat, Nak!” puji Ayah kepada Roy sambil menutup pintu rumah.

“Tunggu dulu, sepertinya kupu-kupu ini stress. Atau juga sakit. Mungkin dirinya ingin mencari bunga. Toh, itu habitat aslinya, bukan?” ujar Bunda.

“Hmm … sepertinya Ibu benar,” kata Roy agak gelisah. Roy kemudian menatap ayahnya.

“Ayah, apakah kita perlu melepaskannya lagi?” tanya Roy.

“Selama menurutmu itu yang terbaik,” kata Ayah bijak.

Akhirnya Roy melepaskan kupu-kupu cantik itu ke jendela rumahnya. “Terbanglah, kupu-kupu! Hiduplah dengan bebas dan carilah bungamu,” kata Roy.

Roy melihat kupu-kupu itu sangat gembira. Dari situ Roy belajar tentang arti kebebasan dan kebahagiaan dalam hidup.

Cerpen Bobo Tentang Persahabatan

Akibat Suka Membatalkan Janji

cerpen bobo

“Astaga, ini benar-benar mencurigakan,” pikir Amel. Ia datang ke sekolah dan melihat kedua sahabatnya, Maria dan Rani, sedang asyik mengobrol dengan Luna. Anehnya,  ini bahkan sudah terjadi selama tiga hari.

“Kita bertiga sekawan, bukan? Kenapa sih sekarang selalu ngobrol dengan Luna?” tanya Amel begitu penasaran.

“Mel, Luna kan selalu datang ke sekolah lebih pagi, seperti aku dan Rani. Jadi, ya… tidak masalah kami ajak bergabung saja.” Jawab Maria.

“Kamu kan sering datang agak siang, menjelang bel masuk,” sambungnya lagi.

“Iya, aku emang bangun siang. Jadinya ya … datang ke sekolah agak nelat,” sahut Amel.

“Makanya, kalau datang lebih pagi,dong. Biar kita bisa ngobrol sebelum memulai pelajaran,” saran Rani.

Suatu hari, Maria dan Rani mengajak Amel kerja kelompok. “Maaf ya, tidak ada supir yang bisa mengantarku kesana,” ucap Amel datar kepada dua temannya itu.

Di lain hari, kedua sahabatnya mengajak Amel lagi untuk menjenguk Tiara, teman sekelas mereka. Mereka sebelumnya berjanji untuk bertemu pukul 6 sore. Namun, ketika pukul 5 sore, Amel tiba-tiba membatalkan janji karena saudaranya ada di rumah. Hal senada juga selalu terulang berkali-kali. 

Suatu hari, giliran Amel yang mengajak kedua sahabatnya untuk berkunjung ke kedai kopi yang baru buka di daerah mereka. “Kopinya ada banyak jenisnya, loh. Dan bonusnya beli satu kopi gratis satu lagi.” bujuk Amel.

Amel telah membayangkan kenikmatan kopi capucino yang sangat manis dan beraroma. Rani dan Maria saling bertatapan satu sama lain.

“Maaf ya, Mel. Aku lagi capek nih. Lain kali saja ya,” ujar Maria menolak dengan halus.

“Iya, soalnya tidak enak kan jika kita sering membatalkan janji?” sambung Rani sarkas.

“Ya sudahlah, aku mau pergi sama adikku saja,” kata Amel seraya cemberut.

Sore itu, Amel beserta adiknya akhirya mengunjungi kedai kopi tersebut. Di tempat kain, Maria, Rani, beserta Tiara bersama-sama mengunjungi toko pakaian. Mereka sedang mencari baju yang bagus bersama-sama.

“Eh.. itu disebelah toko bajukan ada kedai kopi. Yuk, kita coba! Tadi aku lihat banner-nya, beli satu gratis satu,” kata Maria.

“Ehh tunggu.. kalau ketemu Amel nantij adi tidak enak. Dan tadi dia mengajak kita loh, tapi kita juga gak mau,” kata Rani.

“Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirin. Dia kan suka membatalkan janji. Aku juga nggak yakin kalau dia benar-benar ada di kedai kopi itu,” sambung Maria.

Akhirnya, Maria, Rani, dan Tiara masuk ke dalam kedai kopi itu. Ternyata, di sana mereka bertemu dengan Amel dan juga adiknya.

“Halo, kopinya enak, ya? Kita dari toko pakaian sebelah nih. Lalu aku ajak Maria dan Rani untuk mampir sebentar ke kedai ini,” kata Tiara menjelaskan.

Lah … Kenapa gak ngajak aku?” Tanya Amel dengan nada kecewa.

“Maaf, Mel. Kami pergi kesitu juga mendadak karena diajak Tiara,” jawab Rani.

“Lain kali kami akan mengajakmu, Mel. Tapi buang dulu sifat jelekmu yang suka membatalkan janji!” kata Maria bernada tegas.

Tiba-tiba, Amel merasakan kenikmatan kopi yang ia minum jadi berkurang. Ternyata, kebiasaan membatalkan janji berpengaruh buruk kepada hubungan persahabatannya. Amel pun berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan jeleknya itu lagi.

Cerpen Bobo Tentang Lukisan

Kasih Sayang Seorang Pelayan

cerpen bobo

Ada pelukis terkenal bernama Pak Hamdan. Beliau memiliki seorang pelayan yang begitu setia bernama Toni. Setiap pagi, Toni sudah siap membawakan berbagai peralatan melukis milik Pak Hamdan, seperti kanvas, cat minyak, kuas, dan secangkir kopi panas.

Pak Hamdan biasanya melukis di bawah pohon besar. Tempat yang sangat indah nan menyejukkan. Di sekitar pohon besar itu, terdapat rumput yang hijau dan berbagai tumbuhan yang berbunga warna-warni. Pak Hamdan sering melukis di sana agar memperoleh inspirasi.

Di sekitar pohon besar nan rimbun, terdapat kolam kecil yang permukaannya tertutupi oleh tanaman teratai. Suatu hari, Pak Hamdan baru saja menyelesaikan sebuah lukisan. Lukisan itu menggambarkan seorang anak kecil yang membelai bulu kucing.

Warna kucingnya abu-abu dan bergaris hitam. Anak itu terlihat begitu menyayangi kucingnya. Pun dengan kucing yang begitu nyaman di pangku oleh sang anak.

“Toni,kemarilah dan lihat lukisan saya!” ujar Pak Hamdan bangga.

“Wah, luar biasa  Pak! Sungguh, karya Bapak benar-benar indah! Pasti harganya sangat mahal jika dijual, Pak,” ujar Toni memuji karya majikannya.

Toni pun melanjutkan kegiatan seperti biasanya. Pak Hamdan juga tak berhenti memandang hasil karyanya. Kemudian, Pak Hamdan berjalan mundur. Ketika dilihat-lihat dari jauh, ternyata lukisannya kian indah ketika dilihat dari jauh.

Tanpa disadari, Pak Hamdan terus melangkah mundur hingga berada mendekati pinggir kolam. Melihat kondisi majikannya yang membahayakan, Toni spontan memindahkan lukisan yang ada di bawah pohon tersebut, ia pun mengangkatnya menjauhi pohon.

Melihat hal itu, Pak Hamdan langsung berlari mendekati pohon. Beliau kemudian memarahi pelayan setianya itu, “Apa-apaan kamu ini?! Berani-beraninya ingin merusak lukisan saya. Oh.. jangan-jangan kamu mau mencurinya?!”

“Tidak, Pak! Saya … saya …” jawab Toni terbata-bata, tetapi Pak Hamdan tak mau mendengarkan penjelasan apapun.

“Pergi kau dari sini! Saya tak membutuhkan pelayan seperti dirimu lagi!” bentak Pak Hamdan.

Di keesokan paginya, Pak Hamdan kembali ke bawah pohon besar dengan membawa karya kebanggaannya. Belum puas dengan kemarin, Pak Hamdan ingin melihat lukisannya dari jauh tanpa gangguan Toni lagi. 

Pertama-tama, Pak Hamdan memandang lukisannya dari dekat. Namun lama kelamaan, ia melangkah mundur lagi. Tanpa sadar, ia telah berdiri di tepi kolam.

“Sungguh, ini adalah karya yang sangat hebat! Air mataku seakan turun ketika memandangnya. Orang pasti akan tergerak hatinya untuk menyayangi binatang dan alam bumi! Dan mereka akan paham bahwa kasih sayang akan memikirkan kebahagiaan!” pikir Pak Hamdan, berkhayal terlalu tinggi.

Tanpa sadar, Pak Hamdan mundur kembali dan ….

BYUURR..

Pak Hamdan akhirnya tercebur ke dalam kolam.

“Toloong … tolong … whoaa!”  Pak Hamdan. Tanpa disangka-sangka, Toni datang untuk menyelamatkan majikannya di saat yang tepat.

“Pak Hamdan, ambil ini!” pinta Toni sambil mengulurkan tali tambangnya ke arah Pak Hamdan.

Setelah dapat diraih, Toni langsung menarik Pak Hamdan dengan segenap tenaganya. Setelah itu, Pak Hamdan pun berhasil diselamatkan. Sayangnya, Pak Hamdan tergeletak pingsan tak sadarkan diri.

Begitu sadar, Pak Hamdan telah menyadari dirinya dalam keadaan bersih. Ternyata Toni yang  mengurus dan merawatnya ketika pingsan.

“Terima kasih Toni! Engkau telah menyelamatkan saya!” kata Pak Hamdan setengah sadar. “Saya juga minta maaf atas segalanya!”

“Oh, Pak, tak masalah. Saya senang Bapak sudah selamat sekarang. Dan tentang kejadian kemarin, saya sengaja mengangkat dan memindah lukisan. Itu bertujuan untuk menarik perhatian Bapak,  agar Bapak tidak tercebur ke kolam, hehe. Kemarin Bapak juga sudah berada di tepi kolam. Jujur, saya khawatir Bapak akan jatuh ke dalam kolam tadi. Maka dari itulah saya sudah mempersiapkan tali tambang!” ungkap Toni sembari menuangkan teh untuk majikannya.

Akhirnya, Toni, si pelayan  setia mendapatkan hadiah dari Pak Hamdan dan bisa kembali bekerja. Pak Hamdan lantas semakin mengerti tentang arti  kasih sayang yang sesungguhnya. Pak Hamdan lalu memberikan hasil penjualan lukisan tersebut ke panti asuhan.

Baca Juga Pantun Romantis

Demikian contoh cerpen Bobo yang dapat diceritakan kepada anak-anak Anda. Cerita-cerita di atas penuh akan kisah inspiratif yang dapat mengedukasi. Selamat bercerita!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.